Perihal 14 Oktober: Maafkan 'Kebetulan' Ini Jenderal Hoegeng

| 14 Oct 2022 21:50
Jenderal Hoegeng Imam Santoso (paling kiri) berfoto bersama Presiden Soeharto. (Wikimedia commons)

ERA.id - Hari ini, tepat 101 tahun yang lalu, Jenderal Hoegeng Imam Santoso lahir pada 14 Oktober 1921. Namun, alih-alih merayakan hari ulang tahunnya, Indonesia malah merayakan penangkapan Kapolda Jawa Timur (Jatim) terkait kasus narkoba.

Segala hal yang kebetulan hampir pasti selalu menarik. Malahan bagi sebagian orang sebuah 'kebetulan' bisa ditarik jadi teori konspirasi. Ingat kan waktu Ahmad Dhani dibilang anggota Freemansory gara-gara 'kebetulan' sering pakai logo mata satu di karya-karyanya? 

Bagi pawang hujan 'kebetulan' adalah sesuatu yang diharapkan terjadi. Ketika Mbak Rara memukul mangkuk emas di sirkuit Mandalika dan 'kebetulan' hujan reda, sebagian orang percaya keajaiban terjadi.

Bagi segelintir yang lain, terkadang ketika 'kebetulan' muncul, seakan-akan Tuhan sendiri sedang menuntun mereka ke arah pesan penting yang tersembunyi di balik sebuah peristiwa. 

Misalnya saja, Presiden Joko Widodo mengumpulkan para pejabat Polri di seluruh Indonesia hari ini, Jumat (14/10/2022) dan 'kebetulan' di hari yang sama Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan mengumumkan hasil rekomendasinya. Dan yang tak kalah 'kebetulan' lagi hari ini adalah tanggal lahir mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso.

'Kebetulan' rangkap tiga macam ini tak mungkin hanya 'kebetulan' biasa seperti saat kita berpapasan dengan mantan kekasih di alun-alun kota. Masa iya sih Tuhan tak bermaksud apa-apa, ketika takdir menuntun Jokowi mengumpulkan para polisi yang sedang krisis kepercayaan, tepat di hari yang sama dengan kelahiran polisi paling jujur yang pernah dimiliki negeri ini?

Mengenang Jenderal Hoegeng

Siapa sih yang tidak kenal Jenderal Hoegeng? Mantan Kapolri kelahiran 14 Oktober 1921 ini pernah disebut Gus Dur sebagai salah satu dari tiga polisi jujur. Dua sisanya adalah: patung polisi dan polisi tidur. Kedua tokoh bangsa itu sudah lama mati. Namun, seandainya Gus Dur hidup lagi dan melihat berita hari ini, bisa dipastikan 100 persen ia tak akan mengubah pendapatnya.

Nama Hoegeng sudah melegenda di Indonesia. Kisah keteladanannya masyhur di mana-mana. Dan jika melihat polisi hari ini, kisah-kisah Jenderal Hoegeng terdengar seperti dongeng yang hanya terjadi di dunia fantasi. 

Aditya Soetanto, anak kedua Jenderal Hoegeng, bercerita bahwa bapaknya menyambung hidup setelah pensiun dengan menjual lukisan dan jadi penyiar radio, membawakan program Little Thing Mean a Lot

Ketika menjabat sebagai Menteri Iuran Negara, Hoegeng malah pernah menjual sepatu dinasnya untuk kebutuhan sehari-hari. Diceritakan bahwa suatu hari, sang sekretaris, Darto melihat Pak Oco yang jadi supir sedang duduk termenung dekat mobil.

"Kok kelihatan sedih kenapa?" tanya Darto.

"Saya dapat tugas dari Bapak, suruh jualin sepatunya," jawab Pak Oco. Ia sedih sebab tak menemukan pemilik kaki ukuran 43 untuk membeli sepatu bosnya.

Walhasil, Darto gantian mengambil sepatu itu dan menghubungi rekannya yang mungkin punya ukuran kaki 43. Gayung bersambut, sepatu terjual, uangnya segera diberikan ke Pak Oco.

Pak Oco bilang ke Jenderal Hoegeng kalau bukan dia yang berhasil menjual sepatu itu, melainkan Darto. Keesokan paginya, Hoegeng memanggil sekretarisnya itu ke ruangan lalu merangkulnya, sambil berkata, "Ampera ampera!" yang merupakan slogan untuk Amanat Penderitaan Rakyat.

Bisa kita bayangkan kehidupan seperti apa yang dijalani pria macam Hoegeng saat memimpin Polri. Tak ada jam bermerk melingkari pergelangan tangannya. Rumahnya hanya satu dan tak ada kemewahan di dalamnya. Hanya ada istrinya, ketiga anaknya, dan kehidupan yang jujur.

18 tahun silam, Jenderal Hoegeng pamit dari ingar-bingar kehidupan. Sejatinya ia bisa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, tapi ia menolak. "Ah, nanti para koruptor menegur saya. Padahal saya mau istirahat," tutur Hoegeng kepada majalah Forum pada tahun 1993.

Jumat ini, lebih dari satu abad setelah hari kelahirannya, para polisi yang meneruskan tongkat estafet Hoegeng dipanggil ke istana, tanpa memakai topi dan membawa tongkat, setelah 132 nyawa melayang di stadion yang dijaga oleh para polisi.

Di hari yang sama, seorang Kapolda ditangkap terkait kasus narkoba dan persidangan atas kasus pembunuhan Brigadir polisi oleh Jenderal polisi masih berjalan.

Rekomendasi