Bela KSAD Dudung Soal 'Tuhan Bukan Orang Arab', Ade Armando 'Kuliahi' Imam Shamsi Ali Pelajaran Logika Dasar

ERA.id - Dosen ilmu komunikasi Universitas Indonesia (UI), Ade Armando angkat bicara soal pernyataan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman soal 'Tuhan bukan orang Arab'.

Pernyataan Dudung yang menyebut 'Tuhan bukan orang Arab' itu diketahui disampaikan saat menjadi bintang tamu di podcast Deddy Corbuzier, beberapa waktu lalu.

"Kalau saya berdoa setelah salat, doa saya simpel aja, ya Tuhan pakai bahasa Indonesia saja, karena Tuhan kita bukan orang Arab," kata Dudung.

Pernyataan itu pun mendapat kritik dari sejumlah pihak, salah satunya oleh Imam Masjid New York Shamsi Ali. Dia mengkoreksi pernyataan Dudung kalau Tuhan bukan orang sehingga tidak bisa dibatasi dengan etnis atau bangsa tertentu.  

Membela pernyataan KSAD Dudung, Ade Armando menyebut bahwa para pengkritik Dudung merupakan orang yang cacat logika. Menurut dia, KSAD Dudung jelas tidak pernah bilang 'Tuhan bukan orang Arab.' Apa yang disampaikan merupakan silogisme kategorik yang merupakan pelajaran logika dasar. Untuk sampai pada konklusi (kesimpulan) kita harus mempelajari premis mayor dan minornya.

"Contoh, premis mayornya, semua makanan yang mengandung babi haram. Premis minornya, bacon adalah babi. Maka konklusinya bacon haram. Sekarang kita gunakan silogisme ini dalam pernyataan Dudung. Premis mayornya Allah bukan manusia, premis minornya orang Arab adalah manusia. Konklusinya, orang Arab pasti bukan Allah. Atau Allah pasti bukan orang, sederhanakan?" tegas Ade Armando dalam kanal Youtube CokroTV dikutip ERA.id, Jumat (3/12/2021).

Dengan menggunakan logika ini, Ade Armando mempertanyakan di mana letak kesalahan Jenderal Dudung. Mantan Panglima Komando Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) itu justru memastikan secara tegas bahwa Tuhan melampaui etnis dan ras tertentu.

"Gimana sih (Shamsi Ali), kan memang Dudung bilang doa itu tidak harus dikaitkan dengan etnis atau ras apapun. Dudung bilang Tuhan itu berada di atas bangsa dan ras, jadi berkomunikasi dengan Tuhan tidaklah harus dengan bahasa bangsa tertentu. Kurang jelas apa lagi sih pernyataan Dudung kok malah dipandang keliru?" tegas Ade Armando.

Ade menambahkan, ada kekacauan berpikir yang datang dari para imam Islam ini sehingga tidak mampu membaca secara sederhana apa yang dimaksud oleh Dudung. Dudung hanya ingin mengatakan bahwa berkomunikasi dengan Tuhan itu sederhana, menggunakan bahasa yang biasa kita gunakan. 

"Tidak usah capek-capek berdoa dengan bahasa yang tidak kita kenal. Tuhan itu Maha Besar dan maha tahu dia tentu paham kalau kita berbicara pada-NYA dengan bahasa sendiri."

"Perlu dicatat ya, bahwa Dudung mengatakan doa berbahasa Indonesia itu dia ucapkan selesai salat. Jadi doa dalam salatnya dalam bahasa Arab tapi doa sesudah salatnya dalam bahasa Indonesia," tegas Ade Armando. 

Meski demikian, menurut Ade Armando, apa yang disampaikan imam pengkritik Dudung merupakan cerminan dari pertarungan wacana Islam di Indonesia. 

"Shamsi Ali dan kawan-kawan itu nampaknya datang dari kemarahan ketika ada tokoh seperti Dudung yang dianggap memisahkan identitas ka-Araban pada Islam." 

Shamsi Ali, menurut Ade, adalah personal yang percaya pada pentingnya membangun umat Islam Indonesia yang melandaskan pada syariat untuk membangun negara Islam di masa depan. Untuk itu, sambung Ade, umat Islam menurut mereka harus kembali ke agama Islam yaitu Islam yang berkembang di tanah leluhur yakni Arab.