Sir Ken Aston dan Sejarah Dua Kartu 'Sakti' Milik Wasit

Tim Editor

    Ilustrasi (Goal)

    Jakarta, era.id - Wasit adalah seorang yang memiliki wewenang untuk memimpin jalannya suatu pertandingan olahraga. Dalam sepak bola, seorang wasit ditemani setidaknya dua hakim garis, satu wasit cadangan dan penilai wasit. Mereka semua termasuk dalam perangkat pertandingan.

    Profesi ini, pertama kali diperkenalkan oleh orang Inggris yang bernama Ricard Mulcaster pada tahun 1581, dia menyarankan menggunakan hakim untuk menyelesaikan perselisihan dari pihak yang bertikai.

    Di era modern, wasit pertama kali diperkenalkan oleh sebuah sekolahan di Inggris pada saat itu ada sebuah pertandingan antara Bodyguard Club vs Fearnought Club.

    Pada awalnya pertandingan sepak bola diasumsikan bahwa jika ada sebuah perselisihan bisa diselesaikan dengan damai dengan pihak yang terlibat seperti para pemain, pelatih, dan klub.

    Namun, dengan perkembangan sepak bola yang kompetitif, maka kebutuhan akan hadirnya wasit sangat diperlukan. Adapun syarat untuk menjadi seorang wasit, adalah dia harus berlaku jujur dan adil dalam memimpin sepak bola. Selain itu, seseorang yang ingin menjadi wasit paling tidak harus mengetahui dasar permainan sepak bola.

    Wasit pun memiliki sumpah profesi. “Saya berjanji bersungguh-sungguh akan memenuhi kewajiban sebagai wasit dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh dasar dan tujuan PSSI, menjalankan semua peraturan PSSI dengan sebaik-baiknya, demi keluhuran Korps Wasit pada khususnya serta keolahragaan pada umumnya,” seperti dikutip dari situs PSSI, Rabu (20/5/2020).

    Selain peluit, wasit juga dibekali dengan dua kartu 'sakti' yakni kartu kuning dan merah. Keduanya digunakan untuk mengganjar pemain yang melakukan pelanggaran sedang hingga berat saat berada di lapangan.

    Kartu kuning digunakan untuk memberikan peringatan serius kepada pemain agar tidak mengulanginya. Sementara, kartu merah digunakan untuk pelanggaran yang sudah sangat fatal, sehingga pemain yang diberikan kartu merah harus meninggalkan timnya dan keluar lapangan.

    Dua kali kartu kuning yang diterima oleh seorang pemain, secara otomatis menjadi kartu merah yang berarti pemain yang bersangkutan harus menepi dan berhenti bermain.

    Dilansir dari situs FIFA, kartu merah dan kartu kuning berasal dari ide seorang wasit asal Inggris Ken Aston, yang kebingungan saat memberikan hukuman kepada pemain yang menggunakan bahasa berbeda saat berbicara dengan dirinya.

    Pada Piala Dunia 1962 di Chile, terjadi keributan hebat pada pertandingan yang mempertemukan Chile dan Italia. Aston akan mengeluarkan pemain Italia, Giorgino Ferrini sebagai bentuk hukuman atas pelanggaran yang dia buat. Akan tetapi, perintahnya yang disampaikan dalam bahasa Inggris tidak dipahami oleh Ferrini sehingga dia tetap berada di lapangan dan bermain dengan lebih arogan. Hingga, akhirnya seorang polisi dilibatkan untuk mengeluarkan Ferrini dari lapangan hijau.

    Terinspirasi Dari Lampu Lalu Lintas

    Seusai pertandingan tersebut, Aston kembali ke rumahnya. Di tengah perjalanan ia terinspirasi dari warna lampu pengatur lalu lintas hijau, kuning, dan merah. Makna dari lampu lalu lintas dipahami oleh semua orang bahkan berbagai negara.

    Warna lampu tersebut dapat menyampaikan pesan kepada pengguna jalan untuk berhenti, bersiap, atau jalan, tanpa menggunakan instruksi verbal. Dari situlah Aston terpikir untuk membuat dua buah kartu sebagai penanda hukuman kepada pemain, dengan menggunakan warna kuning dan merah. Kuning dipahami sebagai tanda peringatan, sedangkan merah berarti setop atau berhenti.


    Sir Ken Aston (kenaston.org)

    Ide itu diterima FIFA. Pada Piala Dunia 1970, kartu kuning dan merah kali pertama digunakan. Atas penemuannya, Ken Aston diberi gelar Sir dari Kerajaan Inggris.

    Sayangnya, sepanjang Piala Dunia 1970 tak satu pun pemain yang terkena kartu merah. Hanya kartu kuning yang sempat dikeluarkan sehingga kartu merah tak bisa dikeluarkan pada Piala Dunia 1970.

    Meski ide tersebut datang dari wasit Inggris, negeri itu tak serta merta menerapkannya di kompetisi mereka. Kartu merah dan kuning baru digunakan di kompetisi sepak bola Inggris pada 1976.

    Wasit kemudian terlalu mudah mengeluarkan kartu dan diprotes banyak pemain. Oleh sebab itu, penggunaannya sempat dihentikan pada 1981 dan 1987.

    Uniknya dari semua ini, ternyata ide ini tak hanya digunakan dalam sepak bola, tapi juga diadopsikan di cabang olahraga lain seerti hoki. Bahkan, kartu-kartu peringatan di cabang ini menggunakan tiga warna seperti lampu lalu lintas, yaitu hijau, kuning, dan merah. Hijau untuk peringatan, kuning untuk menskors pemain sementara waktu, dan merah untuk mengeluarkan pemain secara permanen.




     

    Tag: suporter sepak bola

    Bagikan :