Mata Hari, Agen Rahasia dari Belanda yang Mahir Menari Jawa

Tim Editor

    Mata Hari alias Margaretha Zelle. (Foto: mata-hari.com)

    Jakarta, era.id - Pada akhir abad ke-18, hidup seorang wanita berparas oriental di Belanda bagian utara. Namanya Margaretha Zelle. Di tengah masyarakat yang kebanyakan memiliki kulit cerah, berambut pirang, dan bermata biru, Zelle tumbuh berbeda. Ia tampak mencolok dengan rambut hitam tebal, bola mata yang hitam, dan warna kulit zaitun kecokelatan. 

    Tetangga rumahnya kala itu mengira ia keturunan Yahudi atau Jawa. Orang-orang merujuk Jawa karena pada waktu itu daerah tersebut dianggap menjadi bagian dari negeri kincir angin yakni Hindia Belanda atau sekarang Indonesia. 

    Wanita tersebut kelak lebih dikenal dengan sebutan Mata Hari. Seorang wanita penghibur yang masyhur seantero Eropa dengan keahlian menari India dan Jawa. Kelihaiannya memikat pria, khususnya kaum elite dan orang penting membuat dia dimanfaatkan oleh negara untuk menjadi agen rahasia. Hingga tepat pada hari ini, 15 Oktober, lebih dari satu abad lalu, tepatnya tahun 1917, Zelle dihukum mati oleh Prancis akibat ketahuan melakukan spionase.

    Melansir laman biography.com, wanita yang memiliki kode rahasia H21 ini lahir pada 7 Agustus 1876. Ia tumbuh sebagai wanita muda yang menonjol, berpenampilan mencolok di antara temannya, berani, cemerlang, dan andal dalam berbahasa. 

    Sedari muda Zelle menyadari bahwa ia bisa memperloeh apa pun yang ia inginkan dengan cara membahagiakan pria. Hal itu ia mulai terapkan dengan berbakti penuh terhadap ayahnya Adam Zelle. Ayahnya sangat menyayanginya. Hal itu terlihat dari seringnya ia diberikan hadiah-hadian mewah oleh ayahnya. 

    Sampai pada tahun 1889 ayahnya meninggalkan keluarga mereka karena kepincut wanita lain. Ibunya, Antje Zelle, meninggal beberapa tahun kemudian ketika Margaretha masih remaja. Setelah kematian ibunya, Zelle diutus untuk belajar menjadi guru.

    Namun pada usia 16 tahun, ia dikeluarkan dari sekolah karena main serong dengan kepala sekolah yang sudah menikah. Dari sana, ia lalu pindah ke Den Haag, kota yang penuh dengan pejabat kolonial yang kembali dari dinasnya di Hindia Belanda (Indonesia).



    Margaretha Zelle dan Rudolph Mac Leod. (Foto: Commons Wikimedia)

    Dua tahun setelah tinggal di Den Haag ia menikah dengan seorang Kapten Rudolf MacLeod, tepatnya pada bulan Juli tahun 1895. Menurut Zelle, menikah adalah jalan sempurna untuk mendapat hidup yang lebih baik. Namun, kehidupan yang didambakan Zelle pasca menikah tak kunjung menjadi kenyataan. Malah sebaliknya, ternyata suaminya hanya punya sedikit uang, banyak utang, dan sering gonta-ganti pasangan. 

    Bukan bahagia yang ia dapat, justru masalah silih berganti datang tanpa henti. Pada 1897, ketika berada dalam kapal menuju Hindia Belanda bersama putra pertamanya, Zelle tertular penyakit kelamin sipilis dari sang suami, penyakit yang biasa menjangkit para pasukan kolonial Belanda pada waktu itu.

    Sekembalinya ke Belanda, MacLeod tidak berubah. Ia tetap menjalani hidup sebagai pria hidung belang. Dari situ akhirnya Zelle mulai menarik perhatian orang lain. Hal tersebut membuat suaminya marah. Kendati dalam kondisi pernikahan yang kurang harmonis, pada 1898 mereka melahirkan anak kedua bernama Lousie Jeanne. 

    Sekitar tahun 1899 kedua anak mereka jatuh sakit. Kemungkinan besar diakibatkan penyakit sipilis bawaan. Ketika memanggil dokter, kedua anak mereka malah mengalami overdosis. Hal itu lantas membuat anak mereka yang saat itu berusia dua tahun meninggal. Semua orang di pangkalan kapal menebak-nebak kenapa. Namun orang sudah terlanjur tau, hal itu mengakibatkan MacLeod diturunkan dari jabatannya. 

    Akhirnya pada 1902 ketika mereka kembali ke Belanda mereka memutuskan untuk berpisah. Meski pada perceraian itu hak asuh dimenangkan Zelle, namun Luoise Jeanne dibesarkan oleh ayahnya.
     
