Hindia Belanda di Piala Dunia 1938, Banggakah Kita?

| 06 Jun 2018 18:29
Hindia Belanda di Piala Dunia 1938, Banggakah Kita?
Ilustrasi (Rahmad/era.id)
Jakarta, era.id - Negara kita tidak pernah berhenti bermimpi untuk lolos ke Piala Dunia. Animo masyarakat yang besar memuat segudang harapan. Tapi, berkali-kali juga kita gagal melaju ke pesta sepak bola terbesar empat tahunan itu. Baik melalui babak kualifikasi maupun via sistem otomatis menjadi tuan rumah. 

Terakhir, perjuangan Indonesia untuk lolos via keanggotaan tuan rumah pupus setelah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menganggap rakyat Indonesia tidak akan mendukung. Meski demikian, pada pemerintahan Jokowi harapan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 kembali muncul menyusul kondisi politik Qatar yang tidak stabil, terutama terkait isu negara tersebut melakukan penyuapan terhadap mantan pemimpin FIFA, Sepp Blatter.

Sejak dulu, sejarah Indonesia di Piala Dunia selalu menggunakan momen Piala Dunia 1938. Masyarakat sangat bangga akan sejarah itu meski sebenarnya, banyak hal yang membuat kita seharusnya tidak bangga. Ya, saat itu negara kita masih dijajah Belanda dan menggunakan sebutan Hindia Belanda di mana dalam laga pertama melawan Hungaria, Hindia Belanda menderita kekalahan telak enam gol tanpa balas. 

 

Sulit mengukur sejarah kesuksesan sepak bola Tanah Air, karena lolosnya Hindia Belanda ke putaran final Piala Dunia Prancis ini adalah proses dari pengembangan sepak bola Belanda di Tanah Air. Bukan inisiatif masyarakat pribumi itu sendiri. 

Sejarah sepak bola di Indonesia dimulai saat pemerintah kolonial membentuk sebuah organisasi bernama Nederlandsche Indische Football Association (NIVB) pada 1919. Federasi ini kemudian bergabung dengan FIFA lima tahun kemudian.  

Bagi banyak penduduk asli Indonesia, bermain di bawah NIVB adalah penghinaan. Selain sebagai negara kolonial, bermain dengan NIVB tidak akan mampu membangkitkan semangat nasionalisme Indonesia dan hanya untuk menguatkan legitimasi irlander di tanah Indonesia.

Sejumlah asosiasi sepak bola lokal muncul dan melawan. Dengan niatan membangun nasionalisme lewat sepak bola, Soeratin Sosrosoegondo dkk mendirikan Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 19 April 1930. Seiring berjalannya waktu, PSSI diterima. Buah konsolidasi yang rapi dengan berbagai elite sepak bola nasional di berbagai daerah telah menciptakan semangat persatuan nasional lewat sepak bola.

Kekuatan PSSI semakin bertambah seiring dengan kebijakan Soeratin untuk membawa nilai perjuangan olahraga pribumi dalam melawan dominasi Belanda.  Berkembangnya PSSI membuat NIVB kewalahan terutama dalam mengembangkan sumber daya manusia. NIVB lantas mengubah nama menjadi NIVU (Nederlandsh Indische Voetbal Unie) dan merintis kerja sama dengan PSSI yang menghasilkan sebuah kesepakatan bernama Gentlement Agreement.

Pecahnya NIVU dan PSSI berawal saat NIVU mengirimkan pemain ke Piala Dunia 1938 tanpa melakukan pembicaraan lebih dulu dengan PSSI. Hal tersebut dilakukan karena PSSI menolak mendukung NIVU menyusul dilanggarnya berbagai perjanjian kedua belah pihak oleh NIVU. 

Di antaranya adalah tidak diselenggarakannya pertandingan NIVU versus PSSI dan penggunaan bendera NIVU pada pertandingan di Piala Dunia 1938. Padahal dalam kesepakatan yang mereka buat, penggunaan nama Hindia Belanda dalam kompetisi sepak bola haruslah merepresentasikan NIVU dan PSSI, dua organisasi sepak bola yang dianggap legal. Atas kondisi tersebut, Soeratin membatalkan secara sepihak perjanjian dengan NIVU dalam kongres PSSI 1938 di Solo.

Sejarah induk sepak bola kita sama sekali tidak bangga dengan pencapaian tersebut. Bahkan dalam sebuah majalah olahraga edisi Februari 1938 dituliskan, “Telah saja bantah soeara soeatoe pihak yang menanyakan sikap PSSI? Soedah saya djawab: biasa!,” tegas PSSI. 

Terlebih, terpilihnya NIVU ke dalam keanggotaan Piala Dunia 1938 di Prancis terjadi secara kebetulan. Hindia Belanda seharusnya bermain melawan Jepang dan Amerika Serikat dalam partai kualifikasi. Jika menang, maka Hindia Belanda lolos ke Prancis. Namun lantaran kesibukan di luar olahraga, dua calon lawan Hindia Belanda itu tidak bisa bertanding sehingga tiket ke Piala Dunia 1938 pun diberikan kepada Hindia Belanda.

Baca Juga : Muda dan Berbahaya di Piala Dunia

Rekomendasi