Setelah 30 Tahun, Tetanus Itu Datang Lagi ke Negeri Paman Sam

Tim Editor

Ilustrasi sumber Claustrodium tetani (Flickr)

ERA.id - Seorang anak umur 6 tahun terluka di dahi setelah bermain di area persawahan Oregon, AS. Saat itu juga, ia lari ke rumah. Lantas di sana lukanya dibersihkan dan dijahit. Namun, enam hari kemudian, ia harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisi yang memburuk: kram otot dan kesulitan bernafas.

Para dokter mendiagnosa bahwa ia terserang tetanus, suatu infeksi yang sangat menyakitkan yang diakibatkan oleh bakteri jamur yang mudah ditemui di tanah yang gembur, namun, bisa dicegah dengan vaksin.

Kasus tetanus sendiri sudah sangat langka sejak ditemukannya tetanus. Kejadian yang dialami si anak yang berumur 6 tahun tadi adalah yang pertama dalam 30 tahun, seperti dilaporkan di STATnews.

Anak tersebut akhirnya selamat. Namun, setelah melewati minggu-minggu panjang yang melelahkan, sebuah "maraton kedokteran" - yang menghabiskan biaya hingga 800 ribu dolar (Rp11,58 miliar) - orang tua sang anak melarang rumah sakit memberi rangkaian vaksin yang bisa memproteksi anak mereka dari infeksi tetanus berikutnya. Mereka juga menolak pemberian vaksin campak, gondok, rubella, cacar, polio dan penyakit lainnya yang mungkin bisa berakibat fatal bagi anak-anak. Orang tua itu bersikukuh meski telah dibujuk untuk memvaksin anaknya.

Dr. Judith Guzman-Cottrill, spesialis penyakit infeksi pada anak-anak di RS Anak OHSU Doernbecher di Portland, AS, adalah salah satu dokter yang menangani sang anak. Selama berminggu-minggu, anak tersebut harus dibius dalam kondisi ruang yang gelap, dengan telinga yang disumpal earphone.

Bahkan dalam pengaruh obat bius untuk menghentikan kram otot yang diakibatkan tetanus, seluruh tubuh anak itu akan serta-merta kaku ketika seseorang di dekatnya berbicara dalam suara normal, kata Guzman-Cottrill.

"Dia sangat kesakitan, dan saya tak tega melihatnya," kata dia. "Dia menderita."

Seluruh tim perawat sang anak pun merasa sangat sedih, katanya, karena tidak menyangka masih akan menemui kasus tetanus pada tahun 2017.

Guzman-Cottrill dan beberapa koleganya memaparkan kasus anak tersebut dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Maret 2019 di jurnal online Morbidity and Mortality Weekly Report yang dikelola oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Pada bulan Maret kala itu, dampak dari keputusan menolak vaksinasi terjadi bersamaan dengan menyebarnya wabah campak di kalangan anak-anak Amerika Serikat yang tidak menerima vaksin.

Gejala infeksi tetanus bisa berupa kram otot yang sangat kuat, saking kuatnya bahkan sampai bisa mematahkan tulang. Biasa menyerang rahang lebih dulu, kondisi yang disebabkan oleh racun bakteri Clostridium tetani ini memiliki nama lain lockjaw, alias kram rahang. Infeksi ini biasa ditemui sebelum vaksin tetanus mulai diberikan di era 1930an dan 1940an. Namun, kini kasusnya sudah langka.

Dalam kasus anak asal Oregon, ia mulai menunjukkan simtom yang mengkhawatirkan, seperti rahang yang terkunci hingga kram otot yang tak terkontrol di sekujur tubuh, diikuti leher dan punggung yang melengkung, beberapa hari setelah dahinya terluka.

Setelah itu ia mulai kesulitan bernafas. Saat itulah orang tuanya menelepon pihak UGD rumah sakit.

Selama berminggu-minggu di RS, anak tersebut harus terus dibius. Ia juga memakai alat bantu nafas (ventilator) sepanjang waktu opnamenya. Ia pun harus diberi obat pereda otot yang tegang dan obat untuk menstabilkan tekanan darahnya. Semua itu diberikan di samping obat anti racun tetanus.

Secara total, anak tersebut harus opname selama 54 hari, di mana 47 di antaranya dihabiskan di I.C.U.

Proses penyembuhannya pun butuh waktu lama. Setelah lima puluh hari di RS, ia hanya bisa berjalan sejauh 6 meter dengan bantuan orang lain. Pasca opname, ia perlu melewati 17 hari di unit rehabilitasi. Satu bulan kemudian, ia bisa kembali menjalani aktivitas normal.

Dengan standar perawatan di Amerika Serikat, ongkos perawatan anak itu menghabiskan dana hingga 811.929 dolar (Rp11,75 miliar). Itu belum mencakup biaya rehabilitasi dan pertemuan dokter yang sifatnya esensial dalam kesembuhan sang anak.

Dalam tulisannya di STATnews, Helen Branswell menulis bahwa anak-anak seharusnya menerima lima dosis vaksin tetanus saat masih bayi, dan satu dosis lagi di umur 11 atau 12 tahun. Idealnya, orang dewasa mendapat dosis tambahan, "booster", setiap 10 tahun untuk memperkuat proteksi imun terhadap tetanus.

Vaksinasi atau infeksi tetanus tidak akan menghasilkan kekebalan sepanjang hidup terhadap tetanus. Artinya, bila anak kecil dari Oregon tersebut masih belum divaksin hingga kini, ia masih bisa terinfeksi tetanus.

Tag: vaksin

Bagikan :