    Memulai kisah baru

    Setelah bercerai, Zelle melakukan perubahan besar pada dirinya. Ia menjadi sosok penari eksotis yang disebut Mata Hari. Melihat laman history.com, nama Mata Hari mulai dikenal saat menghelat tur di seluruh Eropa sembari menceritakan kisah bagaimana ia lahir di sebuah kuil suci India dan diajarkan tarian kuno oleh seorang pendeta. Pendeta itu kemudian memberinya nama Mata Hari yang berasal dari bahasa melayu. Ia menjelaskan kepada khalayak Mata Hari sebagai "Eye of the Day."

    Tahun 1905 merupakan debutnya menerobos panggung Eropa. Ia menggelar pentas di Musee Guimet --sebuah museum seni Asia di Paris. Undangan tersebar kepada 600 elite kaya di ibu kota. Mata Hari memainkan perannya sebagai penari yang menampilkan tarian transparan, pakaian terbuka, bra berkilau, dan aksesori kepala yang ikonik. 


    Margaretha Zelle dengan kostum penari. (Foto: Commons Wikimedia)

    Seiring bertambahnya usia, karier Mata Hari sebagai penari erotis mulai meredup. Namun ia masih diminta sebagai wanita bayaran dan masih menikmati tetesan kekayaan pengusaha-pengusaha dan orang-orang berpengaruh di Eropa. Kondisi yang dialami Mata Hari pada saat itu berbarengan dengan pecahnya Perang Dunia I pada 1914. Namun hal itu tidak mengubah kehidupannya yang glamor. "Bisnisnya" tidak goyang. 

    Kesempatan itu membawa Mata Hari dalam dunia spionase dunia. Seperti dilansir nationalgeographic.com, pada 1915, Mata Hari ditawari pekerjaan menjadi agen mata-mata Jerman oleh seorang konsulat Jerman, Karl Kroemer. Ia ditawari 20.000 francs --setara 61.000 dolar AS pada kurs 2017. Ia menerima dana tersebut, namun ia menganggapnya sebagai biaya ganti rugi perhiasannya yang dirampas Jerman saat perang pecah. Namun demikian, ia tidak menerima pekerjaan untuk memata-matai Prancis itu.

    Kemudian Mata Hari pun pergi ke Perancis. Di sana ia disibukkan dengan hal-hal lain. Di sana ia malah bertemu belahan hatinya. Ia jatuh cinta kepada seorang kapten muda Rusia, Vladimir de Massloff yang berjuang untuk Prancis. 

    Pada suatu ketika Massloff terkena gas fosgene, ia kehilangan penglihatan dan menjadi buta total. Namun Mata Hari kadung jatuh cinta. Ketika Massloff melamarnya ia langsung menerimanya dengan bahagia tanpa melihat kekurangan sang kekasih.

    Namun Mata Hari belum bisa hidup sepenuhnya dengan Massloff, karena ia harus meminta izin agar bisa tinggal bersama dengan kekasihnya tersebut. Mata Hari lantas meminta izin kepada teman dekatnya Jean Hallaure yang tanpa Mata Hari ketahui bahwa Hallaure bekerja untuk agen mata-mata Perancis bernama George Ladoux. 

    Hallaure mengirimnya ke 282 Boulevard Saint-Germain, yang menempatkan biro militer untuk orang asing dan biro Deuxieme. Di sana, agen mengatakan dia bisa mengunjungi kekasihnya dan tinggal bersamanya jika dia setuju untuk memata-matai Perancis. Mata Hari setuju, dan hadiah nya akan menjadi satu juta franc, cukup untuk mendukung Massloff setelah mereka menikah.

    Namun singkat cerita, ternyata Mata Hari dikhianati. Pada Januari 1917, Ladoux selalu menghindar dari Mata Hari, bahkan Ladoux tidak membayar upah yang sudah dijanjikannya. Hingga akhirnya pada 12 Februari 1917 surat perintah penangkapan Mata Hari keluar. Ia ditangkap karena dicurigai sebagai mata-mata Jerman. Fakta tersebut benar adanya meskipun sebenarnya Mata Hari tidak pernah melakukan pekerjaannya sebagai mata-mata Jerman.

    Akhirnya hukuman mati dijatuhkan pada Mata Hari. Ia dieksekusi dengan sangat rahasia pada dini hari 15 Oktober 1917. Seorang Sersan Mayor yang mengawasi pasukan eksekutor mati pada saat itu berkata, "Demi Tuhan! Wanita ini tau bagaimana harus mati," pungkasnya.  

    Tag: sejarah nusantara

    Bagikan :