Mayoritas Warga China Yakin COVID-19 Bukan Berasal dari Wuhan

ERA.id - Di tengah gempuran pandemi COVID-19, China makin kehilangan kepercayaan dari dunia internasional akibat rendahnya transparansi mereka di awal merebaknya wabah korona baru. Di samping itu, banyak warga China yang meyakini bahwa COVID-19 tidak berasal dari kota Wuhan.

Temuan ini didapatkan oleh survei YouGov-Cambridge Globalism Project yang menanyai 26.000 orang dari 25 negara, dan rangkumannya dirilis oleh koran The Guardian, Selasa (27/10/2020).

Data yang dihimpun survei YouGov-Cambridge Globalism Project merupakan yang terbanyak sejauh ini. Berdasarkan hasil yang didapatkan, proyek gabungan ini menunjukkan bahwa upaya upaya diplomatik dari China untuk 'membersihkan nama baik' negara itu tampak tidak membuahkan hasil.

Berdasarkan rangkuman hasil survei tersebut, semua negara yang disurvei, kecuali China, yakin bahwa virus korona pertama kali ditemukan di China. Persentase tertinggi dalam hal ini ditunjukkan oleh publik di Nigeria (98%), Yunani dan Afrika Selatan (97%) dan Spanyol (96%).

Sebaliknya, hanya 52 persen responden di China yang meyakini bahwa COVID-19 pertama kali ditemukan di negaranya sendiri. Bahkan, hanya 1 dari 10 responden saja (12%) di China yang tahu di negara mana virus SARS-CoV-2 ditemukan, kontradiktif dengan berbagai laporan yang mengatakan bahwa virus itu pertama kali ditemukan di Wuhan, China, pada akhir tahun 2019.

Sepertiga dari responden di China yakin bahwa virus ini pertama kali ditemukan di Amerika Serikat.

Transparansi China dalam menangani wabah COVID-19 di akhir tahun 2019 juga menjadi sorotan di survei ini. Contohnya, di Inggris 4 dari 5 warga meyakini bahwa pemerintah China berusaha menutupi fakta mengenai COVID-19. Sentimen ini juga tinggi di Jepang (84%), diikuti Spanyol (82%).

Survei tersebut juga menyoroti berbagai macam isu, seperti perihal perlakuan China terhadap para dokter di awal pandemi COVID-19 dan tentang negara mana yang kepemimpinannya paling bagus selama pandemi.

Sembilan dari 10 warga China yakin China menjadi model leadership selama wabah global ini. Namun, pandangan ini tidak diikuti oleh warga di negara lain. Misalnya, hanya 1% warga Swedia dan Inggris yang sependapat dengan sentimen warga China.