Provokasi Meningkat, AS Diingatkan Tidak 'Masuk Jebakan' Perang

ERA.id - Kepala Garda Revolusioner Iran, Jenderal Hossein Salami, berjanji akan membalas "apapun langkah yang diambil musuh (Iran)", Sabtu (2/1/2021) malam atau menjelang peringatan setahun tewasnya komandan militer Iran Qassem Suleimani akibat serangan drone Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan koran The Guardian, Salami saat itu berbicara di depan pasukan militer Iran yang diposisikan di Pulau Abu Musa, yaitu sebuah pulau di antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Pulau ini terletak di dekat Selat Hormuz yang merupakan pintu masuk strategis bagi lalu lintas seperlima komoditas minyak dunia.

Pihak militer Iran makin menyiagakan pasukannya menyusul eskalasi ketegangan menjelangnya peringatan setahun kematian Suleimani. AS dikabarkan sempat menerbangkan pesawat bomber B-52 ke kawasan tersebut, demikian dilaporkan The Guardian.

"Kita di sini untuk meninjau dan memastikan kapasitas kita di laut dan dalam melawan musuh yang seringkali menyombongkan diri dan menebarkan ancaman," kata Salami, dikutip dari situs resmi Garda Revolusioner.

"Kita akan membalas secara tegas dan meyakinkan atas langkah apapun yang diambil musuh terhadap kita," kata Salami.

Kamis lalu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menuduh Presiden AS Donald Trump 'mencari-cari alasan untuk berperang' dengan menuduh Teheran mendalangi serangan roket ke Kedutaan Besar AS di Baghdad, Irak, pada 20 Desember.

Pada Sabtu, Zarif mengatakan bahwa yang sebenarnya terjadi adalah "agen provokator Israel sedang merencanakan serangan terhadap warga AS agar Trump tertaut ke dalam alasan palsu untuk berperang."

"Hati-hati terhadap jebakan ini," tulis Zarif dalam cuitannya untuk Presiden Trump, sambil menambahkan bahwa "tembakan apapun bakal menyakiti diri sendiri, terutama ketika Anda menyerang sahabat Anda [BFFs, best friends forever]."

Kapal perang USS Nimitz yang membawa jet-jet tempur AS telah berpatroli di perairan Teluk sejak November, namun, berdasarkan laporan New York Times, kapal ini telah diperintahkan untuk pulang. Langkah ini disebut sebagai sinyal 'de-eskalasi' kepada Teheran agar tidak terjadi perang di hari-hari terakhir Presiden Trump di Gedung Putih.

AS dan Iran sudah dua kali hampir berperang satu sama lain sejak 2019.

Beberapa hari setelah pembunuhan terhadap Suleimani, Iran melontarkan sejumlah misil ke pangkalan militer Irak yang juga kediaman bagi pasukan AS dan sekutunya. Saat itu Trump memilih tidak melakukan langkah balasan.