Faisal Basri Kritik Impor 3 Juta Ton Beras Jelang Coblosan dalam Sengketa Pilpres 2024

| 01 Apr 2024 13:50
Faisal Basri Kritik Impor 3 Juta Ton Beras Jelang Coblosan dalam Sengketa Pilpres 2024
Ekonom Faisal Basri. (YouTube/Mahkamah Konstitusi RI)

ERA.id - Ekonom senior Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), Faisal Basri mengkritik kebijakan impor beras sebanyak tiga juta ton jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Ia mempertanyakan tujuan impor beras itu lantaran harganya yang melonjak tinggi pada Februari lalu.

Hal ini Faisal sampaikan saat dihadirkan sebagai ahli oleh Tim Hukum Nasional (THN) Anies Rasyid Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) dalam sidang lanjutan gugatan sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2024. Awalnya, dia menyinggung soal pemberian bantuan akibat bencana El Nino untuk kepentingan mendongkrak suara pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

"Jadi nyata bahwa El Nino ini kebutuhan untuk meningkatkan suara, only that, dari segi data itu. Ini yang sangat memilukan dan seolah-olah kita semua bodoh," kata Faisal dalam sidang di Mahkamah Konstitusi (MK), Senin (1/4/2024).

Dia menjelaskan di tengah bencana yang terjadi di berbagai daerah, lahan panen beras dalam negeri tetap stabil, yakni berada di atas angka 10 juta hektare. Namun, pemerintah justru mengambil kebijakan untuk mengimpor beras.

"Produktivitas naik sehingga produksi beras cuma turun 600 ribuan ton, tapi seolah-olah kita mau kiamat, diimporlah 3 juta ton beras," ungkap dia.

Faisal menilai jika 3 juta ton beras impor tersebut digelontorkan ke pasar, maka tidak mungkin harga beras mencapai level tertinggi sepanjang sejarah pada Februari lalu. Dia pun mempertanyakan tujuan kebijakan impor beras di samping keperluan stabilisasi pangan.

"Jadi kita impor ini untuk apa kalau tidak untuk stabilisasi pangan? Tujuan impor kan karena pasokan dalam negeri terbatas, sehingga harga naik. Oleh karena itu, ada stabilisasi, kita tidak bisa menunggu panen, kita impor," jelas Faisal.

"Impornya 3 juta ton, padahal penurunan produksinya 600 ribuan ton. Apa yang ada di kepala mereka itu? Oh, siapa tahu nanti (Pilpres 2024) dua putaran masih bisa nih ada stok buat bagi-bagi beras sampai putaran kedua. Jadi penuh dengan siasat yang menurut saya sudah keterlaluan, terlalu vulgar," sambungnya.

Rekomendasi