Ini Profil 11 Panelis Debat Cawapres 2024, Agustinus Prasetyantoko hingga Yose Rizal Damuri

| 21 Dec 2023 16:55
Ini Profil 11 Panelis Debat Cawapres 2024, Agustinus Prasetyantoko hingga Yose Rizal Damuri
Para capres dan cawapres (ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww.)

ERA.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah mengumumkan sebelas tokoh yang akan menjadi panelis debat calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres) sesi kedua Pemilu 2024 pada Jumat, 22 Desember 2023.

Debat yang diikuti para cawapres tersebut mengusung tema ekonomi dengan subtema ekonomi kerakyatan dan ekonomi digital, keuangan, investasi pajak, perdagangan, pe​ngelolaan APBN-APBD, infrastruktur, dan perkotaan.

Sebanyak 11 panelis berasal dari berbagai universitas terkemuka dan peneliti di lembaga kajian ekonomi. Mereka menjalani karantina sejak Rabu (20/12) untuk mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan kritis kepada cawapres Muhaimin Iskandar, Gibran Rakabuming Raka, dan Mahfud MD.

Inilah profil dari para panelis:

1. Ahmad Alamsyah Saragih

Dia merupakan pakar keterbukaan informasi publik dan pelindungan data pribadi yang pernah dipercaya menjadi Ketua Komisi Informasi Pusat RI pada periode 2009-2013 dan Anggota Ombudsman Republik Indonesia periode 2016-2020. Sejumlah peran besar yang telah dilakukan ialah meletakkan fondasi kelembagaan Komisi Informasi, standar layanan informasi, desain monitoring dan evaluasi keterbukaan informasi Badan Publik, dan penjelasan substansi sejumlah aspek dalam keterbukaan informasi. Berbagai keputusan penting yang dihasilkan oleh Alamsyah ketika menjabat sebagai Ketua Komisi Informasi Pusat menjadi pertimbangan komisioner-komisioner selanjutnya dalam menyelesaikan sengketa informasi publik.

Sebelum bekerja di Komisi Informasi Pusat dan Ombudsman, dia pernah terlibat dalam Asosiasi Permukiman Kooperatif (ASPEK) yang bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) untuk program Community Based Housing Development. Kemudian juga bekerja sebagai Local Governance Specialist pada Initiative for Local Governance (ILGR), The World Bank sepanjang 2002-2008.

2. Adhitya Wardhono

Dia adalah Ekonom dan Pengajar Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember. Saat magister, Adhitya berkuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Philipps University Marburg di Jerman, dan pendidikan doktor di Georg-August University of Goettingen di Jerman. Dia terlibat dalam banyak penelitian, seperti “Pendekatan Structural Cointegration Vector Autoregression Dalam Permodelan Makroekonomi” dan “Model Interaksi Kebijakan Moneter dan Makroprudensial di Indonesia: Pendekatan Social Loss Function”. Selain penelitian, berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat juga telah dilakukan, menerbitkan lebih dari 30 artikel ilmiah ke dalam jurnal nasional dan internasional, meluncurkan sekitar 9 buku seperti karya “Perilaku Kebijakan Bank Sentral di Indonesia”, menjadi visiting lecturer di berbagai universitas sejumlah negara, hingga terlibat dalam belasan seminar/workshop/conference. Pada tahun 2016-2021, dia juga pernah menjadi anggota Indonesian Regional Science Association.

3. Agustinus Prasetyantoko

Dia pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Katolik Atma Jaya periode 2015-2023. Pada tahun 1997, Agustinus memperoleh gelar sarjana dari UGM, lalu Faculté des Sciences et Technologies de l'Université de Lille sebagai magister pada 2002, dan gelar Doctor of Philosophy (Phd) di Ecole Normale Superieure de Lyon pada 2008. Beberapa posisi penting yang pernah diduduki Agustinus ialah Chief Economist Bank BTN, Komisaris Independen Prudential Indonesia, Panitia Seleksi Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama Desember 2021-Maret 2022, menjabat sebagai Panitia Seleksi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sejak Oktober 2022 hingga 2028 mendatang. Berbagai karya juga telah diterbitkan, seperti “The bright side of market power in Asian banking: Implications of bank capitalization and financial freedom”, dan “Indonesia's Strategic Role In The G20: Expert Perspectives (Indonesia's Post Pandemic Financial Technology And Financial Inclusion).”

4. Profesor Fauzan Ali Rasyid

Ilmuwan ini merupakan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Dia lahir di Garut, Jawa Barat, 1 Februari 1970. Fauzan sering menjadi tim seleksel anggota Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) di Jawa Barat, diundang sebagai narasumber dalam berbagai acara, hingga menghasilkan sejumlah jurnal terakreditasi nasional dan internasional. Pelbagai publikasi ilmiah yang dihasilkan olehnya berdampak terutama dalam domain hukum dan politik Islam. Adapun kontribusi penting dalam pemikiran akademik ialah pemahaman tentang hubungan antara agama, hukum, dan politik dana konteks kontemporer.

5. Hendri Saparini

Perempuan ini merupakan tokoh dalam bidang ekonomi yang dikenal sebagai peneliti dan konsultan di beberapa lembaga nasional dan internasional. Kini, dirinya dikenal sebagai Ekonom Senior dan Pendiri Center of Reform on Economics (Core) Indonesia. Sebelumnya, Hendri pernah terlibat menjadi antara lain Managing Director ECONIT Advisory Group, Komisaris Utama PT Telkom Indonesia Tbk pada periode 2014-2019, hingga Anggota Komite Ekonomi Industri Nasional. Adapun raihan gelar yang diperoleh olehnya dimulai dari menjadi sarjana ekonomi di UGM pada 1988, Master di bidang Manajemen Kebijakan Internasional dari Graduate School of International Political Economy di University of Tsukuba, Japan pada 1999, hingga Doktor di bidang Ekonomi Politik Internasional dari The University of Tsukuba, Japan pada 2004.

Sejumlah pihak memberikan penghargaan, di antaranya 100 Wanita Berpengaruh di Indonesia pada tahun 2012 oleh majalah Globe Indonesia, Ekonom Muda Indonesia pada 2009 oleh Megawati Soekarnoputri, dan One of Most Wanted Leader pada 2008 oleh Q-TV. Salah satu tulisan Hendri ialah “The Macroeconomics of Poverty Reduction: The Case Study of Indonesia” yang diterbitkan oleh UNDP.

6. Profesor Hyronimus Rowa

Dia adalah Wakil Rektor Bidang Akademik dan Inovasi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Pada tahun 2023, dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang ilmu pemerintahan IPDN dengan menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Transformasi Pemerintahan Digital Menuju Indonesia Emas 2045". Hyronimus memiliki kualifikasi akademik dan pengalaman yang luas dalam dunia pemerintahan. Dia pernah dianugerahi piagam penghargaan sebagai tokoh inspiratif Jawa Tengah dalam bidang pendidikan kedinasan pada tahun 2022, dan anugerah tokoh perdamaian dunia bidang pendidikan dan kesejahteraan pada tahun 2023.

7. Poppy Ismalina

Saat ini, dia menempati posisi sebagai Associate Professor di Departemen Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Berbagai pengalaman sudah dirasakan oleh Poppy, antara lain Advisor for Women’s Economic Empowerment di United Nations (UN) Women Indonesia sejak Oktober 2021 hingga kini, Senior Economist (Climate and Energy) di PROSPERA - Australia Indonesia Partnership for Economic Development, sejak Desember 2021 hingga saat ini, serta Climate Fiscal Policy Senior Expert di Global Buildings Performance Network (GBPN) sepanjang Oktober 2021-Februari 2023. Dia merupakan lulusan UGM di jurusan ekonomi pada 1994, Master in Economic of Development di Australian National University pada 2003, dan Doctor of Philosophy di University of Groningen Netherlands pada 2011. Poppy juga terlibat aktif sebagai anggota European Association for Southeast Asian Studies (EuroSEAS) Internasional dan Indonesian Economist Association.

8. Retno Agustina Ekaputri

Kini, dia menjabat sebagai Rektor Universitas Bengkulu 2021-2025. Perempuan kelahiran Yogyakarta pada 3 Agustus 1962 sebelumnya berkuliah di UGM dengan gelar Sarjana Ekonomi (SE), serta University of Tennessee Knoxville di Amerika Serikat (AS) dengan gelar Magister Science (M.Sc), dan gelar Phd di kampus yang sama. Saat ini, dia juga menduduki jabatan sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Provinsi Bengkulu periode 2021-2026.

9. Profesor Suharnomo

Dia menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro sejak tahun 2016. Pada tahun 1996, dilulus sebagai sarjana jurusan manajemen di Universitas Diponegoro (Undip), Magister Sains Manajemen di UGM, dan Doktor di bidang ilmu manajemen Universitas Padjadjaran Bandung. Suharnomo merupakan pendiri dari Lembaga Akreditasi Mandiri Bidang Manajemen, Bisnis dan Akuntansi (LAMEMBA), Ketua Asosiasi Dekan Fakultas Ekonomi seluruh Indonesia dari 2018 hingga saat ini, Ketua Free Trade Agreement Jawa Tengah Kementerian Perdagangan dari tahun 2020 hingga kini, dan Penasehat Gerakan Nasional Indonesia Kompeten dari 2020 sampai sekarang. Berbagai publikasi juga telah diterbitkan di Scopus dengan 31 artikel, seperti karya yang berjudul “Transformational leadership on employee perfomance in post-acquisition of a company”. Baru-baru ini, dia terpilih sebagai rektor Undip untuk masa jabatan 2024-2029.

10. Tauhid Ahmad

Dia merupakan Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) sejak tahun 2019, dan dosen FEB Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta. Tauhid juga pernah menjabat sebagai anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional pada Februari 2019, Staf Ahli Komite Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) 2014-2019, konsultan berbagai penelitian di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Adapun riwayat pendidikan di sarjana pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), magister ekonomi di Universitas Indonesia (UI), serta doktoral IPB. Akademisi ini memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun dengan beragam spefisikasi keahlian, mulai dari bidang keuangan negara dan moneter, desentralisasi fiskal dan otonomi daerah serta pertanian, hingga industri dan perdagangan internasional.

11. Yose Rizal Damuri

Saat ini, dia menduduki posisi sebagai Executive Director di Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Kegiatan penelitian yang dilakukan olehnya fokus pada perdagangan internasional, integrasi regional dan globalisasi rantai nilai. Yose aktif terlibat dalam berbagai jaringan penelitian dan konsultasi, seperti di Indonesia Service Dialogue (ISD) dan Asia-Pacific Research and Training Network on Trade (ARTNeT), serta mengajar mata kuliah ekonomi internasional di UI. Beliau memperoleh sarjana ekonomi dari UI, lalu mendapatkan gelar Master of Economics of Development di National Centre for Development Studies, Australian National University (ANU), Canberra, serta PhD di bidang Ekonomi Internasional dari Graduate Institute of International Studies (HEI), Jenewa, Swiss.

Rekomendasi