Eros Djarot Rilis Dua Single Bertema Politik

Jakarta, era.id - Nama Eros Djarot dikenal di industri musik sebagai sosok multitalenta yang dulu sempat melejitkan Badai Pasti Berlalu. Ia juga dikenal sebagai sosok di balik film fenomenal sepanjang masa Tjut Nyak Dhien yang memenangkan 9 piala di Festival Film Indonesia 1998, bahkan menjadi film Indonesia pertama yang tayang di Festival Film Cannes pada 1989 silam. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaanya kepada Indonesia.

Berangkat dari hal tersebut, sosok yang juga dikenal sebagai budayawan ini merilis dua lagu bertema sosial politik. Kedua lagu yang sekaligus ia nyanyikan itu berjudul 1 & 2 Bukan Segalanya dan Politisi Jaman Edan. Keduanya terinspirasi dari kondisi panas menjelang pemilu yang kental akan gesekan serta para elite politik yang melakukan korupsi berjamaah.

Melalui gelaran launching kedua single tersebut di Tartine Restaurant, FX Plaza, Jakarta, Senin (25/3/2019) siang, sosok yang pernah mendirikan Partai Nasionalis Bung Karno tersebut menunjukkan gelisahannya atas apa yang ia lihat dalam kondisi politik saat ini. 

"Saya ingin mengajak rakyat berpikir kembali akan kondisi seperti ini. Banyaknya terjadi perpecahan. Pertemanan lama rusak hanya karena pilihan 1 dan 2. Bahkan kehidupan pernikahan rusak, sampai ada yang bunuh-bunuhan. 1 dan 2 itu bukan angka segalanya yang permanen, hanya lima tahun sekali. Yang perlu dijaga adalah 170845 (kemerdekaan Indonesia)," kata Eros kepada era.id.

Dengan lagu ini, sosoknya dikatakan sebagai tokoh netral, di saat banyak seniman atau musisi dipecah, ia berapa di jalan tengah. Ia juga menolak dikatakan golput hanya karena merilis lagu ini.

"Ini bukan berarti saya golput. Saya akan menggunakan hak pilih saya nanti tanggal 17 April. Sebelum itu, saya tidak ingin ikutan debat yang memperkeruh suasana. Nah, ini yang ingin sampaikan," lanjut dia.

 

Sedangkan Politik Jaman Edan merupakan lagu kedua yang ia ciptakan untuk mengimbangi single pertama. Bila single pertama lebih ke arah pop balada yang mengandalkan petikan gitar akustik dan melodi akodion, maka single keduanya lebih 'edan' karena Eros Djarot tampil ala rocker.

Lagu ini menyoroti perilaku politisi yang banyak melakukan praktek-praktek transaksional dalam meraih posisi dan tujuan politik. Tidak hanya itu, banyak perilaku menyimpang yang sangat merendahkan martabat dunia politik di negeri ini. Terlihat di depan publik menyuarakan keadilan, kemakmuran, moral, namun di belakang mereka melakukan korupsi berjamaah.

"Harusnya mereka bekerja untuk kepentingan rakyat banyak. Tapi nyatanya mereka korupsi berjamaah. Itu kan edan," tambahnya. 

 

Dalam kesempatan tersebut, Bens Leo yang dikenal sebagai wartawan senior dan pengamat musik menyatakan sukacitanya akan kembalinya Eros Djarot ke dunia musik. Ia juga mengapresiasi kedua lagu tersebut yang juga menyuarakan keprihatinan berbagai individu terhadap perpecahan dua kubu seperti saat ini.

"Saya rasa momennya tepat. Bertepatan dengan dibukanya kampanye terbuka. Ini lagu yang menyuarakan persatuan yang memang harus disuarakan dalam bentuk seni. Saya harap Mas Eros mau membawa lagu ini ke istana dan juga ke kubu Prabowo. Agar mereka tahu ada yang peduli dengan kondisi perdebatan yang sudah meresahkan," ungkap Bens Leo. 

Tag: album musik