Asal Jargon 'Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat', Diusung PDIP, Dibanggakan Cak Yan

ERA.id - Halpian SM alias Cak Yan, pria beringas yang pukuli remaja di depan sekolah Al Azhar Medan, kini diringkus polisi.

Karier politiknya hampir pasti tamat karena insiden yang memalukan tersebut. Banyak yang belum tahu, kalau Cak Yan adalah kader organisasi sayap PDIP, Cakra Buana.

Saat info soal Cak Yan ditelusuri ERA.id, ditemukan foto-foto Cak Yan bersama kawan-kawannya sedang memakai seragam Cakra Buana.

Saat itu, gaya Cak Yan sangat keren, mungkin di matanya. Di beberapa kesempatan, ia juga memamerkan dirinya memakai baju casual dan memakai kaca mata.

Ada pula foto Cak Yan bersama kawannya memakai kemeja merah dan menggunakan bingkai foto bertuliskan slogan PDIP. Isinya yakni: Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat.

Halpian SM alias Cak Yan (tengah) yang memukuli pelajar di Medan (Dok. Cak Yan)

Lantas dari mana slogan yang terbaca dan terdengar heroik tersebut, populer? Ternyata, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang mempopulerkannya.

Beberapa tahun yang lalu, saat PDIP berulang tahun ke-43, Mega mengungkapkan kalau rakyat adalah cakrawati partai; tempat seluruh irama, dan langkah perjuangan bermuara.

"Saya pernah katakan, yang membuat kita bangga sebagai partai politik, bukan ketika dekat dengan kekuasaan, tetapi saat menangis dan tertawa bersama rakyat," tegas Megawati dalam pidatonya, di Kemayoran, Jakarta, pada 2016 silam, dikutip dari BeritaSatu.

Perjuangan itu, kata Mega, harus sesuai dengan jalan pemikiran Bung Karno yang terkenal dengan nama Marhaenisme.

Tak berselang lama, terbit pula buku biografi Megawati berjudul 'Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat' yang ditulis Kristin Samah.

Buku tersebut secara garis besar membahas sepak terjang Megawati dalam panggung politik.

"Perjalanan sejarah membuktikan, Megawati mampu menjawab keraguan terhadap pandangan miring itu. Ia tak hanya memiliki semangat perjuangan yang diwariskan ayahnya. Megawati mampu membaca bahasa rakyat ketika dengan kesabaran luar biasa bisa berbicara dengan rakyat, dengan bahasa rakyat, mencoba mengangkat “ketakutan” rakyat," begitu isi blurb dalam sampul buku 'Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat' tersebut.