Ancaman dari Sampah Plastik Kemasan Sachet

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (Sewhot.co.uk)

Bandung, era.id – Volume sampah plastik terus bertambah setiap tahun. Padahal pemerintah sudah gencar melakukan kampanye untuk menekan penggunaan kantong plastik dan sedotan plastik. Tapi ada satu produk plastik yang luput dari kampanye tersebut, yakni kemasan kecil produk atau sachet.

Sampah produk kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods atau FMCG) menjadi temuan terbanyak pada kategori sampah bermerek dalam kegiatan audit merek selama tahun 2016-2019 versi Greenpeace Indonesia.

Greenpeace Indonesia merilis, sejumlah perusahaan yang teratas menyumbang sampah plastik. Sebagian besar merek penyumbang sampah berada dalam industri makanan dan minuman, sebuah kategori industri yang terus berkembang setiap tahunnya mengikuti pertumbuhan populasi dan tingkat daya beli masyarakat. Ditambah lagi, produsen kini gencar menjual produk dalam kemasan ekonomis seperti kemasan sachet.

Berdasarkan laporan terbaru Greenpeace berjudul “Throwing Away The Future: How Companies Still Have It Wrong on Plastic Pollution “Solutions”, sebanyak 855 miliar kemasan sachet terjual di pasar global pada tahun ini, sedangkan Asia Tenggara memegang pangsa pasar sekitar 50%. Diprediksi jumlah kemasan sachet yang terjual akan mencapai 1,3 triliun pada tahun 2027.

“Ketika industri terus bertumbuh, volume sampah plastik pun akan meningkat, karena industri masih mengandalkan plastik sekali pakai sebagai kemasan,” kata Muharram Atha Rasyadi, juru kampanye Urban Greenpeace Indonesia, melalui keterangan resminya, Rabu (13/11/2019).



Volume sampah plastik yang semakin besar menjadi momok bagi lingkungan dan masyarakat Indonesia. Pasalnya, daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) terbatas. Belum lagi, tidak semua sampah plastik bisa didaur ulang.

"Pengurangan produksi plastik sekali pakai dan penerapan konsep ekonomi sirkular merupakan solusi utama dari krisis masalah plastik,” tegas Atha.

Selain sampah bermerek, audit Greenpeace Indonesia juga menyoroti temuan sampah non merek seperti sedotan, styrofoam, ataupun kantong plastik. Pada audit merek 2019, sedotan menjadi sampah non merek terbanyak dengan porsi 16% (2.228 buah) dari total sampah merek dan non merek sebanyak 13.539 buah. Menyusul berikutnya, sampah kantong plastik sebanyak 1.503 buah atau 11% dan puntung rokok sebesar 475 buah atau 4%.

Di samping perusahaan, pemerintah dinilai turut berandil besar dalam mengurai krisis plastik. Peraturan Menteri sebagai turunan dari Undang-undang (UU) Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah harus segera direalisasikan. Tentunya peraturan harus berisi petunjuk bagaimana perusahaan melaksanakan tanggung jawab atas sampah kemasan produknya dan sanksi apabila melakukan pelanggaran.

“Sudah tujuh tahun berlalu sejak PP No. 81 Tahun 2012 memerintahkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk membuat peraturan tentang pengurangan sampah oleh produsen. Semoga peraturan tersebut dapat segera ditetapkan, dan memuat aturan yang ketat bagi produsen untuk mengurangi secara signifikan penggunaan plastik sekali pakai dalam proses produksinya,” kata Fajri Fadhillah, Kepala Divisi Pengendalian Pencemaran Lingkungan ICEL.

Tag: hari lingkungan hidup berdamai dengan sampah plastik

Bagikan: