ERA.id - Tuksedo Studio resmi meluncurkan mobil sport luxury setelah delapan tahun mengasah kemampuan melalui pembuatan berbagai replika mobil sport terbaik dunia. Mobil pertama ini dinamai FirstLady, yang juga menggandeng seniman lokal Bali dalam urusan desain.
FirstLady resmi diperkenalkan kepada publik dalam acara Auto & Fashion Gala 2026 — An Evening of La Dolce Vita di Tuksedo Studio, Ketewel, Gianyar, Bali, Jumat (18/9/2026) dengan menggandeng RANS Entertainment. Mobil ini menandai evolusi Tuksedo Studio dari pembuat replika mobil klasik dunia menjadi produsen mobil orisinal dengan desain buatan tangan sendiri.
Co-owner Tuksedo Studio, Laksmana Gusti Handoko, didampingi owner Tuksedo Studio Pudji Handoko, mengatakan pengenalan FirstLady bukan sekadar peluncuran produk, melainkan penanda dimulainya perjalanan baru Tuksedo Studio dari pembuat replika menuju pengembangan mobil dengan desain orisinal sendiri.
Gusti bahkan menggandeng sejumlah perajin, seniman serta pekerja kreatif lokal yang mayoritas anak muda untuk mengembangkan desain mobil FirstLady.
"Event ini bertujuan memperkenalkan mobil desain buatan kami sendiri, desain asli kami yang handmade dibuat, di-assembly dan di-finish di Bali oleh perajin Bali dan seniman lokal, anak-anak muda," kata Gusti.
Menurut dia, FirstLady saat ini masih berada dalam tahap awal pengerjaan, yakni sekitar 25 persen. Meski demikian, Tuksedo Studio sengaja memperkenalkannya lebih awal agar masyarakat dapat melihat langsung proses pengembangan mobil tersebut.
"Kalau diperkenalkan setelah jadi, khawatir ada yang tidak percaya bahwa anak-anak muda Indonesia bisa menghasilkan karya mobil sendiri. Biar masyarakat tahu bahwa mobil ini benar-benar dibuat di Bali, bukan dibuat di Italia," ujarnya.
Lalu, kata Gusti, FirstLady tidak lahir secara tiba-tiba. Sebelum berani mengembangkan desain sendiri, Tuksedo Studio telah melewati proses belajar panjang melalui pembuatan mobil-mobil replika selama tujuh hingga delapan tahun terakhir.
Dari proses tersebut, tim Tuksedo Studio mengaku menyerap berbagai pengetahuan mengenai konstruksi, desain, pengerjaan bodi, detail interior hingga karakter sebuah mobil sport.
"Prosesnya jelas. Kami tujuh sampai delapan tahun terakhir telah belajar dari mobil replika, mobil-mobil terbaik sepanjang sejarah yang telah kami buat. Selama ini kami sudah bisa menyerap ilmunya. Tidak tiba-tiba ada duit lalu bikin mobil," kata Gusti.
Sementara proses desain FirstLady sendiri telah berlangsung sekitar tiga tahun. Tahap pengerjaan fisiknya mulai dilakukan pada awal 2026.
Pengalaman panjang tersebut menjadi modal bagi Tuksedo Studio untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam mengembangkan mobil dengan identitas Indonesia.
"Ini adalah mobil pertama kami dan masih dalam tahap research and development. Pasti akan banyak penyesuaian dan regulasi. Kami menargetkan mobil ini selesai pertengahan 2027," katanya.
Bukan Sekadar Mobil, tetapi Karya Seni
Gusti mengatakan FirstLady dirancang bukan untuk bersaing dengan mobil produksi massal. Konsep yang dibawa justru menempatkan mobil sebagai perpaduan antara otomotif, seni dan fashion.
Karena itu, acara pengenalan FirstLady dikemas melalui perpaduan otomotif dan industri kreatif, mulai dari gala dinner, fashion show, art exhibition, mini orchestra hingga prosesi unveiling FirstLady.
"Kami ingin menyampaikan bahwa mobil ini bukan sekadar mobil, tetapi karya seni dan fashion statement," ujarnya.
Menurut Gusti, mobil dengan jumlah produksi besar memang telah banyak tersedia. Namun, mobil yang memiliki kepribadian dan karakter desain tersendiri, khususnya dengan identitas Indonesia, masih sangat terbatas.
"Orang-orang yang akan membeli atau suka dengan mobil ini adalah orang-orang yang memiliki selera fashion sendiri, personality sendiri dan karakter sendiri. Membuat mobil massal banyak, tetapi membuat mobil dengan personality sendiri dan karakter Indonesia itu belum banyak," katanya.
Karena itu pula, proses FirstLady sengaja dibuka kepada publik sejak tahap awal.
Tuksedo Studio bahkan mempersilakan masyarakat melihat secara langsung proses pembuatannya mulai dari acara 18 September 2026 hingga mobil tersebut selesai.
"Track record-nya jelas, kami transparan. Siapa pun yang mau melihat proses pembuatannya mulai tanggal 18 September nanti hingga penyelesaian, silakan datang ke Tuksedo Studio. Semuanya jelas, pabriknya jelas, siapa di Bali yang membuat ini jelas," kata Gusti.
Ia berharap keterbukaan tersebut dapat membuat FirstLady menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk berani menghasilkan karya di bidang otomotif.
Berkolaborasi dengan RANS Entertainment
Dalam pengembangan FirstLady, Tuksedo Studio menggandeng RANS Entertainment yang dipimpin Raffi Ahmad.
Gusti mengatakan kolaborasi tersebut lahir dari kesamaan passion terhadap dunia otomotif sekaligus keinginan untuk menghadirkan karya anak bangsa yang dapat dibanggakan di tingkat internasional.
"Saya sama Mas Raffi sudah temenan dan sudah lama berniat bareng mewujudkan ide. Passion kami sama, sama-sama suka mobil. Ternyata cocok dengan saya dan teman-teman," ujarnya.
Menurut Gusti, keterlibatan RANS diharapkan dapat mendukung cita-cita menjadikan FirstLady bukan hanya sebagai karya anak bangsa, tetapi juga karya yang mampu mendapat apresiasi dari masyarakat internasional.
Ia juga menekankan bahwa proyek tersebut sangat dekat dengan generasi muda karena sekitar 90 persen pekerja seni dan kreatif yang terlibat di Tuksedo Studio berusia di bawah 30 tahun.
"Ini tidak hanya karya Bali, tetapi karya anak-anak muda Indonesia," katanya.
Dorong Regulasi untuk Industri Otomotif Skala Kecil
Gusti berharap pemerintah turut memberikan ruang bagi berkembangnya industri otomotif berbasis karya dan produksi terbatas di Indonesia.
Menurut dia, budaya otomotif Indonesia sebenarnya telah berkembang kuat melalui komunitas, klub, custom culture dan berbagai kegiatan otomotif. Namun, perkembangan tersebut belum sepenuhnya diikuti kematangan industri.
"Secara budaya otomotif Indonesia sudah sangat baik dari segi komunitas, klub, custom culture. Cuma kita belum mature di segi industri," ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat lebih aktif membangun kepercayaan diri masyarakat untuk menghasilkan karya otomotif sendiri.
Bagi Gusti, semakin banyak pihak yang berani menciptakan mobil dengan karakter berbeda justru akan memperkaya industri otomotif nasional.
"Harapan saya dengan pemerintah lebih ke arah bagaimana jemput bola membangkitkan percaya diri kami, rakyat Indonesia. Tak hanya kami yang sudah bisa membuat mobil, tetapi semua penggemar otomotif," katanya.
Ia juga mengharapkan adanya regulasi yang lebih sesuai bagi pelaku industri otomotif dengan produksi terbatas. Menurutnya, produsen yang hanya mampu menghasilkan sekitar lima hingga 10 unit mobil per tahun memiliki karakter berbeda dengan industri otomotif massal.
"Regulasi yang lebih pas untuk industri kami tentu saja tidak bisa disamakan nantinya dengan pemain atau pelaku industri yang sudah mature, terutama dari luar negeri. Bukan dari segi kualitas, tetapi dari segi tahapan, regulasi dan birokrasi," ujarnya.
Salah satu contoh yang disorot adalah mekanisme pengujian dan quality control. Gusti berharap proses teknis tertentu dapat dilakukan lebih dekat dengan daerah tempat industri tersebut berkembang sehingga tidak seluruh proses harus terpusat.
"Misalnya testing mobil, quality control mobil, harapannya di setiap daerah bisa dilakukan, jangan semua terpusat. Modalnya besar karena bengkel kan tersebar di mana-mana," katanya.
Dengan target penyelesaian pada pertengahan 2027, FirstLady kini menjadi proyek besar berikutnya bagi Tuksedo Studio. Dari pengalaman membuat replika mobil-mobil ikonik selama hampir satu dekade, studio yang berbasis di Ketewel itu kini mencoba membuktikan bahwa anak muda Bali juga mampu menciptakan mobil dengan desain, karakter dan identitasnya sendiri.