ERA.id - Menjelang HUT Kemerdekaan RI yang ke-81, Merah Putih berkibar megah di kawasan wisata Hiu Paus Kampung Sowa, Distrik Kwatisore, Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Momentum ini membawa pesan cinta kepada Tanah Air sekaligus memperkenalkan kekayaan bahari Papua Tengah kepada dunia.
Kegiatan yang diprakarsai Yayasan Somatua dan PT Adventure Cartenz bersama komunitas penyelam Papua Tengah serta masyarakat setempat itu mendapat dukungan dari Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan Polda Papua Tengah. Bagi Yayasan Somatua, momentum kemerdekaan ini menjadi kesempatan untuk mendorong pariwisata sebagai kekuatan baru bagi masyarakat Papua Tengah, terutama dalam membuka ruang ekonomi, pendidikan dan lapangan pekerjaan bagi generasi muda.
Pimpinan Yayasan Somatua, Maximus Tipagau, yang selama ini aktif mendorong pengembangan pariwisata di Tanah Papua, mengatakan pihaknya ingin menjadikan Hiu Paus Teluk Cenderawasih sebagai salah satu ikon pariwisata Papua Tengah.
"HUT Kemerdekaan ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan ekonomi dan pendidikan masyarakat melalui pariwisata," ujarnya.
Menurut Maximus, ada tiga hal besar yang ingin didorong Yayasan Somatua melalui pengembangan pariwisata di Papua Tengah. Pertama, menjadikan pariwisata sebagai penggerak ekonomi sekaligus sarana pendidikan masyarakat. Kehadiran wisatawan diharapkan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi anak-anak muda Papua, khususnya mereka yang tinggal di sekitar kawasan wisata.
"Kami berharap anak-anak muda bisa belajar diving, bahasa Inggris dan keterampilan lainnya sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat dan mendapatkan manfaat dari pariwisata," katanya.
Kedua, memperkenalkan destinasi-destinasi unggulan Papua Tengah kepada masyarakat luas, mulai dari Hiu Paus di Teluk Cenderawasih, Puncak Carstensz hingga kekayaan budaya Papua. Promosi yang kuat diharapkan dapat menarik lebih banyak wisatawan dan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan pendapatan daerah.
Namun di sisi lain, Maximus menegaskan pengembangan pariwisata tidak dapat dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara masyarakat pesisir Teluk Cenderawasih, komunitas pemuda dan penyelam, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, pemerintah daerah, pemerintah provinsi hingga aparat kepolisian.
"Pengembangan pariwisata ini tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi semua pihak,” tegasnya.
Ketiga, pariwisata diharapkan menjadi ruang untuk mempererat persatuan masyarakat sekaligus membuka mata dunia bahwa Papua Tengah memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa serta destinasi wisata yang layak dikunjungi.
"Harapannya Hiu Paus ini terus menggema, menjadi salah satu tujuan wisata dan mampu membuka lapangan kerja bagi anak-anak Papua. Melalui pariwisata juga kita bisa menyampaikan kepada dunia bahwa Papua itu daerah yang aman," tuturnya.
Menurutnya, pengembangan pariwisata harus berjalan beriringan dengan komitmen menjaga kawasan konservasi. Hiu Paus tidak boleh hanya dilihat sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai bagian penting dari ekosistem laut Teluk Cenderawasih yang keberadaannya harus dilindungi.
"Tentunya semua ini bisa terwujud apabila pemerintah mendukung pembangunan infrastruktur, promosi yang kuat, keterlibatan masyarakat serta perlindungan kawasan konservasi. Papua Tengah diharapkan mampu menjadi salah satu tujuan wisata unggulan Indonesia," pungkasnya.
Pengibaran Merah Putih di kawasan habitat Hiu Paus menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan di daratan, tetapi juga hadir di tengah kekayaan alam Indonesia yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Kwatisore sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan penting keberadaan Hiu Paus di Teluk Cenderawasih. Kehadiran satwa laut tersebut bukan hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga memiliki nilai ekologis yang penting bagi ekosistem laut.