Lahir di Era Digital Serba Touch Screen, Apa Pentingnya Anak Belajar Menulis Konvensional?

Tim Editor

Ilustrasi anak belajar menulis (Unsplash/@cdc)

ERA.id - Era digitalisasi telah merambah, kemajuan teknologi telah memberikan warna baru dalam industri pendidikan Nasional. Namun, kecanggihan dan kemudahan yang ditawarkan, tidak akan menggantikan cara konvensional yang berperan penting terhadap kualitas pembelajaran anak, yakni dengan menulis.

Meski lahir di era digital, masih pentingkah anak belajar menulis secara konvensional?

Tahun ini SiDU melakukan sosialisasi digital kepada para guru dan orang tua di Indonesia mengenai pentingnya mempertahankan budaya menulis di buku tulis bagi anak-anak dengan gerakan "Ayo Menulis Bersama SiDU”

“SiDU menyelenggarakan kegiatan ini dilandasi akan realita tantangan pendidikan yang semakin nyata. Tidak hanya melihat dari rendahnya tingkat kompetensi anak bangsa di kancah Internasional, namun perubahan dinamika pembelajaran di era pandemi ini menjadi perhatian khusus SiDU mengenai aktivitas literasi anak, yaitu menulis yang berkurang drastis porsinya daripada biasanya. Sedangkan kompetensi anak di masa depan erat kaitannya dengan kebiasaan menulis yang dilakukan dari kecil,” ungkap Santo Yuwana, Kepala Divisi Lokal Marketing APP Sinar Mas melalui webinar "Ayo Menulis Bersama SiDU webinar 2020" pada Kamis (3/12/2020).

Paparan gadget atau gawai kepada anak selama proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tidak dapat terhindarkan, pasalnya e-learning adalah sebuah inovasi terbaik dalam memberikan pemerataan informasi ilmu pengetahuan dan komunikasi ke seluruh daerah di Indonesia.

Namun, keselarasan dengan cara konvensional seperti menulis atau mencatat kembali hasil pembelajaran di buku tulis patut terus digalakan oleh semua pihak kepada pelajar-pelajar Indonesia.

“Menulis mempunyai manfaat besar yang dapat meningkatkan kemajuan cara berpikir anak ke depannya. Menulis setidaknya memiliki tiga manfaat utama, yaitu meningkatkan kemampuan motorik halus, melatih kreativitas, serta dapat meningkatkan daya ingat melalui metode belajar memahami sambil menulis pelajaran," ungkap Marcelina Melisa, M.Psi, Psikolog.

Menurutnya, aktivitas menulis membiasakan anak untuk mengontrol gerakan motorik dengan tekanan yang sesuai, dan memiliki persepsi visual yang baik. Anak juga mengembangkan imajinasi dan kreativitas melalui ide tulisan.

Selain itu, melalui merangkum atau membuat catatan pelajaran dengan gaya penulisan personal dapat meningkatkan daya ingat dibandingkan jika anak hanya membaca dan menghafal. Jika anak terbiasa untuk membuat rencana penulisan dengan memaparkan ide, belajar menulis sesuai dengan ide utama setiap paragraf, serta menganalisis cara penulisan, maka kemampuan menulis secara sistematis akan terlatih.

Pentingnya aktivitas menulis daripada mengetik dengan keyboard ini pun diperkuat oleh sebuah riset yang dilakukan oleh Profesor Audrey van der Meer pada tahun 2017. Dalam penelitiannya beliau menggunakan teknologi Electroencephalography (EEG) untuk merekam dan melacak aktivitas gelombang otak saat anak melakukan kegiatan mengetik dan menulis dengan pena di atas buku tulis.

Hasil dari penelitian Van der Meer mengungkapkan jika otak anak-anak lebih aktif jika menulis dengan pena ketimbang keyboard, dan tulisan tangan memberikan otak lebih banyak ruang untuk mengingat1.

Tidak hanya unsur kognisi anak yang berkembang, namun menulis dapat meningkat sensimotorik anak. Menulis dengan tangan di atas buku tulis menciptakan lebih banyak aktivitas di bagian sensorimotor. Banyak indra diaktifkan dengan menekan pensil atau pulpen diatas kertas, melihat huruf yang ditulis, dan mendengar suara yang dibuat saat menulis. Pengalaman indera ini menciptakan kontak antara berbagai bagian otak dan membuka otak untuk belajar sehingga dapat mengingat lebih baik. Sehingga hal ini merupakan alasan mengapa kegiatan menulis dapat membuat anak menjadi lebih pintar.

“Kecintaan anak terhadap menulis pastinya tidak akan berjalan semulus seperti yang diharapkan, apalagi dimasa pandemi Covid-19 ini, yang mana anak diharuskan untuk melalui proses pembelajaran di rumah tanpa kendali guru secara langsung. Namun, seiring dengan perkembangan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang salah satu poinnya fokus memberikan aktivitas atau tugas pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan minat dan kondisi anak, pendidik memiliki keleluasaan untuk bantu meningkatkan minat menulis anak melalui aktivitas yang menyenangkan," tutur Dr. Lanny Anggraini, Analisis Pelaksana Kurikulum Pendidikan, Direktorat Sekolah Dasar Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.

 

 

 

Dr. Lanny Anggraini mengatakan dalam memberikan serangkaian aktivitas, peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk terus menerus menciptakan suasana belajar yang efektif. Sehingga, dengan terus membantu anak mengimplementasikan kegiatan sederhana dengan aktif menulis di buku tulis, guru dan orang tua dapat membantu kualitas pendidikan Nasional dan turut andil dalam peningkatan kompetensi generasi masa depan bangsa.

Tag: anak

Bagikan: