Tembus 50 Juta Kasus, Pandemi COVID-19 Bercokol di Beberapa Kawasan

Tim Editor

Dokumentasi--Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memberi keterangan pers soal dampak pandemi COVID-19 pada aspek sosial-ekonomi dunia. (Antaranews)

ERA.id - Kasus virus corona baru (COVID-19) di dunia menembus angka 50 juta pada Minggu, menurut hitungan Universitas Johns Hopkins yang berbasis di Amerika Serikat.

Data menunjukkan bahwa lebih dari 1,25 juta orang meninggal karena COVID-19, sementara pasien sembuh hampir berjumlah 32,9 juta pasien.

Johns Hopkins 9 november
Johns Hopkins University pada Senin (9/11/2020) menghitung telah ada lebih dari 50 juta pasien COVID-19 di dunia. (Sumber: CSSE Johns Hopkins University)

Amerika Serikat, negara yang paling parah terdampak wabah COVID-19, melaporkan hampir 10 juta infeksi korona dan 237.000 orang di antaranya meninggal dunia. Luasnya wabah korona di AS diikuti oleh India (8,5 juta kasus) dan Brazil (5,6 juta kasus).

Secara keseluruhan virus corona telah menyebar ke 190 negara dan wilayah sejak pertama kali muncul di China pada Desember lalu. Selama sembilan bulan sejak Direktur-Jenderal WHO menyatakan COVID-19 sebagai kondisi darurat kesehatan internasional, bulan Oktober, berdasarkan penilaian Reuters, dianggap sebagai bulan terburuk. Di bulan tersebut terjadi gelombang kedua pandemi dengan jumlah kasus setara seperempat dari total kasus korona global.

Bulan lalu saja, hanya dalam waktu 21 hari sudah ada 10 juta kasus baru COVID-19 di seluruh dunia.

Selain tiga negara penyumbang kasus COVID-19 terbanyak, negara-negara Eropa saat ini juga tengah berjibaku untuk mengerem laju pertambahan kasus COVID-19. Berdasarkan analisa The Guardian, kawasan tersebut hingga saat ini telah mencatatkan 12 juta kasus COVID-19. Jumlah tersebut bahkan telah melampaui kawasan Amerika Latin sebagai kawasan paling terdampak oleh COVID-19. Eropa juga menyumbang 24 persen total kematian akibat COVID-19 di dunia.

Vaksin digadang-gadang sebagai solusi mujarab untuk meredakan pandemi ini. Sampai saat ini beberapa perusahaan farmasi di beberapa negara telah menghasilkan kandidat vaksin yang telah diuji klinis. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum memberikan persetujuan pemakaian vaksin tersebut.

 
 

 

 

Tag: amerika serikat uni eropa pandemi COVID-19

Bagikan: