Seluk-beluk Wajib Militer di Korea Selatan

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Seoul, era.id - Pertengahan April lalu, personel boyband Bigbang, G-Dragon dilarikan ke rumah sakit Universitas di Seoul saat masih menjalani wajib militer. Entah apa yang terjadi dengan G-Dragon kala itu. Yang jelas, Naver melansir, G-Dragon harus menjalani operasi pergelangan kaki kanan.

Kabar itu langsung memancing kekhawatiran para penggila K-Pop di seluruh dunia, termasuk Indonesia, di mana basis penggemar K-Pop terbilang besar. Ya, kamu semua tahulah bagaimana fanatiknya penggemar K-Pop pada idola mereka.

Enggak cuma mengungkap kekhawatiran mereka, para penggemar K-Pop itu langsung mempertanyakan kebijakan pemerintah Korea Selatan yang mewajibkan penduduk laki-laki mengikuti pelatihan militer. Kebanyakan dari mereka enggak terima, idola yang buat mereka unyu-unyu itu harus digembleng ala militer.

Penggemar K-Pop bernama Andini Nuansa misalnya, yang menyampaikan protesnya di akun Twitter-nya, @AndiniS_. "Knp coba hrs ada penyiksaan kyk gitu. Ikut militer kok dipaksa."

Atau akun Happysuri_97, yang komentarnya lebih menggelitik. Dia bilang: "Cb oppa sm aku aja di sini supaya gk ad yg paksa ikut-ikut militer."

Sah-sah saja, sih. Barangkali, Andini dan Sis Suri yang selalu bahagia itu enggak mengerti apa yang terjadi di Korea Selatan. Dan soal komentar Suri, aku jadi sadar, nasionalisme masyarakat Indonesia ini memang masih sangat membara.

Pemerintah Indonesia barangkali harus bersyukur. Buat pemerintah, enggak perlu tuh repot-repot bikin sistem wajib militer. Konon, di Indonesia ini, orang-orang bahkan rela bayar ratusan juta untuk jadi tentara. Bagaimana enggak nasionalis coba!

Kembali pada kewajiban militer di Korea Selatan. Buat menjawab pertanyaan para penggemar K-Pop yang masih berdiri di atas ketidaktahuan, kami coba bantu cari tahu, deh.



Kebijakan pemerintah

Jadi, wajib militer di Korea Selatan adalah kegiatan bela negara yang wajib dilakukan oleh setiap penduduk laki-laki yang berusia 18-35 tahun. Jadi, pengkategoriannya ada pada jenis kelamin dan rentang usia. Bukan pada berhasil atau enggak berhasilnya operasi plastik seorang pria atau kemampuan menyanyi dan menari hingga ditarik masuk ke dalam sebuah boyband.

Dengan kata lain, yang namanya wajib ya harus. Mau dia oppa, omma, eyyang, buyyut. Pokoknya, selama dia laki-laki sehat berusia 18-35 tahun, dan surat panggilan mengikuti wajib militer masuk ke kotak pos di halaman rumah mereka, ya mereka harus nurut!

Terkait periode wajib militer, pemerintah Korea Selatan menetapkan rentang waktu berbeda buat setiap individu, tergantung di angkatan bersenjata mana mereka menjalani wajib militer. Dilansir The Korea Herald, mereka yang bertempat di Angkatan Darat (AD) wajib menjalani 21 bulan wajib militer. Bagi yang bertempat di Angkatan Laut (AL), mereka harus menjalani masa wajib militers selama 23 bulan, dan 24 bulan bagi mereka yang bernaung di bawah komando Angkatan Udara (AU). 

Selain bersama militer, para pria Korea Selatan sejatinya bisa juga memilih penempatan, entah di kepolisian dengan periode wajib militer selama 21 bulan, atau di unit pemadam kebakaran dengan 23 bulan masa pengabdian. Tapi, memang. Unsur paksaan begitu terasa dalam kebijakan ini.

