Auto Brewery Syndrome: Produksi Alkohol Alami dalam Tubuh

Tim Editor

Ilustrasi (Michal Jarmoluk/Pixabay)

Jakarta, era.id - Selama lebih dari enam tahun, seorang pria di North Carolina secara terus-menerus ditemukan dalam keadaan mabuk. Padahal, dirinya berkali-kali membantah mengonsumsi minuman beralkohol. Hal ini karena ia menderita auto-brewery syndrome (ABS).

Gejala mabuk yang terus dialami oleh pria ini muncul pertama kali saat dirinya mengonsumsi antibiotik pada 2011 akibat cedera ibu jari. Obat itu diketahui mengganggu mikrobioma usus atau komunitas mikro organisme seperti bakteri dan jamur.

Sejak saat itu, pria ini kerap menunjukkan perilaku yang aneh. Ia berperilaku layaknya orang yang mabuk berat. Sikapnya agresif, tingkat kesadarannya kurang, hingga konsentrasinya pun tertanggu. Hingga pada puncaknya, ia ditahan oleh polisi karena ditangkap mengemudi dalam keadaan mabuk. Sang pria tetap membantah tuduhan itu.

Kepolisian memintanya untuk dilakukan tes breathalyzer. Tes breathalyzer merupakan salah satu alat ukur kandungan alkohol. Alat ini dikhususkan untuk pengukuran kadar alkohol dalam nafas. Namun ia menolaknya. Akhirnya ia dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Saat itu, dokter bahkan belum menemukan kalau pria itu terkena sindrom langka. Tak ada yang percaya saat pria itu kukuh mengaku tak minum minuman alkohol. Namun, hasil dari pemeriksaan mengatakan bahwa kadar alkohol dalam tubuh pria itu ditemukan sekitar 0,2 persen, atau 2,5 kali batas hukum dan setara dengan mengkonsumsi 10 minuman dalam waktu satu jam.

Untungnya, bibi pria berusia 40 tahun itu memberi tahu kalau ada pria lain yang mengalami kasus serupa di Ohio. Mereka lalu pergi ke klinik di Ohio dan melakukan sejumlah pemeriksaan seperti tes tinja dan percobaan mengonsumsi karbohidrat.

Akhirnya semua pertanyaan itu terjawab. Pekan lalu, para peneliti di Pusat Medis Universitas Richmond di New York akhirnya menemukan jawabannya. Dilansir CNN, Rabu (6/11/2019), para peneliti sependapat dengan pria itu, dan mengatakan pria itu tak minum bir atau koktail. 

Dalam studinya, peneliti menemukan ada ragi di dalam ususnya yang kemungkinan mengubah karbohidrat dalam makanan yang ia makan menjadi alkohol. Membingungkan? Memang. Intinya, tubuh pria ini memproduksi sendiri alkohol.
 

Temuan ini dilaporkan dalam sebuah penelitian di BMJ Open Gastroenterology. Pria yang identitasnya tak diungkapkan ini, memiliki kondisi medis yang sangat langka. Kondisi ini disebut sebagai auto-brewery syndrome (ABS), atau dikenal sebagai sindrom fermentasi usus.

Sindrom ini terjadi ketika ragi yang ada di dalam saluran pencernaan menyebabkan tubuh mengubah karbohidrat yang dicerna melalui makanan menjadi alkohol. Proses ini biasanya terjadi di saluran pencernaan bagian atas, yang meliputi lambung dan bagian pertama dari usus kecil.

"Pasien yang mengidap sindrom ini memiliki kondisi seperti orang yang minum alkohol; dari bau, napas, kantuk, hingga perubahan gaya berjalan," ujar Fahad Malik, penulis utama studi dan kepala kedokteran internal di University of Alabama di Birmingham kepada CNN. 

"Mereka akan terlihat sebagai seseorang yang mabuk. Tetapi, satu-satunya perbedaan di sini adalah pasien ini dapat diobati dengan obat antijamur."

Pria itu lalu menerima terapi dari Richmond University Medical Center selama dua bulan. Terapi itu berhasil mengembalikan kondisinya menjadi normal.

Tag: alkohol kesehatan

Bagikan: