Benarkah Zakir Naik Sang 'Motivator' Kelompok Teror?

ERA.id - Jumat malam, 1 Juli 2016, warga Kota Dhaka, Bangladesh, tengah berbuka puasa di penghujung bulan Ramadhan. Tak terkecuali beberapa orang yang makan malam di Kafe Holey Artisan.

Dhaka merupakan pusat bisnis dan kultural di Bangladesh, sehingga tak mengherankan ada banyak orang dari berbagai negara yang memadati kafe tersebut.

Menjelang tengah malam, enam orang masuk ke Kafe Holey Artisan yang ada di lantai 1 gedung Rangs Arcade, di tepi Madani Avenue. Sayangnya, bukannya menikmati makan malam, mereka justru datang untuk menembaki pengunjung kafe. Mereka juga memporak-porandakan kafe dengan melemparkan bom.

"Para tamu bergelimpangan di bawah kursi dan meja," sebut Shumon Reza, salah satu penjaga kafe, berkata ke reporter Bolsakhi TV. Ia menceritakan banyak orang berhamburan keluar kafe, kabur lewat celah manapun atau bersembunyi di atap gedung atau tempat aman lainnya.

Peristiwa penyerangan, yang berujung pada penyanderaan hingga Sabtu pagi, menewaskan 22 orang dan dua polisi. Komando Militer Gabungan Bangladesh menyatakan bahwa korban-korban ini teridentifikasi berasal dari berbagai negara: Italia, Jepang, India, Bangladesh, dan Amerika Serikat.

Pasukan gabungan Bangladesh berusaha mencari pelaku teror di Kafe Holey Artisan, Dhaka, yang menyebabkan 21 orang meninggal dunia, Jumat (1/7/2016). Mereka melakukan pencarian di kawasan Dhaka Westin dan memperkecil ruang gerak orang-orang yang diduga menjadi pelaku teror. (Foto: Wikimedia)

Pemerintahan Bangladesh belakangan menuduh lima pelaku terorisme terafiliasi ke kelompok Jamaatul Mujahideen Bangladesh, 'sel' radikal yang tengah berkembang di Bangladesh.

Namun, meski kelompok militan Negara Islam (IS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, pengakuan salah satu pelaku teror justru mengaitkan kekerasan itu ke orang yang selama ini tak pernah terlihat membawa senjata, seseorang yang sekadar menayangkan ceramah-ceramahnya tentang Islam di kanal televisi miliknya, Peace TV.

Inspirator Aksi Teror?

Peristiwa serangan teror di Dhaka, Bangladesh, menjadi titik balik bagi kehidupan dan citra Dr. Zakir Abdul Karim Naik, seorang penceramah asal Mumbai, India, yang namanya sedang naik daun pada musim panas 2016.

Seperti dicatatkan Al Jazeera, pada 2017 saja, akun Facebook Zakir Naik telah diikuti 16 juta orang. Akun Twitter-nya kala itu memiliki 150.000 follower. Ia juga telah memberikan lebih dari 6.000 ceramah tentang Islam di berbagai kota di dunia.

Namun, sejak peristiwa teror awal Juli 2016, Zakir Naik mulai merasa kredibilitasnya terancam, terutama oleh media internasional yang ia tuduh membuat laporan "sensasional" mengenai dirinya. Salah satu media yang ia anggap paling membual adalah The Daily Star, yang pada awal Juli 2016 menuduh Naik "bertanggungjawab telah menginspirasi aksi teror di Dhaka."

Selama bertahun-tahun ia juga diminta mengklarifikasi ucapan-ucapannya di masa lalu yang dianggap kontroversial. Kepada kanal TV TRT World, Zakir menyatakan "mengakui hampir semua hal" yang ia pernah ucapkan.

"Saya rasa saya mengakui hampir semua hal, kecuali seseorang menunjukkan bahwa saya salah," ujar Naik, ketika ditanya apakah ia berniat menarik pernyataan-pernyataan kontroversialnya di masa lalu.

>

Salah satu pernyataan yang paling kontroversial dari Naik adalah soal Osama Bin Laden, pemimpin militan Al-Qaeda yang tewas di tangan pasukan elite Navy SEAL AS tahun 2011.

Naik dalam satu ceramah di Singapura, 1998, sempat berkata bahwa "Jika Bin Laden berperang melawan musuh Islam, saya mendukungnya. Jika ia meneror Amerika, 'Si Teroris Terbesar di Dunia', saya juga mendukungnya." Dari situ ia melanjutkan, "Setiap Muslim harus menjadi teroris. Intinya, bila ia meneror si Teroris, ia menerapkan Islam."

Berbicara dengan host TRT World, Naik menyatakan ia tidak dapat dipersalahkan atas sesuatu yang belum ia cek sebelumnya. Ia mengaku tak sempat mengecek mengenai aktivitas terorisme Bin Laden. Perlu diketahui, pernyataan itu dibuat sebelum terjadinya serangan teror di World Trade Center, 11 September 2001.

"Jika ditanya apakah Bin Laden seorang teroris, pendapat saya jelas. Dia (Bin Laden) bukan musuh saya, juga bukan teman saya. Saya tak menyebutnya orang kudus, juga tak menyebutnya teroris," ucap Zakir Naik.

Lalu apakah Zakir Naik membenarkan bahwa ia adalah 'motivator' serangan teror?

"Media bermain-main dengan kata-kata. Padahal pendirian saya jelas."

Zakir Naik berpendapat interpretasi yang keliru dari orang lain bukanlah tanggung jawabnya. Begitu pun interpretasi 5 pelaku terorisme di Dhaka.

"Saya yakin, tak satu pun pernyataan saya pernah menginspirasi seseorang untuk melakukan kekerasan," ujar penceramah berusia 54 tahun itu.

Cuci Tangan, Cuci Uang

Dalih Zakir Naik toh tidak diterima oleh banyak kalangan. Sejak awal Juli 2016, Bangladesh melarang penayangan ceramah dalam Peace TV, kanal broadcast yang didirikan Naik pada 2006 dan telah ditonton 100 juta orang di seluruh dunia.

Empat bulan berikutnya, Badan Investigasi Nasional (NIA) yang adalah badan anti-terorisme India menyatakan bahwa Zakir Naik dan kelompok Islamic Research Foundation (IRF), yang ia dirikan tahun 1991, dilarang karena dituduh melakukan aktivitas terlarang dan mendukung kebencian antar-agama.

Pemerintahan India, di bawah kuasa Perdana Menteri Narendra Modi yang nasionalistik, menyatakan IRF terlarang di India hingga tahun 2021.

Namun, pemerintahan India belum selesai dengan Zakir Naik. Direktorat investigasi korupsi India, Enforcement Directorate, menuduh IRF terlibat dalam aksi pencucian uang. Dana hibah yang disebut "berasal dari sumber mencurigakan", demikian dikutip di TRT World, digunakan Naik untuk membeli beberapa properti di Kota Mumbai. ED dikabarkan telah menyita properti tersebut.

Kuasa hukum Naik, Mubeen Solkar, menepis tudingan bahwa kliennya terlibat dalam aksi pencucian uang. "Seluruh transaksi dilakukan via bank, dan seluruh dana datang melalui saluran yang legal," kata Solkar.

Sejak Juli Zakir Naik dikabarkan sudah tidak pernah kembali ke India, demikian disampaikan koran Al Jazeera. Ia dikabarkan masih berkenan meladeni wawancara dan melakukan konferensi pers via Skype dari sebuah lokasi di Arab Saudi, menandakan langkah Saudi yang menganggap Zakir Naik telah "melayani (misi) Islam."

Al Jazeera juga melaporkan adanya rumor bahwa Zakir Naik telah diberi paspor oleh pemerintahan Arab Saudi.

Juni lalu, koran DW melaporkan bahwa Zakir Naik pernah bertemu dengan para pelaku huru-hara di New Delhi pada Februari 2020.

Berdasarkan laporan Kepolisian Delhi pada 15 Juni, polisi mengatakan bahwa salah satu tersangka huru-hara, Khalid Saifi, pernah bertemu dengan Zakir Naik di luar negeri dan meminta dukungan si penceramah untuk "menyebarkan agenda mereka."

Zakir Naik, yang saat ini tinggal di pengasingan di Malaysia, menolak tuduhan itu. Ia mengaku tidak pernah bertemu Saifi, seperti dilaporkan koran The Quint.