Dilarang Berjualan di Candi Borobudur, Pedagang Asongan Temui Ganjar: Kami Merasa Diusir

| 02 Aug 2022 18:13
Dilarang Berjualan di Candi Borobudur, Pedagang Asongan Temui Ganjar: Kami Merasa Diusir
Ganjar Pranowo saat meneirma kunjungan pedagang asongan Candi Borobudur (Dok Pemprov Jawa Tengah)

ERA.id - Pedagang asongan yang sempat dilarang berjualan di kawasan Candi Borobudur menemui Gubernur Ganjar Pranowo di Ruang Pemprov Jateng, Semarang, Selasa (2/8). Mereka mendapat solusi sementara untuk berdagang dari pertemuan itu.

Wito Prasetyo, Ketum Serikat Pekerja Wisata Borobudur, menjelaskan, para pedagang merasakan diskriminasi dari manajemen PT  Taman Wisata Candi (TWC) akibat penataan kawasan Candi Borobudur. Mereka yang biasanya berjualan di depan Museum Karmawibhangga dipindah dan berbaur di kawasan parkiran bus.

"Kami merasa diusir dan didiskriminasi. Sedangkan di situ masih ada kegiatan komersial juga," ucap Wito saat audiensi.

Dari paparan mereka, Ganjar kemudian menawarkan solusi yakni para pedagang asongan diberi tempat sementara di tempat relokasi yang saat ini sudah ada. Para pedagang asongan pun setuju untuk tidak berjualan keliling atau asongan jika disediakan tempat yang jelas.

Usulan ini dinilai Ganjar paling ideal mengingat lokasi yang disediakan saat ini pun bersifat sementara.

"Ada harapan baru lah. Ini yang kami terima setelah pertemuan," kata Wito.

Wito berharap Ganjar bisa segera menyampaikan usulan tersebut kepada PT TWC. Wito menegaskan para pedagang asongan siap untuk mengikuti aturan jika usulan dari Ganjar tersebut terwujud.

"Karena mereka (pedagang asongan) kan sudah dua tahun tidak jualan. Padahal itu profesi pokok mereka," katanya.

Wito mengatakan, usulan tempat sementara bagi pedagang asongan di titik relokasi pedagang yang sudah ada dinilai cukup. Sembari menunggu pemindahan pedagang ke zona III, di Lapangan Kujon seluas 10,74 hektare.

"Karena untuk sampai ke Kujon kan belum tahu berapa lama lagi. Kasihan karena kerjaannya hanya di situ. (Solusi) alhamdulillah sekali, karena selama ini kan kayak anak tiri, mau mengadu ke siapa. Ngadu ke lingkungan kecamatan, kabupaten, DPRD enggak ada solusi," tandasnya.

Adapun Ganjar menegaskan solusi yang ditawarkan kepada para pedagang asongan akan segera diusulkan ke pihak PT TWCB. Sebab hingga akhir audiensi, pihak PT TWCB masih dalam perjalanan untuk hadir di pertemuan itu.

Menurutnya, solusi dengan memberikan tempat alternatif sementara di lokasi yang saat ini ditetapkan cukup adil. Apalagi titik tersebut sifatnya sementara selama kawasan Candi Borobudur dalam masa penataan.

"Dalam konteks sementara atau transisi, sediakan saja tempat di situ atau di sekitar situ. Satu kasih tempat sementara dia menetap terus kemudian dibuat aturannya sehingga semua bisa terjaga. Agar semuanya nyaman dan mereka bisa mencari rezeki, harus ada alternatif," ujarnya.

Ganjar menyatakan akan terus mendampingi para pedagang asongan hingga mencapai kesepakatan dengan PT TWC. Di sisi lain, Ganjar berharap pihak PT TWC berkomunikasi lebih intens. Ganjar juga meminta kepala daerah setempat terlibat aktif mendampingi para pedagang asongan tersebut.

"Jangan sampai masyarakat sekitar Borobudur ini jadi penonton. Mereka mesti dilibatkan karena tertatanya borobudur harapan kita kan juga menambah kesejahteraan mereka. Jangan menambah kesejahteraan orang tertentu saja," tegasnya.

Rekomendasi