'Happy Days': CIA dan Proyek Propaganda Film Porno Mirip Soekarno

| 18 Aug 2020 15:00
'Happy Days': CIA dan Proyek Propaganda Film Porno Mirip Soekarno
Soekarno mengaku sudah melihat film Happy Days yang direkayasa Badan Pusat Intelijen (CIA) Amerika Serikat untuk menjatuhkan martabatnya.

ERA.id - Sekitar tahun 1957, Robert Aime Maheu, mantan agen FBI yang baru saja kembali di dunia intelijen, disodori informasi oleh Badan Pusat Intelijen (CIA) Amerika Serikat. Presiden Indonesia yang sedang naik daun, Soekarno, sedang terpikat dengan seorang wanita mata-mata Uni Soviet. CIA lantas memberinya proyek tandingan, merekayasa film porno mirip Soekarno untuk disebarkan ke seluruh dunia.

Maheu menceritakan di dalam buku otobiografinya bersama Richard Hack, bagaimana ia pertama mendengarkan cara kotor Rusia dalam mengambil hati Soekarno semasa Perang Dingin (1941-1991).

"Sheff menceritakan kisah tentang Soekarno dan seorang perempuan pirang. Saat mengunjungi Soviet, Soekarno diperlakukan sama seperti di sini (Amerika Serikat), disediakan perempuan. Tetapi Soviet telah membuat kita menjadi lebih baik: salah satu dari perempuan yang mereka berikan kepada Soekarno adalah seorang agen KGB (polisi mata-mata Uni Soviet)."

Soekarno di Uni Soviet
Soekarno di Uni Soviet. Foto: /Indonesia Through Russian Lens' karya Kedutaan Besar RI untuk Russia (2011)/teguhtimur.com

Ia mendapat informasi tersebut dari Kolonel Sheffield Edwards, Kepala Keamanan CIA. Ia juga mengetahui bahwa bahkan satu tahun setelah Soekarno berkunjung ke AS (16 Mei-3 Juni 1956), hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat justru memburuk. Sebaliknya, hubungan Soekarno dengan Uni Soviet justru makin mesra.

Pertemuan antara Maheu dan Edwards di Virginia itu memulai proyek rekayasa film porno CIA yang bertujuan menurunkan legitimasi sosok Soekarno. CIA sendiri, seperti ditulis Geoffrey B. Robinson, sudah biasa memakai "trik-trik kotor" untuk menjegal lawan politiknya.

"CIA meracik rencana produksi film porno dan foto-foto yang seolah-olah menggambarkan Soekarno ada di tempat tidur dengan pramugari Uni Soviet," tulis Robinson dalam buku Musim Menjagal: Sejarah Pembunuhan Massal di Indonesia 1965-1966.

"Film dan foto-foto tersebut akan dikirim secara anonim ke saluran berita negara lain. Dokumen tersebut juga akan disertai laporan yang mengesankan bahwa Soekarno sedang dirayu atau diperas oleh Soviet."

Happy Days

Lalu bagaimana film itu dibuat?

Pertama perlu diketahui bahwa Robert Maheu bukanlah pembuat film porno. Lahir 30 Oktober 1917 di keluarga sederhana asal Waterville, Maine, ia bergelar sarjana ekonomi. Ia lantas direkrut Biro Intelijen Federal (FBI) AS dan bekerja di unit kontraintelijen selama Perang Dunia II, namun, keluar dari satuan itu pada tahun 1947.

Setelah sempat bekerja di perusahaan lain, Maheu kembali ke dunia intelijen lewat perusahaannya, Robert A. Maheu and Associates, yaitu suatu agen penyidikan di Amerika Serikat. Sheffield sendiri menemui Maheu karena tahu ia punya rekan di Hollywood, Los Angeles, AS, tempat industri film besar bercokol.

