Terancam Tak Dilantik jadi Legislator, PDIP Investigasi Anomali Perolehan Suara Pileg dan Pilpres 2024

| 17 Feb 2024 06:45
Terancam Tak Dilantik jadi Legislator, PDIP Investigasi Anomali Perolehan Suara Pileg dan Pilpres 2024
Politisi PDIP Aria Bima. (Dok. TPN Ganjar-Mahfud)

ERA.id - PDI Perjuangan tengah mengumpulkan bukti-bukti dugaan kecurangan di Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Hal tersebut juga sedang dikerjakan bersama Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud.

Politisi senior PDIP Aria Bima mengatakan, dugaan kecurangan itu semakin kuat karena adanya anomali perolehan suara pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres). Di mana suara partai lebih tinggi ketimbang suara pasangan capres-cawapres yang diusung, terutama di Jawa Tengah yang terkenal sebagai kandang banteng.

"Kenapa sekarang suara pileg lebih tinggi daripada suara pilpres, karena itu, itu pertanyaan yang harus dijawab oleh semua kader termasuk saya yang ada di Solo," kata Aria kepada wartawan di Media Center TPN Ganjar-Mahfud, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (16/2/2024).

Dia lantas menyinggung intruksi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri soal perolehan suara di Pemilu 2024. Para calon anggota legislatif (caleg) terancam tak bisa dilantik oleh partai, termasuk dirinya, apabila perolehan suara dalam pileg lebih tinggi dari pilpres.

Oleh karena itu, nyaris seluruh caleg bahkan struktural partai tingkat daerah harus mencari tahu sumber anomali perolehan suara tersebut.

"Inilah yang saya sebut anomali, gitu. Dan kalau saya tidak menyampaikan ini, saya tidak bisa menemukan, bisa-bisa Aria Bima tidak dilantik karena itu adalah instruksi ketua umum (Megawati Soekarnoputri)," ungkapnya.

"Daripada saya tidak dilantik, ya saya kerja dulu. Kenapa ini terjadi," tambahnya.

Deputi penjadwalan TPN Ganjar-Mahfud itu lantas menceritakan, sudah menghubungi Ketua DPC PDIP Solo FX Rudyatmo terkait anomali perolehan suara tersebut.

Dia cukup terganggu dengan perolehan suara Ganjar-Mahfud yang sangat rendah di tempat pemungutan suara (TPS) yang seharusnya menjadi basis suara pasangan calon nomor urut tiga.

"Saya sudab telpon Mas Rudy. Saya datangi kades, lurah, saya datangi warga, ada apa? Di tempat tinggal saya saja, (Ganjar-Mahfud) bisa kalah. Di tempat tinggalnya Pak Rudy, TPS-nya Pak Rudy saja (kalah)," ujar Aria.

Terlebih, kata Aria, tak mungkin tidak ada tambahan suara dari partai pengusung lainnya seperti PPP, Hanura, dan Perindo. Termasuk adanya sejumlah tokoh seperti Sandiaga Uno, Siti Atikoh, dan Alam Ganjar.

Menurutnya, tak masuk akal jika hasil akhir perolehan suara Ganjar-Mahfud rendah.

"Saya ngatur jadwalnya Pak Ganjar, Prof Mahfud, Mbak Atikoh, Pak Sandi, Mbak Yenny untuk apa? Kampanye segitu banyak orang datang, emang itu setan? Dedemit? Itu kan suara orang, masa jadinya gini," ucapnya.

"Maka kita diminta untuk mencari kenapa terjadi ketimpangan," tegas Aria.

Rekomendasi