Berbagai Jurus Ridwan Kamil Cegah Lonjakan Kasus COVID-19 di Jabar

| 22 Jun 2021 20:11
Berbagai Jurus Ridwan Kamil Cegah Lonjakan Kasus COVID-19 di Jabar
Ridwan Kamil (Dok. Humas Jabar)

ERA.id - Varian Delta dari COVID-19 telah ditemukan di wilayah Jabar, yakni di Kabupaten Karawang dan Kota Depok.

Karena itu Gubernur Jawa Barat (Jabar) M Ridwan Kamil seusai Rapat Komite Percepatan Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah yang dilakukan secara daring, di Gedung Negara Bandung, Senin (21/6) meminta semua pihak waspada.

Temuan tersebut berdasarkan hasil pengiriman sampel oleh Labkesda dan ITB yang kemudian dilakukan kajian genome sequencing oleh LIPI dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, sangat mewanti-wanti kepada warga Jabar agar waspada dengan ditemukannya varian delta tersebut karena penularannya lebih cepat dibandingkan dengan varian virus corona sebelumnya.

Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Jabar, kenaikan kasus positif COVID-19 mulai terjadi 15 hari setelah libur Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran 2021, setelah 28 Mei.

Memasuki awal Juni 2021, tambahan kasus positif COVID-19 di Jabar mencapai di atas 1.000 pasien per hari.

Imbasnya, tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) untuk pasien COVID-19 di rumah sakit yang ada di Jabar meningkat, bahkan sudah melewati batas yang ditetapkan oleh WHO, yakni di atas 60 persen.

Melihat kondisi tersebut, Kang Emil dan tim tak tinggal diam. Sejumlah upaya dilakukan oleh Pemprov Jabar untuk menekan lonjakan kasus COVID-19.

Upaya itu, mulai dari penambahan tempat tidur hingga rekrutmen relawan medis dan vaksinasi massal.

2.400 tempat tidur

Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyiapkan 2.400 tempat tidur tambahan di rumah sakit untuk pasien COVID-19.

Saat ini 382 rumah sakit di Jabar sedang mengalami lonjakan pasien dan petugas medis kewalahan, kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, saat mengunjungi RSUD Al-Ihsan dan RSUD Otto Iskandardinata di Kabupaten Bandung, Sabtu (19/6/).

Kang Emil menjelaskan tingkat keterisian rumah sakit (BOR) yang sedang hangat dibicarakan publik.

“Yang sekarang terjadi itu jatah tempat tidur untuk COVID-19 memang mendekati 100 persen, namun bukan dari total seluruh jumlah tempat tidur di RS tersebut . Misalnya dari 500 bed, jatah COVID-nya 20 persen berarti kan 100 tempat tidur. Nah kalau 100-nya terpakai, itu baru 100 persen. Tapi bukan 100 persen dari 500,” kata dia.

Oleh karena itu, kata Kang Emil, dirinya bersama Satgas COVID-19 Jabar mengantisipasi dengan menambah setiap rumah sakit yang mengalami peningkatan keterisian tempat tidurnya. Dari 382 rumah sakit rujukan, tingkat keterisian memang terus meningkat.

Sehingga pada tahap sekarang sesuai prosedur kedaruratan COVID-19, Pemerintah Provinsi Jabar menambahi dari yang rata-rata 20 persen menjadi 30 persen. Makna 30 persen itu adalah mempersiapkan 2.400 tempat tidur tambahan.

Kang Emil mengapresiasi penanganan yang dilakukan RSUD Al-Ihsan yang memanfaatkan gedung perawatan anak untuk dijadikan tempat pasien COVID-19.

Sehingga Al-Ihsan yang hari ini jatah bed COVID-nya sudah penuh 100 persen ditambahi sekitar 50, maka masih ada yang dapat digunakan.

Apabila setiap rumah sakit mengalami peningkatan keterisian tempat tidur, walaupun sudah ditambah, maka Jabar akan siapkan rumah sakit darurat guna mengantisipasi lonjakan tersebut.

Urutannya, menurut Kang Emil, dari 20 persen yang dialokasikan sekarang kebijakannya dinaikkan menjadi 30 persen. Kalau masih kurang dinaikkan lagi naik ke 40 persen, sampai betul-betul tidak memungkinkan, barulah masuk ke tahap berikutnya, yaitu membuat rumah sakit darurat.

Tak hanya itu, Kang Emil akan memanfaatkan gedung baru RSUD Otto Iskandardinata yang berada di Soreang, Kabupaten Bandung, untuk dijadikan tempat perawatan pasien COVID-19.

Memang, katanya, rencananya yang COVID-19 di rumah sakit lama di Soreang, rumah sakit umum Soreang pindah ke RSUD Otista. Akan tetapi, mengingat urgensi waktu tinggal dua minggu, menurut statistik kedaruratan ini, dia menyarankan ke bupati agar RS ini langsung digunakan untuk pasien COVID-19.

Kang Emil berharap dengan strategi penambahan ini, bisa mengurangi tekanan terhadap rumah sakit yang sudah beroperasi melayani pasien COVID-19.

Fasilitas yang tersedia di RS baru tersebut, menurut Kang Emil, sangat memadai. Sudah ada fasilitas kasur untuk tempat tidur pasien, ruangannya pun sudah bersih.

Pemerintah Provinsi Jabar pun telah bekerja sama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk mengisi kekurangan tenaga kesehatan di RS rujukan pasien COVID-19 dan juga RS baru di Soreang.

Sebelumnya Pemprov Jabar sempat memberhentikan 500 relawan tenaga kesehatan karena pada saat Shalat Idul Fitri keterisian rumah sakit se-Jabar hanya 29 persen. Maka relawan-relawannya dipulangkan. Kini, para relawan itu dipanggil lagi karena kondisinya sangat mendesak.

Kang Emil mengingatkan konversi tempat tidur ke pasien COVID-19 tetap berdampak pada risiko penurunan layanan bagi pasien non-COVID19, seperti kecepatan layanan dan ketersediaan tenaga kesehatan di saat bersamaan.

Untuk itu gubernur mengimbau warga terus mematuhi protokol kesehatan 5M. Dengan semakin sedikit pasien COVID-19 masuk rumah sakit, semakin leluasa kamar untuk semua pasien.

Rekomendasi