Seorang warga Korea Selatan, Gene Kim, kepada Business Insider mengatakan, sangat sedikit atau bahkan sama sekali enggak ada orang yang menjalani wajib militer mereka dengan antusias, apalagi bahagia. Tapi, suka enggak suka, wajib militer memang harus dijalani. Sebab, hukuman penjara menanti siapapun yang nekat mangkir.

"Aku belum pernah melihat siapapun yang benar-benar ingin berada di sana ... Umumnya, orang-orang ingin menghindari wajib militer karena, menurutku, ada pemaksaan di dalamnya," katanya.

Yang terjadi pada oppa-mu

Di tahap awal, para peserta wajib menjalani pelatihan dasar. Dalam kamp pelatihan, para peserta wajib melakoni sejumlah gemblengan ala militer, termasuk dicukur cepak ala tentara. Selain itu, para peserta juga cuma diperbolehkan mengenakan perlengkapan militer yang telah disediakan. 

Tahap pelatihan dasar disebut-sebut sebagai bagian paling berat dari seluruh kegiatan wajib militer. Bukan apa-apa, selama menjalani wajib militer, para peserta enggak boleh menggunakan ponsel. Berat enggak tuh, terisolasi dari dunia luar?

Enggak deng. Bukan cuma perkara ponsel. Selama menjalani masa pelatihan, para peserta juga harus berlaku dengan cara yang telah ditetapkan. Mereka enggak boleh makan atau bicara sembarangan. Ada tata caranya sendiri, di mana semua dilakukan untuk membentuk mentalitas prajurit di dalam diri tiap-tiap peserta.

Nah, kalau secara teknis, salah satu bagian paling berat adalah ketika para peserta dimasukkan ke dalam ruangan berisi gas yang menyebabkan mereka sulit bernapas hingga menyebabkan rasa sakit luar biasa di seluruh bagian tubuh.

Di luar itu, sejumlah metode pelatihan dasar seperti baris-berbaris, lari, lompat, push up, mendaki gunung dengan beban perbekalan, hingga belajar menggunakan senjata jadi menu reguler para peserta.

Nasib para oppa di tangan Trump

Penandatanganan komitmen denuklirisasi atau penghentian program pengembangan senjata nuklir yang beberapa kali dibubuhkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un barangkali bisa jadi penyelamat nasib para oppa.

Sebab, penandatanganan komitmen itu secara otomatis menurunkan tensi ketegangan antara Amerika Serikat dan Korea Utara. Nah, kondisi ini tentu berdampak besar bagi hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara, mengingat Korea Selatan adalah negara buntut, eh bukan itu, sekutu kental Amerika Serikat maksud kami.

Kebijakan wajib militer di Korea Selatan enggak terlepas dari kondisi perang yang masih menyelimuti Negeri Ginseng dan saudara segaris sejarah mereka, Korea Utara. Memang, secara teknis, Korea Selatan dan Utara masih dalam kondisi perang.

Sejak pecahnya perang Korea pada 1950-1953, dua negara ini belum pernah berdamai. Upaya paling asyik yang dilakukan kedua negara ini cuma berbentuk gencatan senjata. Dengan kata lain, perang bisa pecah kapan pun. Maka, menyiapkan kekuatan militer sebesar-besarnya --termasuk melibatkan penduduk laki-laki untuk angkat senjata-- jadi hal yang sangat penting buat Korea Selatan.

Biar bagaimana pun, kondisi ini wajib disyukuri oleh para penggemar K-Pop di seluruh dunia, termasuk kita. Iya, aku dan kamu. Syukur-syukur kalau kita sadar untuk mengucapkan langsung rasa syukur mereka kepada Trump dan Kim. Enggak perlu jauh-jauh terbang ke Washington atau Pyongyang. Selipkan saja satu kicauan untuk Trump dan Kim di antara kicauan pemecah kesunyian yang biasa kita lontarkan.

Tag: k-pop

Bagikan: