Imbas Konflik Rusia-Ukraina, Dior hingga Hermes Tutup Tokonya di Rusia

ERA.id - Raksasa mewah Prancis memutuskan untuk menutup sementara toko-toko di Rusia. LVMH, Chanel, Dior, hingga Hermes memilih untuk menangguhkan penjualan mereka di Rusia.

Invasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina berimbas pada sejumlah perusahaan besar yang memilih menutup hingga menghentikan sementara usaha mereka di Rusia. Kali ini sejumlah merek fashion ternama bergabung dengan perusahaan lain yang melakukan aksi serupa.

Pembuat tas Birkin mahal Hermes dan pemilik Swiss Cartier Richemont termasuk di antara perusahaan pertama yang mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan bisnis di Rusia.

LVMH, yang memiliki merek seperti Christian Dior, Kenzo, TAG Heuer, Givenchy, dan Bulgari menutup 124 butiknya di negara itu mulai Minggu (6/3/2022). Meski menutup ratusan tokonya, pihak LVMH tetap membayar gaji untuk 3.500 karyawannya di negara itu.

"Mengingat meningkatnya kekhawatiran kami tentang situasi saat ini, meningkatnya ketidakpastian dan kompleksitas untuk beroperasi, Chanel memutuskan untuk menghentikan sementara bisnisnya di Rusia," kata pihak Chanel, dikutip BBC, Sabtu (5/3/2022).

Kering, yang merupakan rumah bagi Gucci dan Saint Laurent, memiliki dua toko di Rusia, bersama dengan 180 karyawan di negara tersebut. Perusahaan Prancis itu mengatakan keputusan penutupan tersebut lantaran adanya kekhawatiran yang berkembang atas situasi saat ini di Eropa.

Richemont, yang juga memiliki merek Dunhill, Jaeger-LeCoultre, Montblanc, Piaget, dan Van Cleef & Arpels, memiliki sekitar selusin toko yang dioperasikan secara langsung, sebagian besar di Moskow.

Dikatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya telah menangguhkan kegiatan komersial di Rusia pada 3 Maret setelah menghentikan operasi Ukraina pada 24 Februari, hari di mana Rusia meluncurkan invasi.

Giorgio Armani belum mengatakan apakah pihaknya berencana untuk menghentikan penjualan di Rusia, tetapi Armani mengatakankepada timnya untuk tidak memainkan musik apa pun di peragaan busana Paris baru-baru ini.

Sementara orang kaya Rusia adalah konsumen barang-barang mewah yang kuat. Analis mengatakan proporsi penjualan barang mewah yang dihasilkan dari warga negara Rusia kecil dibandingkan dengan pertumbuhan utama industri China dan Amerika Serikat.

Seorang analis Luca Solca dari Bernstein Research mengatakan fashion mewah di Rusia menyumbang sekitar 2 persen dari pendapatan global untuk sebagian besar perusahaan. Menurutnya, perusahaan harus mempertimbangkan pilihan mereka untuk memberi sanksi terhadap Rusia.

"Ada devaluasi rubel yang sangat besar sehingga salah satu cara mereka mencoba untuk melindunginya adalah dengan membeli produk perhiasan mahal. Itu bukan asumsi keseluruhan yang buruk, itu bisa saja terjadi," katanya.

Bank investasi Jefferies memperkirakan bahwa orang Rusia menyumbang sekitar 9 miliar dolar (Rp129 triliun) dalam penjualan barang mewah tahunan. Angka itu berkisar 6 persen dari pengeluaran China dan 14 persen dari pengeluaran AS untuk barang-barang mewah.