Kisah Sunarmi, Ibu Korban Penembakan Trisakti

Tim Editor
Peringatan 20 tahun reformasi tidak mungkin bisa dipisahkan dari peristiwa penembakan di Universitas Trisakti. Empat mahasiswa tewas diterjang timah panas. Mereka terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada. Salah satu korban adalah Hafidhin Royan. Kami ajak kamu untuk berbincang dengan ibunya. Rindu, sudah pasti. 20 tahun berlalu dan entah berapa purnama terlewati tanpa kehadiran Royan di samping sang Ibu.

Bandung, era.id - 20 tahun sudah berlalu. Tapi kenangan itu masih jelas terekam Surnami. Perempuan ini adalah ibu dari Hafidhin Royan, salah satu mahasiswa Trisakti yang tewas tertembak dalam kisah kelam negeri ini.

20 tahun berlalu, Sunarmi masih mengingat persis perilaku Royan. Sunarmi punya cara sendiri mengenang anaknya, pahlawan reformasi itu. Memajang lebih banyak foto Royan di dinding rumah dan menjadikan kamarnya sebagai museum mini. Sunarmi kini tinggal bersama anak pertamanya di Bandung. Dia masih menitipkan harapan, pelaku penembak anaknya itu bisa diketahui.

Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidhin Royan, dan Hendriawan Sie gugur tertembak di dalam halaman kampus Universitas Trisakti, Jakarta. Empat hari lagi, peristiwa itu genap berusia 20 tahun. 

Kami sengaja pergi ke Bandung untuk khusus menemui Sunarmi. Bukan untuk mengorek luka lama. Bukan juga untuk membuat Sunarmi bersedih kembali. Hanya menjadi pengingat negeri ini pernah melewati tahapan kelam untuk mencapai reformasi. Saatnya saya, kamu, dan kita semua ikut menjaga dan terus mengawal reformasi ini.

Simak wawancara tim era.id dengan Sunarmi di atas.

Tag: peringatan 20 tahun reformasi penembakan trisakti

Bagikan: