Mengenal Suku Bajo, Pelaut Andal yang Mampu Menyelam 13 Menit di Dasar Laut Tanpa Alat Bantu

ERA.id - Lagu "Nenek Moyangku Seorang Pelaut" karya Ibu Sud, bukanlah sebuah fiksi atau sebatas ingatan di kepala anak-anak Indonesia. Lebih jauh lagi, lagu itu adalah sebuah fakta, tentang betapa hebatnya laut Indonesia dan pendahulu yang berenang di atasnya.

Sebut saja salah satu suku yang masih setia dengan laut: Suku Bajo atau Bajau atau Sama Bajau atau Gipsi Laut atau "Sea Nomad". Bagi mereka laut adalah bumi yang mesti dijaga dan sumber kehidupan untuk mereka. 

Keberadaan mereka tersebar di seluruh timur Indonesia. Ada pula di Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Filipina Selatan. Penyebaran tersebut tidak lepas dari kehidupan mereka yang berpindah-pindah. 

Mereka berpindah dari satu pulau satu ke pulau berikut. Dan mereka mencari tempat yang aman untuk berteduh, dan jelas mencari sumber ikan untuk memenuhi kehidupan mereka. 

Biasanya mereka berteduh di kawasan semenanjung. Atau di pulau-pulau yang mempunyai mangrove yang lebat.

Dalam buku Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut, Adrian B. Lapian menulis bahwa Suku Bajo banyak beredar di Laut Sulawesi. Mereka tinggal di perahu yang disebut "Leppa". Di atas perahu ditutupi dengan atap rumpiah. Dan di belakang perahu ada tempat khsusus untuk memasak. Kadang menggunakan kompor sumbu minyak tanah dan ada yang masih menggunakan tungku batu dan kayu bakar. 

Akan tetapi, seiring zaman, komunitas Bajo telah menetap puluhan tahun di pesisir pantai. Ada yang bermukim dengan mendirikan rumah panggung di laut, dan juga yang sudah mendirikan rumah beton di daratan. 

Misal, komunitas Bajo di kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Di sana, rumah-rumah Bajo sudah banyak berdiri daratan, walau memang tak jauh dari pantai. Hanya saja, tidak semua warga mendirikan rumah beton, yang lain membangun rumah papan dan masih panggung.

Lain hal dengan beberapa suku Bajo di Gorontalo, seperti dalam film dokumenter The Bajau karya Watchdoc Documentary. Dalam film tersebut, leppa masih ditemukan. Mereka masih menjadi warga nomaden. Jika stok makanan mulai menipis, mereka akan pergi ke daratan. Bila stok telah pulih, mereka kembali ke laut untuk mencari ikan yang nanti mereka jual ke pengepul di daratan (bahkan pengepul membeli langsung di laut). 

Anak-anak Bajo Mandi di Laut (Wikimedia Commons)

Asal Usul Suku Bajo

Dari manakah asal suku Bajo? Semua suku di Indonesia bisa ditelusuri dari mana mereka berasal. Suku Bugis berada di Bone; suku Jawa memiliki daratan pulau Jawa; begitu pun Sunda. Suku Minang ada di Minangkabau. Sedangkan, suku Bajo berasal dari mana?

Dari sejarah lisan masyarakat Bajo sendiri, mereka beberapa versi dari mana mereka berasal. Versi pertama, mereka berasal dari Johor, sedangkan yang kedua Bajo berasal dari Bone, Sulawesi Selatan. Namun, menurut temuan François Robert Zacot dalam bukunya, Orang Bajo: Suku Pengembara Laut, kebanyakan masyarakat Bajo mempercayai versi pertama. 

Alkisah, seorang putri kerajaan Johor meninggalkan kerajaan menggunakan perahu. Ayahnya yang seorang raja panik dan marah mendengar kabar putrinya kabur. Ia memerintahkan para prajurit yang dimilikinya untuk mencari putri kesayanganya itu. Perintah tersebut disertai dengan ultimatum yang berat bahwa semua prajurit harus menemukan anaknya, jika kembali dengan tidak membawa putrinya, maka akan dipenggal kepalanya. 

Sayangnya, sang putri tidak ditemukan hingga sekarang. Dan masyarakat Bajo mempercayai prajurit-prajurit itulah yang menjadi cikal bakal komunitas Bajo yang tersebar di beberapa tempat di Indonesia dan di negara tetangga. 

Menurut pendapat Abdul Manan, Ketua Kerukunan Keluarga Bajo Indonesia, dalam buku Jendela Indonesia: Bajo Tak Bisa Pisah dari Laut, mengatakan mereka telah mengumpulkan sampel DNA dari berbagai komunitas Bajo di Indonesai, Malaysia, dan Fipinan untuk memastikan akar sejarah mereka. Mereka menunggu saja hasil penelitian DNA yang dilakukan oleh Universitas La Rochelle di Prancis tersebut.

La Uda (Wakatobi Multimedia)

13 Menit di Dasar Laut

Dalam video "Bajau People Hold Breath for 13 Minutes" milik kanal LastEdge menampilkan lelaki Bajo yang menyelam selama 13 menit. Di kolom komentar beberapa orang terkagum-kagum dengan aksi itu.

Artikel dalam Bajau Indonesia, "Si Manusia Ikan (Bajau Sampela) Mampu Mengharumkan Nama Baik Wakatobi", mengisahkan La Uda, suku Bajo dari Wakatobi, yang mampu menyelam ke dasar tanpa alat bantu selama 4 menit.

Untuk manusia pada umumnya, menyelam di dasar laut selama itu bukanlah perkara mudah. 

Penelitian yang dilakukan oleh Melissa A. Ilardo, dkk., dengan judul "Physiological and Genetic Adaptations to Diving in Sea Nomads" menguraikan mengapa penyelam Bajau mampu lama di dasar laut. 

Penelitian itu membandingkan Bajau yang hidup di pesisir laut yang kerap menyelam dengan suku daratan, seperti suku Saluan (daratan Banggai) yang hidup dengan mata pencahariannya sebagai petani. Ditemukan perbedaannya ialah terletak pada genetik. Penyelam Bajo memiliki limpa yang lebih besar daripada orang Saluan. 

Akan tetapi, penyelam Bajo tanpa alat bantu ini sudah mulai langka. Sebab, beberapa penyelam Bajo sudah beralih menggunakan kompresor yang mengandung bahaya untuk tubuh.