Serba-Serbi Problematika Sekolah Jam 5 Pagi

| 02 Mar 2023 20:35
Serba-Serbi Problematika Sekolah Jam 5 Pagi
Ilustrasi. (ERA/Luthfia Arifah Ziyad)

ERA.id - Viktor Bungtilu Laiskodat pernah mengaku jadi utusan Tuhan saat acara bersama tetua adat Sumba Timur pada Februari tahun lalu. "Saya datang ke Nusa Tenggara Timur diperintah Tuhan untuk datang bekerja membangun Nusa Tenggara Timur," ucapnya pas sambutan, Sabtu (12/2/2022).

Laiskodat, Gubernur NTT yang masa jabatannya bakal berakhir tahun ini belakangan meminta murid-murid SMA dan SMK masuk sekolah pukul 05.00 WITA. Hal itu ia sampaikan saat pertemuan dengan sejumlah guru dan kepala sekolah SMA dan SMK di Kupang, Kamis (23/2/2023).

"Anak itu harus dibiasakan bangun pukul 04.00 WITA," ujar Laiskodat mengarahkan. "Sehingga pukul 05.00 WITA sudah harus di sekolah, supaya apa? Ikut etos kerja!"

Kami percaya itu bukan perintah dari Tuhan. Jam-jam segitu lebih masuk akal jika Tuhan memerintahkan manusia berdoa sambil mempersiapkan diri menyambut terbit matahari. Jelas instruksi untuk masuk sekolah jam 5 tadi hanya perintah Laiskodat semata. Ia tak bisa mendaku diri dapat ilham dari langit.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat.

Kebijakan masuk sekolah pukul 05.00 WITA bakal mulai diujicoba di 10 sekolah di Kupang: SMA 1; SMA 2; SMA 3; SMA 5; SMA 6; SMK 1; SMK 2; SMK 3; dan SMK 4. Namun, sejak Selasa kemarin (28/2/2023), SMA Negeri 1 Kota Kupang sudah mulai menerapkannya.

Kepala Ombudsman NTT Darius Beda Daton merasa keberatan dan meminta kebijakan itu dikaji ulang sambil mempertanyakan: Urgensinya apa? Orang-orang juga bertanya-tanya, mungkin termasuk ibu-ibu di Kupang hingga security sekolah yang tiba-tiba kedapatan shift jaga subuh. 

Bahkan, anggota dewan di Senayan saja bisa berpikir logis buat masalah ini. Misalnya, Komisi X DPR RI yang menentang keras rencana Pemprov NTT buat memajukan jam sekolah. Ketua Komisi X DPR RI Saiful Huda bilang, masih banyak cara lain buat ningkatin kualitas dan mutu pendidikan. "Saya tidak setuju dengan kebijakan itu!" ujarnya kepada wartawan, Selasa (28/2/2023).

Di tulisan ini akan kami jelaskan mengapa sebaiknya rencana masuk sekolah jam 5 pagi sekadar jadi guyonan saja dan tak usah diseriusi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di NTT.

Kantor mana yang buka jam 5 pagi?

Laiskodat bilang kebijakan di atas biar anak sekolahan punya etos kerja. Bangun jam 4, siap-siap setengah jam, ditambah perjalanan ke sekolah setengah jam lagi. Pertanyaannya, kalau mau mengajarkan etos kerja, kantor mana sih di NTT yang pekerjanya masuk jam 5 pagi? PNS saja baru mulai kerja jam 8. Kami sendiri tak yakin Laiskodat sudah siap kerja sejak jam 5.

Malah, sedari zaman baheula, anak sekolahan selalu masuk lebih dulu ketimbang pekerja kantoran. Kalau bicara soal jam masuk, dibanding murid-murid SMA yang dituntut punya etos kerja, bukankah pekerja yang seharusnya mencontoh etos pelajar? Ini kok kebalik?

Lagian para pelajar sudah biasa bangun pagi, minimal sebelum jam 6 buat siap-siap ke sekolah dan sarapan. Yang muslim bahkan diajarkan sejak kecil buat bangun pas fajar terbit biar bisa salat subuh. Kembali lagi ke pertanyaan Kepala Ombudsman NTT Darius, masuk sekolah pukul 05.00 WITA apa urgensinya?

