Joe Biden dan Kamala Harris Resmi Pimpin Amerika Serikat

ERA.id - Setelah dua bulan dinyatakan menang dalam pilpres AS pada 3 November lalu, pasangan Joe Biden dan Kamala Harris pada Rabu, (20/1/2021) akhirnya resmi menjadi presiden dan wakil presiden AS untuk empat tahun ke depan.

Inagurasi Joe Biden dimulai pada pukul 11.20 WIB, di tengah guyuran salju. Senator Amy Klbuchar, yang akan menjadi Ketua Senat AS, memulai acara dengan mengatakan upacara tersebut sebagai "hari baru Amerika Serikat".

>

Pastor Leo J O'Donovan, seorang pemuka agama Katolik dari Ordo Jesuit dan juga kawan lama dari Joe Biden, menjadi pembaca doa pembuka.

Lady Gaga kemudian menyanyikan lagu kebangsaan AS. Setelah itu, acara berlangsung ke sesi pengucapan ikrar kesetiaan, yang dipimpin oleh warga Afro-Amerika pertama yang diangkat menjadi kapten pemadam kebakaran di AS, Andrea Hall.

Kamala Harris mengucapkan sumpah lebih dulu, diresmikan oleh Hakim Sonia Sotomayor. Kamala pun menjadi wakil presiden perempuan pertama dalam sejarah AS, termasuk yang pertama dari etnis kulit hitam dan Asia Selatan-Amerika.

Setelah diselingi penampilan lagu  "The Land is Your Land" dan "America the Beautiful" oleh Jennifer Lopez, hakim ketua Mahkamah Agung AS John Roberts dipersilakan maju ke podium untuk memberi sumpah jabatan pada Joe Biden.

Pada pukul 11.50, di atas kitab suci, Joe Biden telah mengucapkan sumpah jabatannya. Ia pun resmi menjadi presiden ke-46 Amerika Serikat, menyudahi masa empat tahun yang penuh turbulensi di bawah Donald Trump.

Dalam pidatonya yang mengambil tema "America United", Biden mengatakan hari inagurasi pada Rabu siang itu adalah "hari penting bagi demokrasi" karena "demokrasi telah menang."

Ia juga menegaskan perlunya persatuan agar bangsa Amerika sanggup maju ke depan.

"Saya tahu, persatuan saat ini seakan-akan suatu fantasi kosong. Saya tahu bahwa ada kekuatan yang hendak memecah belah kita. Namun, saya tahu hal itu sudah terjadi sebelum kita. Persatuan tetaplah jalan kita agar bisa maju ke depan," kata Joe Biden.

Tahun ini suasana inagurasi presiden AS cukup berbeda dibanding biasanya. Amerika Serikat masih tercengkeram pandemi COVID-19, 400.000 warganya dikabarkan telah wafat karena terinfeksi virus tersebut.

Dan pasca aksi pemberontakan di gedung US Capitol di awal Januari, sebagian kawasan Washington ditutup bagi pendatang dari luar kota, sementara 25.000 pasukan Garda Nasional melakukan penjagaan, menjadikan kawasan tersebut seperti "Zona Perang".