"Saya setuju. Soviet benar-benar tidak bermain sesuai aturan, dan kita juga tidak bisa," kata Maheu mengisyaratkan bahwa CIA merasa perlu melakukan trik kotor rekayasa film porno mirip Soekarno karena Uni Soviet telah melanggar aturan etis. Buktinya jelas, yaitu foto-foto yang didapat oleh informan CIA di satuan militer Uni Soviet, berisi sosok Soekarno, perempuan pirang, dan sebuah kamar tidur yang ditinggali keduanya selama di Uni Soviet.

"Film itu tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi film porno," kata Maheu. "Yang diinginkan CIA hanyalah tayangan kamera pengintai dari seorang pria mirip Soekarno, yang tertangkap di ambang berbuat sesuatu dengan seorang perempuan yang ternyata agen Soviet."

Robert Maheu pun memulai proyek film panasnya itu. Pertama, ia mengontak Larry dan Bing Cosby di Los Angeles untuk bisa menyewa satu studio kecil di Hollywood.

Berikutnya, mereka mencari aktor pemeran Soekarno dan wanita pirang Uni Soviet. Dari seorang undersherrif di Los Angeles County, Hal Marlowe, dan asisten Sheriff Pete Pitchess, mereka mendapatkan sosok agen mata-mata AS yang wajahnya mirip dengan si perempuan pirang Soviet.

Sementara itu, Maheu mengenal seorang pria dengan tampang Hispanik bernama Chuck Kayes yang kelak dipilih memerankan Soekarno di film porno rekaan itu.

"Walaupun [Kayes] tidak begitu mirip Soekarno, setelah penata rias Bing Cosby selesai meriasnya, Anda pasti akan bersumpah bahwa lelaki itu adalah Presiden Indonesia," kata Robert Maheu.

Syuting pun dilakukan tengah malam dengan hanya disaksikan Maheu, Hal Marlowe dan kedua aktor malang tersebut. Proses syuting berlangsung selama lima menit. Dan kedua aktor malang tersebut tidak mengetahui tujuan pembuatan film itu.

Film porno mirip Soekarno itu tercatat memiliki judul "Happy Days". Namun, nasib akhir film tersebut "tak pernah dilaporkan", tulis William Blum di buku Killing Hope: US Military and CIA Intervention Since World War II.

Dari sejumlah catatan ditemukan bahwa film tersebut tak pernah dirilis. Beberapa gambar dikabarkan memang telah bocor ke Indonesia, Asia, dan Eropa, serta menghasilkan sejumlah dampak bagi hubungan Soekarno dengan Uni Soviet, maupun hubungan si Bung dengan Indonesia sendiri.

Soekarno dan Khrushchev
Potret hubungan antara Indonesia-Uni Soviet, di mana terlihat Soekarno bergandengan lengan dengan PM Uni Soviet Nikita Khrushchev, 1961/id.rbth.com

Seorang pejabat CIA, Joseph B. Smith mengaku bahwa misi kantornya berhasil karena berita 'film porno mirip Soekarno' muncul di sejumlah pers dunia. Namun, menurut sejumlah penulis, seperti Kenneth J. Conboy dan James Morrison, proyek tersebut justru memberi dampak positif terhadap sosok Soekarno yang sudah dikenal flamboyan di mana-mana.

"Di beberapa negara Dunia Ketiga, mereka menyukai gagasan seorang pria berwarna berhubungan seks dengan perempuan kulit putih," kata Conboy.

"Posisi Soekarno di Indonesia, meski selalu kuat, tidak pernah sama lagi," kata Maheu. "Dan saya tidak berpikir terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa film kecil saya menandai awal dari akhir hidupnya."

Seperti diketahui bahwa hubungan Soekarno dengan Uni Soviet semakin mesra di dekade 1960an. Pada 1961, muncul foto pemimpin Indonesia tersebut bergandeng tangan dengan PM Uni Soviet Nikita Khrushchev. Hubungan ini juga yang mengisyaratkan condongnya Bung Karno dengan paham komunisme dan Partai Komunis Indonesia (PKI) sehingga terjadi peristiwa lengsernya sang proklamator pada 26 Maret 1967.

Rekomendasi