Matinya Hati Nurani dan Aksi Diam Ratusan Aremania di Depan Balai Kota Malang

| 21 Oct 2022 20:08
Aksi diam #UsutTuntas di depan Balai Kota Malang, Kamis (20/10). (Istimewa)

ERA.id - "Sulit menceritakan tentang Kanjuruhan, Mas. Masih terngiang-ngiang melihat korban sekarat, wajahnya menghitam, berat Mas," ujar Rudi kepada ERA pada Kamis (20/10). Ia berhasil keluar dari stadion pada malam jahanam itu, tapi ia belum bisa kabur dari wajah-wajah orang yang mati.

Kamis (20/10) kemarin, Rudi ikut bergabung dalam aksi diam menuntut keadilan untuk 134 korban jiwa yang jatuh di Malang. Ratusan Aremania berarak dari Stadion Gajayana menuju Balai Kota Malang yang hanya berjarak satu kilometer. Mereka yang biasanya berkostum serba biru, kali itu serempak berpakaian serba hitam.

Tanpa orasi, tanpa pemimpin, ratusan Aremania itu berjalan sambil mempertontonkan isi hati mereka yang tertuang dalam berbagai poster, spanduk, bendera, dan keranda kosong. AKSI INI DITUNGGANGI HATI NURANI, bunyi salah satu spanduk yang dibentangkan di depan keranda. Rudi sendiri menenteng poster bertuliskan: 180+ NYAWA DIBUNUH POLISI!

"180 lebih itu pendataan Aremania waktu di rumah sakit. Versi pemerintah di awal 131, katanya data di rumah sakit dobel-dobel, padahal waktu itu memang sangat banyak yang meninggal Mas," cerita Rudi menerangkan isi posternya. "Beberapa korban juga langsung dibawa pulang keluarganya malam itu juga," lanjutnya.

Peserta aksi diam menuju Balai Kota Malang. (Istimewa)

Sudah lewat dari dua minggu sejak gas air mata ditembakkan di Stadion Kanjuruhan pasca derbi Arema vs Persebaya, Sabtu (1/10). Rentang waktu yang tak cukup lama untuk menuntaskan duka.

Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan telah menyelesaikan laporannya Jumat lalu (14/10). Namun, bukan berarti jumlah korban berhenti sampai disitu. Hari datang dan pergi, lubang kubur terus digali.

Tepat seminggu setelah laporan TGIPF diserahkan ke presiden, seorang pemuda bernama Reyvano gugur pada Jumat (21/10). Ia meninggal dunia di RS Saiful Anwar, usianya masih 17 tahun, dan kurang satu semester lagi ia lulus SMK.

Bagi banyak orang, Reyvano mati bukan karena menonton bola, tapi korban gas air mata. Namun, bagi pihak kepolisian, Reyvano dan korban lain mati karena ulah suporter bola yang anarkis.

Hal ini seperti disampaikan Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo pada Senin (10/10) bahwa gas air mata tidak mematikan, atau rekonstruksi kasus Tragedi Kanjuruhan di Mapolda Jawa Timur, Surabaya pada hari Rabu (19/10).

Dalam rekonstruksi tersebut, tak ada adegan penembakan gas air mata ke arah tribun penonton, selain mengarah ke settle ban atau pinggir lapangan. Sangat kontras dibandingkan video-video yang memperlihatkan proyektil meluncur ke tribun. Rekonstruksi itu pada akhirnya ikut memancing Aremania dari akar rumput untuk turun ke jalan.

Spontanitas akar rumput menuntut keadilan

Sebelum aksi Kamis kemarin, lebih dari seratus Aremania sudah berkumpul di Gedung KNPI, Malang pada hari Jumat (14/10) untuk rapat membahas rencana aksi. Banyak yang tidak kenal wajah satu sama lain, beberapa bahkan datang sendirian.

Salah seorang pentolan Aremania, Andi Koreng memandu rapat itu. "Sido aksi gak?" tanya Andi di hadapan puluhan pasang mata yang menyaksikan. Para pendengarnya serentak menjawab: JADI! Satu per satu Aremania mengangkat tangan dan mengungkapkan alasan mereka ingin turun ke jalan.

"Siapa yang bisa menjamin kalau kita aksi ke jalan akan benar-benar berjalan damai dan tidak disusupi provokator?" tanya Andi sekali lagi. Kali ini, tak ada yang bisa menjawab. Setelah berdiskusi, akhirnya mereka memutuskan untuk menunda aksi hingga suasana lebih kondusif dan menunggu hasil rekonstruksi di Mapolda Jawa Timur.

"Sebelumnya kita sepakat tidak turun aksi," ujar Rudi. "Tapi, karena ada kabar korban diintimadasi aparat, dan hasil rekonstruksi bahwa tidak ada gas air mata ke tribun, kita semua tergerak turun."

Seorang Aremania lain, Joshua, yang juga berada di stadion saat Tragedi Kanjuruhan berkata ke ERA, "Aksi yang dilakukan spontanitas. Kami dari grassroot spontan turun ke jalan."

