Sinergisitas Pendidikan dan Seni

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Perhelatan acara Gema Nusantara di Gedung Kesenian Jakarta (Diah/era.id)

Jakarta, era.id - Pendidikan identik dengan bentuk pengajaran yang sistematis, sedangkan kesenian identik dengan proses kreativitas yang menghasilkan suatu karya. Dari kedua poros tersebut, apa bisa disatukan untuk bersinergi? Jawabannya, tentu bisa.

Sebagai perwujudan sinergisitas pendidikan dan kesenian, Rabu (2/5/2018) malam, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar penampilan karya sebagai aktualisasi seni tari, musik, sastra, dan budaya melalui proses pendidikan bernama Gema Nusantara.

Menurut Dekan FBS UNJ Liliana Muliastuti, pergelaran tersebut diwujudkan untuk mengamalkan nilai-nilai pendidikan yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara.

"Melalui seni tari dan musik tradisional sebenarnya kita bisa belajar nilai-nilai karakter yang dahulu diwariskan. Salah satu nilai yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara adalah sebagai pendidik kita harus memberi teladan di depan, bimbingan di tengah, dan mendorong dari belakang. Nah hal itu bisa dilakukan melalui kesenian," jelas Liliana saat ditemui pada acara Gema Nusantara di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (3/5/2018).

Baca Juga : Suara Anak Indonesia Sanggup Guncangkan Dunia

Liliana melanjutkan, pendidikan bisa mengendalikan jiwa seniman yang 'semau gue'. Menurutnya, seni bukan hanya soal kreativitas tanpa batas.

"Mencintai seni itu belajar tentang kedisiplinan, kerja sama, dan kepekaan terhadap sesama tim. Kalau tidak disiplin, maka tidak akan bisa mewujudkan kolaborasi yang bagus. Karenanya, seniman yang baik sebenarnya pasti miliki pandangan seperti itu," ucap Liliana.

Pekerja seni tidak punya masa depan?

Masih terasa stigma masyarakat melihat para pekerja seni sebagai suatu yang tidak memiliki jaminan kesuksesan. Liliana memandang hal tersebut adalah pola pikir yang salah. Katanya, zaman sekarang telah banyak yang mewujudkan suatu kesenian sebagai proses industri kreatif.

"Tak sedikit mahasiswa lulusan seni yang dicari untuk mengajar kesenian di sekolah maupun sanggar di berbagai provinsi. Selain itu, di era global ini, orang asing juga ingin belajar budaya kita. Bukan tidak mungkin kita juga bisa mengajarkan budaya itu ke luar negeri," tutur Liliana.

"Stigma masyarakat memandang mahasiswa seni itu mau jadi apa, susah mendapat pekerjaan, Sudah selayaknya berubah sekarang. Apalagi jika mereka bisa mengemas kesenian dengan industri kreatif, itu tentu akan sangat menghasilkan," tambahnya.

Baca juga : Alunan Orkestra Klasik di Era Modern

Tag: album musik era pendidikan riwayat pendidikan tri mumpuni

Bagikan: