Nasib Pilu Pekerja Seni Wayang yang Harus Bertahan di Kala Pandemi

Tim Editor

Dok. Amalia Putri/era.id

Pentas wayang mandek sejak pandemi COVID-19. Selama pandemi ditambah masa PPKM, para pekerja seni pewayangan harus memutar otak untuk bertahan hidup.

Tak hanya dalang, dalam setiap pentas wayang ada sederet pesinden dan belasan pemain gamelan yang menggantungkan hidupnya dari pertunjukan semalam suntuk ini.

Dalang kenamaan dari kota Solo, Ki Anom Suroto mengatakan, pandemi COVID-19 ini menjadi pukulan berat bagi para pelaku seni pertunjukan wayang.


”Kalau mereka punya keahlian lain, mereka masih bisa bertahan. Tapi banyak dari mereka yang hanya menggantungkan hidupnya dari wayang karena tidak ada keahlian lain,” katanya saat ditemui di kediamannya, Dalem Timasan dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-73 dengan mementaskan lakon Banjaran Narayana oleh Ki Bayu Aji Pamungkas, Minggu (22/8/2021).



Akhirnya banyak dari mereka yang terpaksa menjual peralatan seninya. Para dalang menjual wayang, hingga pemusik yang menjual gamelannya hanya untuk menyambung hidup.

Namun, ada pula dalang yang memutar otak dengan menggelar pertunjukan wayang melalui streaming. Meski bersentuhan dengan modernisasi, namun nilai-nilai yang terkandung dalam seni pertunjukan wayang tetap dipertahankan.

”Wayang ini kan sebenarnya sangat dinamis,” kata Ki Anom Suroto.

Bahkan menurutnya, saat ini masih banyak penikmat wayang. Termasuk masih banyak talenta-talenta muda yang meneruskan seni pewayangan ini.

”Jangan dilihat di kota. Tapi lihatlah di desa-desa,” katanya.

Untuk itu ia meminta campur tangan pemerintah untuk melestarikan tradisi wayang ini. Apalagi sejak zaman dulu, wayang sudah lekat dengan pemerintahan.

”Sejak zaman dulu wayang ini disenangi oleh raja. Jadi sangat lekat dengan pemerintah. Makanya saya berharap masyarakat kita ini bisa turut menyenangi keseniannya sendiri,” katanya.

Tag: wayang kulit

Bagikan: