Harga Vaksin Gotong Kemahalan, Erick Thohir: Kami Tidak Pernah Memaksa untuk Bayar

| 20 May 2021 10:30
Harga Vaksin Gotong Kemahalan, Erick Thohir: Kami Tidak Pernah Memaksa untuk Bayar
Ilustrasi vaksin (Dok. Instagram biofarma_id)

ERA.id - Harga vaksin gotong royong dikritik lantaran dianggap masih terlalu mahal, khususnya bagi UMKM maupun perusahaan yang masih belum pulih dari pandemi COVID-19. Adapun total harga vaksin gotong royong untuk dua dosis dan dua kali penyuntikan dibandrol sebesar Rp999.140.

Kritik tersebut pun dijawab Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Ia menegaskan, tak pernah memaksa UMKM untuk mengikuti program vaksin gotong royong.

"Kita tidak pernah meminta dan memaksa UMKM untuk membayar," tegas Erick seperti dikutip dari kanal YouTube Kadin Indonesia pada Kamis (20/5/2021).

Erick mengatakan, UMKM memiliki dua opsi untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19, yaitu pertama mengikuti vaksinasi gratis yang menjadi program pemerintah. Kedua, berpartisipasi dalam vaksin gotong royong yang merupakan inisiatif dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN).

"Kalau bicara konteks UMKM itu punya dua opsi, apakah dia ingin kontribusi lewat vaksin gotong royong, tapi kita juga tetap membuka para UMKM ikut program vaksin pemeirntah secara gratis," kata Erick.

Sementara Ketua KADIN Rosan Roeslani mengklaim, harga yang ditetapkan pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/4643/2021 sudah sesuai dengan hasil survei pihaknya sebelum membuka pendaftaran vaksin gotong royong bagi perusahaan maupun UMKM.  

Dia menyebut, 78 persen perusahaan mengaku sanggup membayar Rp500 ribu untuk satu dosis vaksin COVID-19. Adapun survei tersebut dilakukan kepada perusahaan anggota KADIN maupun perusahaan non KADIN.

"Dari survei itu, saya masih ingat, selama untuk satu dosis di bawah Rp500 ribu itu 78 persen ada dalam range itu. Jadi range ini adalah sesuai dengan kemampuan dan survei yang kita lakukan, dan 78 persen menyatakan sanggup," kata Rosan.

Selain itu, Rosan juga mengklaim saat ini sudah ada 22.736 perusahaan yang mendaftar untuk mengikuti program vaksinasi gotong rotong dengan jumlah total karyawan yang akan divaksin mencapai 10 juta orang.

Dari 22.736 perusahaan tersebut, 7.000 diantaranya merupakan UMKM. Menurut Rosan, meskipun pandemi COVID-19 berdampak banyak pada UMKM, namun nyatanya masih ada UMKM yang bisa bertahan.

"Kurang lebih sekarang hampir mencapai 7.000 UMKM yang mendaftar dari 22.736 perusahaan. Itu ada yang karyawannya hanya tiga orang, ada yang 10 orang, ada yang 15 orang," kata Rosan.

Lebih lanjut, Rosan menegaskan, vaksin gotong royong tetap sejalan dengan arahan dari pemerintah, yaitu vaksin gratis. Artinya, pembelian vaksin tidak akan dibebankan kepada para pekerja, melainkan tanggung jawab dari perusahaan.

"Jadi enggak boleh nih nanti pengusaha potong gaji atau potong THR untuk bayar vaksinasinya, enggak boleh. Saya pastikan Insya Allah ini akan berjalan lancar," katanya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menetapkan harga pembelian vaksin COVID-19 merek Sinopharm senilai Rp321.660 per dosis, sedangkan tarif maksimal layanannya sebesar Rp177.910 per dosis. Vaksin COVID-19 buatan perusahaan China ini akan digunakan untuk program vaksin Gotong Royong dan dibeli melalui PT Bio Farma (Persero).

Ketentuan harga tersebut, tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/4643/2021 tentang Penetapan Besaran Harga Pembelian Vaksin Produksi Sinopharm Melalui Penunjukan PT Bio Farma (Persero) dalam Pelaksanaan Pengadaan Vaksin COVID-19 dan Tarif Maksimal Pelayanan untuk Pelaksanaan Vaksinasi Gotong Royong. Penetapan berlaku mulai 11 Mei 2021.

Dengan begitu, total harga satu kali suntik vaksin COVID-19 merek Sinopharm melalui program vaksin gotong royong dibandrol Rp499.570. Sedangkan untuk dua kali suntik harganya mencapai Rp999.140.

Rekomendasi