Menambah beban orang tua

Masuk sekolah jam 5 pagi bukan hanya merepotkan buat para pelajar, tapi juga jadi PR buat orang tua di rumah yang bertugas nyiapin sarapan. Jam segitu kan belum ada warung yang buka, tukang gorengan juga masih nyiapin adonan dan belum manasin minyak di wajan.

Bisa dibayangkan suasana rumah tangga di seantero NTT kalau kebijakan itu benar-benar diterapkan, pasti tiap bulan seperti bulan puasa gara-gara ibu-ibu berasa masak sahur tiap hari. Padahal penduduk di sana mayoritasnya Katolik. 

Bukan hanya perkara sarapan, keselamatan anak-anak juga jadi taruhannya. Lagi-lagi, ini bikin repot orang tua di rumah yang cemas anaknya kenapa-napa pas berangkat sekolah. Siapa sih orang tua yang tak khawatir anaknya keliaran di jalan gelap-gelapan? 

Suasana di SMAN 1 Kupang setelah pemberlakuan masuk pukul 05.00 WITA. (ANTARA/Kornelis Kaha)

Ofni Otu, salah satu wali murid di SMAN 1 Kupang mengaku suka was-was melepas anaknya berangkat sekolah pagi-pagi buta.

"Kalau menurut saya, kebijakan yang dikeluarkan dan ditetapkan terlalu terburu-buru tanpa memikirkan dampak bagi anak-anak," ucap Ofni saat mengantar anaknya ke sekolah, Rabu (1/2/2023). 

Ia juga bilang kebanyakan orang tua wali murid menolak kebijakan itu, karena mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya yang harus berangkat ke sekolah setengah 5 pagi biar tidak terlambat. Jam-jam segitu menurutnya masih rawan aksi-aksi kriminalitas dan mengganggu mental anak-anak.

"Karena itu, tadi saya sendiri yang mengantar anak saya dari rumah. Karena sampai dengan jam 06.00 WITA kendaraan umum seperti bemo belum beroperasi," tambahnya lagi.

Ina, seorang wali murid lain juga mengaku merasakan hal yang sama seperti Ofni. Ia bahkan harus membuntuti anak perempuannya pas berangkat sekolah biar bisa memastikannya selamat sampai tujuan.

"Sebenarnya beban juga, karena harus pagi-pagi sekali berangkat dari rumah dengan jalanan masih sepi sekali. Tetapi mau bagaimana lagi ini demi masa depan anak jadi ikut saja," ucap Ina. Laiskodat mana kepikiran masalah begini?

Sekolah makin pagi, murid makin rentan depresi

Sudah banyak penelitian yang bilang kalau masuk sekolah kepagian berdampak buruk buat pelajar, baik masalah kesehatan fisik maupun mental.  

Direktur Pusat Gangguan Tidur Pediatric di Rumah Sakit Anak Boston, Judith Owens mengatakan kalau remaja punya dorongan tidur lebih lambat ketimbang anak-anak. Katanya, remaja bakal sulit buat tidur di bawah pukul 11 malam. Kalau jam sekolahnya dimajukan, otomatis mereka bakal kekurangan waktu tidur yang dibutuhkan.

Selain itu, menurut penelitian Kyla Wahlstrom bertajuk Findings From the First Longitudinal Study of Later High School Start Times, ia menyimpulkan kalau anak-anak yang sekolah lebih dini cenderung lebih rentan mengalami depresi. Ia membandingkan antara pelajar SMA di Minneapolis yang masuk pukul 07.15 dengan mereka yang masuk pukul 08.30. 

“Pelajar SMA yang mulai jam 08.30 atau sesudahnya, secara statistik dilaporkan mengalami lebih sedikit perasaan depresi seperti rasa bosan melakukan sesuatu; bingung menentukan mau tidur atau begadang; merasa sedih; merasa masa depan suram; gugup dan gelisah; dan terlalu mengkhawatirkan sesuatu, ketimbang mereka yang memulai sekolah lebih dini,” tulis penelitian tersebut.

Masih banyak lagi penelitian seputar jam masuk sekolah yang ideal bagi anak-anak mulai tingkat dasar hingga menengah. Namun, Laiskodat tentu lebih sibuk jadi gubernur dan menjalankan perintah Tuhan untuk membangun NTT daripada harus membaca berbagai pendapat para ahli. 

Rekomendasi