Para Dokter di Pergerakan Sosial Politik Nusantara

Tim Editor

    Para anggota Boedi Oetomo (Pinterest)

    Jakarta, era.id - Peran dokter sangat penting di tengah masyarakat. Selain menjaga kesehatan fisik dan mental, pernah ada masanya dokter menjaga kondisi "kesehatan" sosial politik bangsa Indonesia. Beberapa dokter bahkan menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia.

    Pelopor organisasi kebangsaan juga lahir dari para calon dokter. Organisasi kepemudaan Boedi Oetomo digagas oleh dokter lulusan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia khusus pribumi, Wahidin Soedirohoesodo pada 20 Mei 1908 dan beranggotakan rata-rata mahasiswa kedokteran. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.


    dr. Wahidin Soedirohoesodo (ist)

    Pada masa itu, dikenal tiga macam dokter Indonesia, ada dokter Djawa keluaran School ter Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen atau orang menyebutnya sekolah dokter Jawa, ada Indische Arts keluaran Stovia dan NIAS, serta ada pula dokter lulusan Faculteit Medica Batvienis. Mereka umumnya hanya menjadi mantri cacar. Mereka memberikan pelayanan kepada seorang yang terkena cacar dan penyakit tak berbahaya lainnya. kelak para dokter itu berkumpul menjadi suatu ikatan tersendiri.

    Namun para calon dokter itu bukan hanya mengurusi penyakit, namun juga turut andil dalam dunia pergerakan sosial politik. Menurut Profesor bidang sejarah dan filfasat ilmu pengetahuan Universitas Sydney, Hans Pols dalam tulisannya mengatakan mahasiswa kedokteran memobilisasi pemuda Indonesia untuk mengambil bagian dalam masalah politik.

    Setelah mendirikan Boedi Oetomo, para mahasiswa kedokteran itu mengorganisir para pemuda dari berbagai suku, etnis dan wilayah. Maka berkumpulah para Jong Java, Jong Sumatra, Jong Minahasa dan Jong Ambon. "Asosiasi pemuda ini bersatu untuk menjadi Indonesia Muda pada 28 Oktober 1928, menciptakan identitas nasional," kata penulis buku Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Pada Dokter Indonesia (2018) tersebut.

    Dokter Indonesia terus aktif dalam gerakan nasionalis Indonesia. Mereka terlibat dalam asosiasi dan partai politik. Selain itu para dokter tersebut ada juga yang menjadi penulis dan aktivis pergerakan.

    dr. Soetomo dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo adalah contoh paling terkenal dari para politikus-dokter ini. Lalu ada bapak jurnalisme Indonesia Tirto Adhi Soerjo yang terkenal dengan jurnalisme advokasinya yang membela hak-hak pribumi yang tertindas. Kemudian pendiri sekolah Taman Siswa Ki Hadjar Dewantara (ketika ia masih dipanggil R.M. Soewardi Soerjaningrat) yang menjadi bapak pendidikan Indonesia. Mereka semua adalah alumni dari Batavia Medical College.

    Cikal Bakal IDI

    Kemudian, pada 1911, para dokter-dokter pribumi itu membuat perkumpulan khusus dokter di nusantara bernama Vereniging Van Indische Artsen dan diketuai dr. J.A.Kayadu. Lima belas tahun setelahnya organisasi ini berganti nama menjadi Vereniging Van Indonesische Genesjkundigen (VIG).

    Perubahan nama ini berdasarkan landasan politik yang menjelma dari timbulnya rasa nasionalisme (di mana dokter pribumi dianggap sebagai dokter kelas dua), sehingga membuat kata "indische" menjadi "Indonesische" dalam VIG. Dengan demikian, profesi dokter telah menimbulkan rasa kesatuan atau paling tidak meletakkan sendi-sendi persatuan.

    Lalu pada 1940, VIG mengadakan kongres di Solo. Prof. Bahder Djohan bertugas untuk membina dan memikirkan istilah baru dalam dunia kedokteran pada kongres itu. Tiga tahun kemudian, pada masa pendudukan Jepang, VIG dibubarkan dan diganti namanya menjadi Jawa IZI Hooko-Kai.

    Satu dekade kemudian, berbagai kelompok organisasi dokter berkumpul dan menyelenggarakan "Muktamar Dokter Warga Negara Indonesia" di Deca Park yang kini jadi gedung pertemuan Kotapraja, Jakarta. Tujuan dari Muktamar itu yakni mendirikan suatu perkumpulan dokter Indonesia yang baru, dan merupakan wadah representasi dunia dokter Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Dalam muktamar IDI itu, Dr. Sarwono Prawirohardjo terpilih menjadi Ketua Umum IDI pertama.

    Akhirnya, pada 24 Oktober 1950 perwakilan para dokter menghadap notaris R. Kadiman untuk memperoleh dasar hukum berdirinya perkumpulan dokter dengan nama Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Sejak saat itu, Ikatan Dokter secara resmi memiliki legalitas hukum yang sah terlepas dari aroma penjajahan Belanda maupun Jepang. Dasar hukum itulah yang menjadi landasan ditetapkannya Hari Dokter Nasional.

    Tag: dunia kedokteran sejarah nusantara

    Bagikan :