Di AS, Angka COVID-19 Rendah di Daerah yang Warganya Rajin Pakai Masker

| 26 Oct 2020 10:45
Di AS, Angka COVID-19 Rendah di Daerah yang Warganya Rajin Pakai Masker
Ilustrasi: Survei demografi dari Universitas Carnegie Mellon menunjukkan tingkat penggunaan masker berkorelasi erat dengan angka infeksi COVID-19. (Foto: Jon Tyson/Unsplash)

ERA.id - Tingkat kemunculan gejala COVID-19 rendah di kawasan Amerika Serikat yang warganya rutin menggunakan masker di luar rumah, seperti bisa ditunjukkan oleh data dari program CovidCast Universitas Carnegie Mellon di AS.

Menggunakan statistik angka infeksi korona di 50 negara bagian AS, termasuk ibukota Washington D.C., dan hasil survei, tim universitas itu menempatkan tiap negara bagian ke dalam sebuah diagram berdasarkan dua hal, yaitu persentase jumlah warga yang mengaku selalu memakai masker di luar rumah dan persentase warga yang mengaku memiliki tetangga yang tertular COVID-19.

Persentase tersebut telah diilustrasikan ke dalam diagram oleh koran the Washington Post, Jumat (23/10/2020).

Diagram korelasi penggunaan masker dan angka COVID
Diagram korelasi antara persentase penggunaan masker (sumbu X) dan tingkat infeksi COVID-19 (sumbu Y) dari hasil survei Universitas Carnegie Mellon. (Dok: the Washington Post)

Hasil ilustrasi memperlihatkan negara bagian Wyoming dan South Dakota berada di pojok kiri atas diagram. Kira-kira hanya 60-70 persen warga negara bagian tersebut yang mengaku sering memakai masker saat keluar rumah. Secara bersamaan, mereka pun merupakan kalangan yang paling banyak, kira-kira 40-50 persen, mendapati tetangga mereka tertular COVID-19.

Hal ini berbeda dengan negara-negara bagian yang terletak di pojok kanan bawah diagram. Mereka yang ada di paling pojok kanan adalah yang persentase penggunaan maskernya paling tinggi, dan ketika persentase penggunaan masker meningkat, jumlah kemunculan infeksi COVID-19 menurun.

Ahli statistik akan mengatakan fenomena ini sebagai 'korelasi', yaitu ketika dua hal terjadi secara beriringan. Tim CovidCast juga memiliki data untuk menjelaskan hal ini. Berdasarkan formula penghitungan korelasi, dinamai 'koefisien determinasi' (R-square) yang nilainya antara 0 (tidak berkorelasi) hingga 1 (korelasi erat), korelasi antara penggunaan masker dan tingkat infeksi COVID-19 adalah 0,73.

Artinya, tebakan seseorang tentang jumlah infeksi COVID-19 di suatu daerah bisa 73 persen benar hanya dengan melihat seberapa sering warga kawasan tersebut memakai masker.

Diakui oleh tim CovidCast dari Universitas Carnegie Mellon bahwa survei tersebut tidak menggunakan pengambilan sampel secara acak via telepon, seperti banyak dipakai dalam survei. Dalam survei yang data terakhirnya diambil 19 Oktober, tim peneliti menggandeng Facebook, platform yang dipakai oleh 70 persen warga usia dewasa di Amerika Serikat.

Guna memastikan bahwa hasil survei sanggup mewakili gambaran kependudukan di AS, mereka juga menggunakan data demografik dari Biro Sensus negara tersebut.

Hasil survei via Facebook masih bisa bias bila demografi di media sosial tersebut berbeda dengan kondisi asli di AS, kata Alex Reinhart, seorang profesor statistics di Carnegie Mellon dan penulis buku metodologi statistik. "Namun, jika bias itu tidak banyak berubah seiring waktu, maka survei itu masih valid untuk mendeteksi trend dan perubahan."

Reinhart juga mewanti-wanti untuk membedakan korelasi dari sebab-akibat.  "Ada berbagai penjelasan mengenai korelasi (masker-angka infeksi korona)."

"Misalnya, negara bagian yang menghadapi wabah korona lebih awal biasanya warganya lebih banyak yang memakai masker, dan tingkat imunitas di kawasan itu lebih tinggi," kata dia, sambil menambahkan bahwa di kawasan yang warganya jarang memakai masker, kemungkinan besar mereka juga tidak menjaga jarak, sehingga memperparah angka kasus korona di daerah itu.

Namun, seperti dilansir oleh the Washington Post, hasil survei dari Universitas Carnegie Mellon memperkuat analisa mengenai penggunaan masker. Survei ini makin menggarisbawahi bahwa mereka yang tinggal di daerah dengan tingkat infeksi COVID-19 yang tinggi akan lebih baik terproteksi bila menggunakan masker di ruang publik.

Rekomendasi