Kenapa Banyak Wanita Prancis Kirim Celana Dalam ke Perdana Menteri Mereka?

ERA.id - Kotak surat Perdana Menteri Prancis Jean Castex mendapat kiriman celana dalam dari banyak wanita, dampak dari protes oleh pemilik toko pakaian dalam di Prancis yang dipaksa tutup di tengah lockdown nasional negara tersebut.

Foto-foto paket yang ditujukan kepada PM Castex banyak dibagikan di media sosial. Berbagai jenis celana dalam disisipkan ke dalam amplop yang juga berisi sebuah surat yang menjelaskan kegundahan yang mendasari tindakan tersebut.

Kampanye yang diorganisir oleh kelompok Action Culottee inin muncul setelah semua toko pakaian dalam di Prancis diwajibkan tutup karena dianggap tidak termasuk dalam kriteria 'layanan esensial'. Kriteria ini mewajibkan toko-toko tersebut tutup selama lockdown nasional Prancis, mulai 3 April lalu.

"Kami berhasil menarikminat 200 perusahaan ritel," kata Nathalie Paredes, pemilik toko Sylvette Lingerie di kota Lyon sekaligus pelopor proyek ini, kepada CNN.

Artinya, "200 celana dalam" telah dikirim ke sang perdana menteri Prancis, kata Nathalie.

Peta sebaran toko celana dalam di Prancis yang menolak kategorisasi toko pakaian dalam sebagai 'layanan non-esensial'. (Foto: Action Culottee)

Kelompok Action Culottee, dalam sebuah rilis pers yang diberitakan CNN, menyebut kampanye itu bertujuan menarik perhatian masyarakat Prancis atas situasi yang dialami toko-toko pakaian dalam di seantero negeri tersebut.

"Toko bunga, toko buku, salon, dan toko rekaman musik diklasifikasikan sebagai 'layanan esensial'. Namun, kenapa pakaian dalam tidak masuk kategori itu?"  sebut kelompok tersebut.

"Apakah ini menyangkut aspek higiene dan perlindungan pada tubuh? Bukankah (pakaian dalam) hal pertama yang kita kenakan di pagi hari?"

"Kenapa toko kami dianggap tidak esensial, sementara salon dianggap esensial?" lanjut Nathalie dalam pernyataannya.

Dalam pernyataan itu juga dijelaskan bahwa surat yang dikirim ke PM Castex berisi desakan kepadanya agar meninjau ulang aturan lockdown yang berlaku di Prancis. Surat tersebut mengklaim bahwa seluruh jenis bisnis, besar atau kecil, "adalah esensial... berharga."

"Mereka berkontribusi pada ekonomi lokal dan menghidupkan komunitas kita," sebut surat tersebut.

Prancis kembali menerapkan aturan karantina total nasional, untuk ketiga kalinya, per 3 April, menutup toko-toko yang tak masuk kategori esensial. Selain itu, bar, gym, museum, dan bioskop juga tidak diperbolehkan beroperasi.

Aturan ini diterapkan ketika kasus Covid-19 menyebar hingga ke seluruh negeri. Pekan lalu Prancis menyatakan jumlah kematian akibat infeksi Covid-19 telah melampaui 100 ribu kasus.