Setelah hasil rekonstruksi di Mapolda Jatim keluar, sontak saja banyak orang yang sakit hati dan merasa dikhianati, lebih-lebih Aremania. Kabar menyebar cepat, dan entah siapa yang memulainya, notifikasi di ponsel masing-masing peserta aksi berbunyi, memanggil mereka untuk berkumpul di Stadion Gajayana.

Peserta aksi diam berkumpul depan Balai Kota Malang. (Istimewa)

Tak ada yang benar-benar tahu siapa yang pertama kali memanggil mereka untuk turun ke jalan, yang mereka tahu, ratusan orang sudah berkumpul di sekitaran stadion dengan tujuan yang sama: menuntut keadilan.

"Kumpul jam setengah sepuluh pagi, selesai kurang lebih jam sebelas," ujar Joshua.

Hampir seluruh peserta yang berkumpul mengenakan pakaian serba hitam, seperti Aksi Kamisan di depan istana. Tak hanya Aremania yang datang, beberapa orang tampak memakai kaos Persija Jakarta dan syal klub bola lain seperti PSIS Semarang.

Peserta aksi diam membentangkan poster protes. (Istimewa)

"Kami sepakat aksi ini sebagai aksi diam dan hanya membawa tulisan, poster, banner yang dapat didengar," ujar Rudi.

Ucapan Rudi terbukti benar. Para peserta aksi bergerak seperti satu tubuh, mereka berjalan ke Balai Kota sambil memendam luka, kesedihan, dan kemarahan yang disimpan dengan baik. Hanya nyanyian atau tulisan di atas kain dan kertas yang bersuara untuk mereka: USUT TUNTAS; GAS AIR MATA PENCABUT NYAWA; REVOLUSI PSSI; DIBAYAR RAKYAT MEMBUNUH RAKYAT; DARAH KERINGAT DAN AIR MATA.

Seperti dendam, keadilan harus dibayar tuntas

Tak butuh waktu lama peserta aksi sampai di depan Balai Kota dari Stadion Gajayana. Di sana mereka merebahkan keranda kosong bertuliskan MATI HATI NURANI dengan hiasan bunga melati.

Para peserta aksi diam menggotong keranda. (Istimewa)

Dua hari sebelum aksi di Malang, Presiden FIFA Gianni Infantino bertemu dengan Ketua Umum PSSI Mochammad Iriawan atau Iwan Bule. Dari seluruh potret yang diunggah akun PSSI, kedua orang itu hampir selalu tampak tersenyum atau tertawa.

Puncaknya, mereka menutup pertemuan dalam rangka perbaikan sepak bola Indonesia itu dengan bermain fun football di Stadion Madya Gelora Bung Karno pada Selasa malam (18/10). Mereka bermain bola saat banyak korban Tragedi Kanjuruhan masih berjuang hidup atau meregang nyawa di rumah sakit.

Sementara itu, ratusan peserta aksi memasang wajah tanpa ekspresi di depan Balai Kota Malang. Mereka hanya diam menatapi gedung bekas kolonial Belanda yang kini dipakai kantor untuk pejabat Pemerintah Kota Malang. Bagi Aremania, gedung itu tak lebih dingin dari sikap orang-orang di dalamnya atas Tragedi Kanjuruhan.

"Para pemimpin Malang Raya hanya bilang berduka, tak ada yang menyuarakan usut tuntas Tragedi Kanjuruhan," kata Rudi.

Sebelum peserta aksi mengundurkan diri ke Stadion Gajayana, Walikota Malang Sutiaji sempat keluar dari Balai Kota dan mendatangi mereka. Serentak, tanpa komando atau aba-aba, para peserta aksi berdiri dan memalingkan badan ke arah berlawanan. Merasa kedatangannya tak diterima, Sutiaji kembali masuk ke kantornya dengan pengawalan Satpol PP.

"Kita lakukan itu karena kita kecewa," tegas Rudi.

Tak lama kemudian mereka pamit undur diri. Aksi diam di depan Balai Kota diakhiri dengan lagu Bagimu Negeri ciptaan Kusbini yang dinyanyikan bersama-sama.

Rudi menjelaskan bahwa peserta aksi tak ingin berlama-lama di sana. "Aksinya tadi cukup singkat Mas, karena memang kita tidak mau merugikan pengguna jalan," ucapnya.

Ratusan Aremania berkumpul untuk aksi diam di depan Balai Kota Malang. (Istimewa)

"Saya harap kasus ini benar-benar diusut tuntas, dan korban meninggal atau luka mendapat keadilan seadil-adilnya, saya tidak ingin ada Kanjuruhan yang lain," ucap Rudi lirih penuh pengharapan. "Satu lagi, tolong untuk para penguasa, baik pihak kepolisian, pemerintah, dan PSSI, berhentilah bersikap bodoh untuk negeri ini," tutupnya.

Rekomendasi