Tikus Bambu, Kuliner Eksotis yang Sempat Populer di China

Tim Editor

Tikus bambu. (Foto: Istimewa)

Jakarta, era.id - Sudah sejak lama masyarakat di China mengenal tikus bambu sebagai sebuah hidangan. Hewan pengerat yang punya nama ilmiah Rhizomys sumatrensis ini digemari untuk dikonsumsi karena diklaim berkhasiat dan kaya nutrisi.

Namun, sejak pandemi COVID-19 merebak di China, penjualan tikus bambu termasuk mengolahnya sebagai hidangan menjadi dilarang. Padahal sebelumnya, banyak petani yang berternak tikus bambu.

Hidangan tikus bambu ini sebetulnya sudah populer sejak zaman Dinasti Zhou (1046-256 SM). Selain rasa yang eksotis, warga China percaya daging tikus bambu bisa mengeluarkan racun dari tubuh hingga meningkatkan kesehatan perut.

Keputusan melarang menjual hewan-hewan liar juga dikemukakan oleh ahli epidemiologi terkemuka, Dr Zhong Nanshan pada Januari 2020. Ia mengatakan epidemi itu berkaitan dengan kebiasaan mengonsumsi tikus bambu.

Walhasil, Pemerintah China pun turut melarang perdagangan hewan liar lain dan membuat 25 juta tikus bambu terbengkalai di berbagai pertanian di China, khususnya di wilayah selatan.



Dr Li, Spesialis Kebijakan China dari Badan Amal Kesejahteraan Hewan, Humane Society International mengatakan bahwa pedagang tikus bambu di Pasar Wuhan hanya beberapa saja.

"Biasanya, tikus bambu hidup akan dikirim langsung ke restoran dan kedai yang berurusan dengan makanan eksotis," ujarnya

"Tidak lebih dari 10 persen dan hanya sebagian kecil tikus bambu yang dijual di pasar Guangdong dan Guangxi," lanjutnya.

Pakar itu kemudian membantah terkait tikus bambu yang diklaim bernutrisi. Ia juga mengatakan para pedagang mengabadikan desas-desus yang tidak ilmiah serta tidak ada bukti kuat.

Tikus bambu baru mulai didomestikasi sepenuhnya pada tahun 80-an, dengan penelitian pengendalian penyakit pada hewan masih terbatas. Kebijakan itu membuat peternak di Dongguan, Guangdong telah membunuh lebih dari 3.000 tikus bambu karena tidak ada yang mau membeli.

Dr Li kemudian meminta pemerintah untuk membantu mentransisikan para petani itu ke mata pencaharian lain, seperti menanam jamur. Namun, kebiasaan itu sulit dihilangkan. Sebab, pedagang hewan pengerat menganggap tikus bambu sebagai sumber protein.

Untuk diketahui, harga tikus bambu di China bersaing dengan ayam dan babi. Satu ekor tikus bambu masih hidup harganya bisa mencapai 1000 Yuan atau sekitar Rp2,2 juta. Sementara, daging tikus yang sudah dibakar harganya mencapai 280 Yuan atau Rp616 ribu per kg.

Sebelumnya, Koki YouTuber asal China, Wang Gang, juga menunjukkan kepada publik cara memasak tikus bambu yang telah dilihat sebanyak 6 juta penonton. Tidak tahu pasti, apakah larangan itu akan diperpanjang atau ditegakkan setelah pandemi selesai.

Tag: kuliner ramadan

Bagikan: