Bakong Gayo, Tembakau Aceh yang Sering Dibilang Mirip Ganja

Tim Editor

    Tembakau hijau gayo. (Foto: komunitaskretek.or.id)

    Jakarta, era.id - Pada 24 Desember 2019 terjadi aksi salah tangkap yang dilakukan Satuan Narkoba Polres Bitung. Seorang pemuda yang diduga membawa paket narkotika jenis ganja diamankan. Namun, betapa bingungnya polisi saat tahu bahwa barang bukti yang diamankannya bukan ganja, melainkan tembakau hijau gayo. Hasil uji lab pun menyatakan negatif.

    Kebingungan yang sama juga sempat dirasakan Yani, perempuan yang berprofesi sebagai jurnalis. Sepulang dari meliput acara musik di bilangan Jakarta Selatan, ia mendapati goodie bag souvenir yang diterima di acara itu berisi tembakau hijau gayo.

    Yani pun sempat menaruh curiga bahwa benda yang di-packing di plastik itu adalah ganja. Sebelum akhirnya tahu bahwa itu adalah tembakau gayo atau bakong gayo dalam bahasa masyarakat lokal. "Ternyata bukan ganja, tapi tembakau gayo. Sempat kaget juga sih awalnya."

    Baca Juga : Kesakralan Kretek Sebagai Warisan Budaya Nusantara


    Tembakau hijau gayo. (Foto: Istimewa)

    Mengutip laman Komunitas Kretek, tanaman tembakau satu ini memang memiliki bau yang hampir mirip dengan ganja. Ini juga yang menjadikan tembakau hijau gayo cepat naik daun dan digandrungi anak muda. Walau demikian, tembakau hijau gayo tidak memiliki efek samping seperti ganja. Produk ini juga legal untuk dikonsumsi serta diperjualbelikan.

    Di beberapa platform penjualan online, tembakau hijau gayo juga dijual bebas. Per 50 gramnya dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp20.000-Rp30.000. Meski begitu, beberapa marketplace memberlakukan aturan verifikasi usia bagi pembeli, karena dianggap mengandung konten dewasa.


    Tembakau hijau gayo dijual bebas di platform penjualan online. (Tangkapan layar/era.id)

    Sejak beberapa tahun silam, masyarakat tanah Gayo, Aceh, memang sedang giat memproduksi tembakau hijau ini. Keunikan yang membuat varietas tembakau ini berbeda dengan yang lain tentu karena aromanya yang sepintas mirip ganja.

    Bayu seorang pemuda yang pernah mencoba tembakau hijau gayo bilang, jika tembakau ini memang memiliki aroma mirip ganja. Namun, tidak ada sensasi nge-fly atau memabukkan layaknya ganja.

    "Sekilas baunya emang mirip ganja, tapi enggak bikin nge-fly. Bentuknya juga sekilas mirip ganja ya, hijau gitu. Cuma kalau tembakau gayo lebih cerah aja hijaunya dan serabutnya halus," tutur Bayu kepada era.id, Senin (18/5/2020).

    Karena tidak dilinting otomatis seperti pabrikan rokok pada umumnya, cara mengisapnya tembakau hijau gayo dilakukan dengan cara "Tingwe" atau ngelinting dewe, yang merupakan akronim bahasa Jawa yang artinya melinting sendiri. Atau bisa juga menggunakan cangklong, pipa lengkung untuk mengisap tembakau yang salah satu ujungnya berbentuk cawan sebagai tempat tembakau yang akan disulut api.
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     

    Tembakau Gayo tidak membutuhkan terik matahari dalam pematangannya, melainkan dengan cara pengasapan, atau dijemur pada cuaca malam. Teknik pengasapan ini sebetulnya bukan pula teknik yang baru dalam pengolahan tembakau di nusantara, tetapi kabarnya bibit tembakaunya dari jenis yang beda. @jibalwindiaz via situs web @komunitaskretek mengklasifikasikan ini sebagai tembakau aromatik. Layaknya tembakau Ico ataupun tembakau Kasturi yang juga aromatik. Kebetulan, di @gayotuban sekarang ready stock kemasan 30gr dengan harga terjangkau 25,000/pcs itupun sudah include paper lintingan Buruan! Order - Kirim - Terima - Sebats ???? Dan jangan lupa support @lgn_id #bakonggayo #gayotuban #tembakauhijau #tembakauhijauaceh #akukretekus #rokokindonesia #bolehmerokok #tembakau #tembakauhijau #tembakaugayo #tembakausuper #rokokaceh #rokokgayo #rokoksumatera #penikmatkopi #lampung #sebatssans #sebats #sans #temenngopi #damey #macai #pejuangsenyum #rokokindonesia #kretekusindonesia #lintingers #rokoklinting

    A post shared by TEMBAKAU GAYO [ACEH] (@gayopantura) on



    Beberapa pengusaha tembakau ini juga telah melakukan uji laboratorium. Hasilnya, tembakau hijau gayo bukanlah tergolong ke dalam jenis narkotika. Namun, guna menjaga kesehatan sangat dianjurkan untuk hidup bebas dari merokok. Bagi kamu yang bukan perokok, dianjurkan untuk tidak mencobanya.

    Warna hijau yang dihasilkan tembakau ini disebabkan karena daunnya masih muda, yang langsung dijemur pada kondisi cuaca yang mendung, atau pada malam hari. Setelah itu, tembakau hijau gayo disimpan dalam wadah yang kedap udah.

    "Di daerah tertentu agar kualitas rasa dan kelembapan tembakaunya tetap terjaga,” kata Abdullah, seperti dikutip okezone.com.


    Perkebunan tembakau hijau gayo. (Foto: Istimewa)

    Daun tembakau yang baru dipanen kemudian akan diperam selama enam hari. Setelah itu, baru dipisahkan tulang dan daunnya. Hal ini dilakukan apabila telah selesai diperam dan hasilnya warna daun tembakau itu sudah berwarna kuning kemerah-merahan.

    "Setelah itu baru dicincang menggunakan pisau," ujarnya.

    Harga tembakau hijau gayo juga dipatok cukup tinggi di pasaran yaitu Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per ons, jauh lebih tinggi dari beberapa varietas tembakau lain seperti tembakau tambeng, virginia madura, atau kemloko dari Temanggung.

    Para pemilik toko tembakau menjelaskan, tingginya harga dipengaruhi dari tingginya permintaan yang tak sesuai dengan stok yang ada. Akan tetapi, stok tembakau hijau gayo di pasaran masih cukup terpenuhi. Kita bisa melihat itu dari beberapa marketplace yang menjual tembakau ini dan kelihatan cukup laris.

    Tag: merokok di pesawat

    Bagikan :