Kesakralan Kretek Sebagai Warisan Budaya Nusantara

Tim Editor

    Ilustrasi (Foto: Istimewa)

    Jakarta, era.id - "Kretek-kretek-kretek," bunyi tembakau dan cengkeh yang dibakar sayup-sayup terdengar pada acara penobatan Ratu Elizabeth II sebagai Ratu Inggris. Seorang pria tua bersongkok tampak mengisap dalam-dalam rokok kretek di mulutnya, lalu diembuskan asapnya di hadapan Pangeran Philip dan tamu undangan.

    Baunya yang khas menyeruak di tengah sakralnya upacara penobatan membuat seorang diplomat barat penasaran kemudian bertanya, apakah benda asing yang diisap pria bernama Agus Salim, seorang Duta Besar Republik Indonesia kala itu. 

    Dengan tenang Agus Salim menjawab, "Inilah yang membuat nenek moyang Anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami," demikian diceritakan Pramoedya Ananta Toer, dikutip dari buku Kretek Kajiian Ekonomi & Budaya Empat Kota.

    Dalam buku lain, Seratus Tahun Haji Agus Salim diceritakan, ketika itu, Haji Agus Salim melihat Pangeran Philip yang masih muda belia (32 tahun) tampak canggung menghadapi tamu undangan dari kalangan tokoh-tokoh berbagai bangsa. Saking canggungnya sehingga lalai meladeni tamu-tamu asing yang datang dari jauh untuk menghormati peristiwa penobatan itu.

    Untuk melepas ketegangan Sang Pangeran,  pria yang dijuluki 'The Grand Old Man' atau 'Orang Tua Besar' itu menghampirinya seraya mengayun-ayunkan rokok kreteknya di sekitar hidung Sang Pangeran itu sambil bertanya, "Paduka, adakah Paduka mengenali aroma (bau) rokok ini?." Dengan menghirup-hirup secara ragu-ragu, Sang Pangeran mengaku tak mengenal aroma rokok tersebut. Haji Agus Salim pun dengan senyum mengatakan, "Inilah sebabnya 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa Paduka mengarungi lautan mendatangi negeri saya."


     Haji Agus Salim dalam suatu jamuan diplomasi di Inggris. (Foto: Seratus Tahun HAS)

    Kisah diplomasi kretek Agus Salim di Istana Buckingham merupakan kisah yang terkenal dan terus dituturkan dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Kekayaan rempah-rempah di Indonesia memang menjadi saksi sejarah peradaban dunia.

    Cengkeh --kandungan rokok kretek-- tidak hanya menghasilkan banyak khasiat, tapi juga daya tarik bangsa Eropa hingga terjadinya peperangan dalam dunia perdagangan. Sejarah bahkan mencatat cengkeh pernah menyebabkan perang berkecamuk di jazirah Maluku. Cengkeh juga menjadi pembeda yang membikin Belanda dan Inggris melakukan tukar guling wilayah jajahan mereka antara Pulau Run di Jazirah Maluku dan Manhattan di Amerika Utara.

    Tak ada sumber sahih yang menyebut asal usul rokok kretek. Paling masyhur cerita itu berangkat dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, penduduk asli Kudus, Jawa tengah, merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkeh. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari kemudian bereksperimen merajang cengkeh dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok, demikian diikutip dari The Sampoerna Legacy: A Family & Business History. Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria.

    Djamari lantas menceritakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan "rokok obat" ini pun mengalir --Djamari juga pernah mengidap sesak nafas atau asma dan sembuh berkat mengisap kretek. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkeh. Lantaran ketika dihisap, cengkeh yang terbakar mengeluarkan bunyi "keretek", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan "rokok kretek". 


    Seorang perempuan sedang memotong rokok kretek di sebuah pabrik rokok tahun 1951. (Foto: Commons Wikimedia)

    Hingga akhirnya sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908 usahanya resmi terdaftar dengan merek "Tjap Bal Tiga". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi pionir tumbuhnya industri rokok kretek di Tanah Air.

    Namun, menurut beberapa babad legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelum Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok "klobot" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.

    Warisan Tak Bendawi

    Merujuk pada dokumen arkaik milik van Hall & van de Koppel, 1946-1950, kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17, jauh sebelum Djamari memproklamirkan diri sebagai penemu kretek.

    Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek.

    'Kacamata kuda' memang tidak bisa dipakai untuk menilai kretek. Dia juga berfungsi sebagai medium sosial dalam kehidupan masyarakat. Di sini kretek berfungsi mencairkan suasana atau sebagai bahasa pergaulan. Dalam masyarakat Minangkabau, misalnya, rokok kretek selalu ada dalam setiap upacara-upacara adat, demikian dikutip dari lama Komunitas Kretek.

    Ini tersirat dalam banyak petatah-petitih Minangkabau yang menggunakan idiom rokok atau tembakau, sirih, dan pinang. Ambil contoh, petatah-petitih dalam tradisi kasusastraan cerita Randai: "Datuak baringin sonsang, baduo jo pandeka kilek, hisoklah rokok nan sebatang, supayo rundiangan naknyo dapek". Artinya, ketika tembakau sudah dibakar dan dihisap, maka perundingan atau musyawarah mufakat sudah bisa dimulai.


    Tradisi mengisap kretek dalam acara selametan. (Foto: bolehmerokok.com)

    Rokok dalam hal ini menjadi penanda bahwa pertemuan yang dilaksanakan telah resmi dan sah secara adat. Atau dalam ungkapan sehari-hari, "Maim bau baralek yang selalu menyertakan salapah di carano". Artinya, orang akan merasa dihargai jika rokok yang diberikannya sudah dihisap atau setidaknya diambil. Tanpa terkecuali dalam budaya masyarakat Jawa, misalnya, dalam Slametan atau Kenduri selalu ada jamuan kretek dalam gelas bersanding dengan teh atau kopi beserta panganan lainnya.

    Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Artinya usia kretek telah mencapai, bahkan melebihi batas 50 tahun sebagai syarat ditetapkannya sebuah benda/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. 

    Bahkan jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. 

    Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang mengakar. Perkembangannya, sistem tersebut menjadi sarana memperoleh nilai ekonomi sebagai penguatan hidup keberlanjutan. Tak hanya itu, sistem pengetahuan tersebut membawa si pewaris menuju kehidupan sejahtera. 


    Infografik (Ilham/era.id)

    Tag: sejarah nusantara dosa dosa negara kepada kebudayaan

    Bagikan :