Membongkar Penyebab Kekalahan Tim Thomas Indonesia

Tim Editor

    Sedang memuat podcast...

    Pemain tunggal, Anthony Sinisuka Ginting (Foto: badmintonindonesia.org)

    Jakarta, era.id - Indonesia gigit jari di Bangkok, Thailand. Langkah Tim Thomas Indonesia dihentikan China 1-3 pada babak semifinal. Tim Uber Indonesia malah terhenti di babak perempat final. Apa yang sebenarnya terjadi?

    Ahli nutrisi olahraga (sport nutritionist) Emilia Achmadi menilai fisik para atlet menjadi kendala bagi tim Indonesia. Ketika harus terjadi rubber game, fisik pemain Indonesia drop.

    "Kalau dilihat secara teknis dalam pertandingan kemarin, seharusnya pemain Indonesia yang sudah luar biasa, bisa menang atas China, namun nampak pemain kita tidak bisa bertahan lama di lapangan dan jika terjadi rubber gim, seperti sudah kartu mati bagi kita," kata Emilia seperti dilansir Antara, Sabtu (26/5/2018).

    Emilia Achmadi adalah ahli nutrisi yang menangani atlet-atlet profesional Indonesia seperti petenis Christopher Rungkat dan Siman Sudartawa (renang). Buat Emilia, persoalan fisik tidak bisa dianggap enteng. Tidak mungkin hanya mengandalkan teknik tanpa didukung stamina yang mumpuni.

    "Itu memang faktor pendukung, tapi faktor pendukung yang sangat penting. Karena jika tidak ada stamina dan endurance, akhirnya akurasi, fleksibilitas dan refleks juga berkurang," bebernya.

    Menurut Emilia, semua cabang olahraga harus memiliki perhitungan matang mengenai gizi yang dibutuhkan untuk tiap atletnya. Langkah itu juga harus digabung dengan penerapan "sport science".

    "Persiapan atlet regenerasi tentu dengan 'sport science' yang serius, lalu pemilihan pelatih bersertifikasi dan mau terus mengembangkan diri. Dan tak kalah penting penerapan gizi yang saat ini masih dianggap enteng oleh semua cabang olahraga harus diubah dengan menerapkan nutrisi atlet spesifik dengan cabang olahraganya serta periodeisasi latihannya," bebernya.


    Cuma pasangan Kevin/Marcus saja yang berhasil mencuri poin dari China (Foto: badmintonindonesia.org)


    Konsistensi yang menurun

    Manajer tim Piala Thomas dan Uber Indonesia 2018 Susi Susanti jelas kecewa dengan hasil ini. Alih-alih bisa mendapatkan hasil lebih baik dibanding tahun 2016 silam. Buat Susi, China memang memiliki kemampuan atlet yang merata di tunggal maupun ganda.

    "Mungkin kalau ketemu Jepang, peluangnya lebih besar. Lawan Denmark pun bisa," kata Susi dilansir dari badmintonindonesia.org.

    Saat berhadapan dengan China di semifinal, Indonesia kehilangan poin pertamanya dari pemain tunggal, Anthony Sinisuka Ginting. Berhadapan dengan Chen Long, Anthony kalah 20-22 dan 16-21. Namun setelahnya, pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon berhasil mengatasi Liu Cheng/Zhang Nan. 

    Sayang di partai berikutnya, Jonatan Christie tak berhasil mengamankan kemenangan. Ia kalah dari Shi Yuqi, 21-18, 12-21 dan 15-21. Di partai keempat, Indonesia kembali kehilangan poin setelah Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan kalah dari Li Junhui/Liu Yuchen. Hasil ini membuat Indonesia kalah 1-3 dan tak berhasil meneruskan langkah ke babak final.

    "Dari hasil hari ini memang harus kami akui, bahwa tim Tiongkok masih lebih kuat," sambung Susi.

    Hasil buruk ini akan jadi evaluasi. Salah satunya soal konsistensi, terutama di sektor ganda. Agak mirip seperti yang dikatakan Emilia di atas. Khusus di tunggal putra, Susi berharap kelak pemain Indonesia bisa sejajar dengan pemain elit dunia.

    "Saat ini persaingan sangat ketat. Di ganda harus lebih konsisten lagi, sedangkan tunggal kami masih ada PR bagaimana untuk meningkatkan performa, konsistensi, permainan lebih matang lagi. Sejauh ini sudah ada peningkatan tapi masih belum konsisten. Masih belum bisa sampai melewati elit dunia. Seperti misalnya Anthony saat bertemu dengan Lee Chong Wei sudah ramai, tapi di akhir saat poin kritis akhirnya kalah. Kalah pengalaman, kalah matang dan juga jam terbang," tegasnya.


    Pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Foto: badmintonindonesia.org)
     

    Tag: badminton

    Bagikan :