Gandeng Industri Oksigen, Jokowi: Pemerintah Kerja Keras Penuhi Kebutuhan Secara Nasional

| 16 Jul 2021 10:45
Gandeng Industri Oksigen, Jokowi: Pemerintah Kerja Keras Penuhi Kebutuhan Secara Nasional
Ilustrasi tabung oksigen (Dok. Antara)

ERA.id - Presiden Joko Widodo menyebut pemerintah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen medis, di tengah lonjakan kasus COVID-19. Untuk itu, dia menggandeng industri untuk mengamankan pasokan dan distribusi oksigen ke masyarakat. Hal ini disampaikan Jokowi saat meninjau PT Aneka Gas Industri di Cakung, Jakarta Timur, Jumat (16/7/2021).

"Pemerintah terus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen secara nasional dan kita bekerja sama dengan industri-industri di dalam negeri untuk mengamankan pasokan dan distribusi oksigen medis yang dibutuhkan masyarakat," kata Jokowi.

Dengan adanya kerja sama ini, Jokowi berharap kebutuhan oksigen medis bagi masyarakat bisa tercukupi. Lebih lanjut, Jokowi mengakui kebutuhan oksigen memang melonjak belakangan ini. Banyak pasien COVID-19 dirawat di rumah sakit maupun tempat isolasi membutuhkan oksigen medis.

"Seperti diketahui bersama kenaikan kasus COVID-19 masih terus terjadi dan ini telah menyebabkan lonjakan kebutuhan oksigen nasional untuk pengobatan COVID-19," kata Jokowi.

Jokowi mengapresiasi upaya maksimal industri yang ada untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang melonjak belakangan ini.

"Saya sangat apresiasi telah bekerja maksimal memenuhi kebutuhan oksigen medis dengan terus menambah kapasitas produksinya sehingga membantu suplai oksigen nasional," katanya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah membuka kran impor hingga merelokasi produksi oksigen dalam negeri menjadi 90 persen-100 persen difokuskan untuk medis, dari sebelumnya 20 persen industri dan 80 persen medis. Hal ini demi memenuhi kebutuhan oksigen medis di Indonesia.

"Pemenuhan kapasitas oksigen seperti ini, tidak pernah kita bayangkan bahwa kita akan menghadapi seperti ini, dan tidak ada (negara) di dunia pun yang pernah menduga," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (15/7/2021).

Rekomendasi