Demi Nge-Gacha, Staf Kementerian Jepang Nekat Korupsi

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi Game [email protected]: Cinderella Girls

Jepang, era.id - Bermain game memang menyenangkan apalagi kalau sampai punya item serta skill yang rare apalagi kalau sampai SSR. Tapi untuk mendapatkannya jika hanya bermain normal saja tentu bisa walau tentunya memakan waktu lama.

Nah cara termudah untuk mendapatkan berbagai karakter dan item itu hanya bisa didapatkan lewat sistem gacha alias undian, baik menggunakan mata uang dalam game-nya atau menggunakan uang sungguhan (terutama untuk item yang bersifat istimewa). 

Hanya saja, tak sedikit yang terobsesi untuk menggeluti dan mengoleksi para karakter dalam gamenya melalui gacha. Bahkan, salah satu yang ter-ekstrim sampai berani menggelapkan uang kantor hanya untuk nge-gacha. Dan ya, kasus ini benar-benar terjadi di Jepang!

Dilansir dari situs berita Asahi Shimbun, Selasa (31/7/2018) Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang baru-baru ini mengumumkan bahwa salah satu pegawainya diketahui menggelapkan dana sebesar 7,7 juta yen (atau sekitar Rp1 milyar). Dan lebih parahnya lagi uang tersebut ternyata digunakan untuk bermain game ponsel ber-gacha. Tidak disebutkan di game apakah sang pegawai menghabiskan uangnya ini.


(Screenshot Game Gacha)

Praktik korupsi ini diketahui setelah pihak kementrian memeriksa catatan transaksi dari beberapa rekening staf yang sudah dicurigai. Diketahui uang-uang itu ternyata berasal dari dana dukungan pendidikan yang dibayar oleh para wali murid untuk membantu kegiatan ekstrakulikuler dan studi luar negeri para mahasiswanya yang seharusnya ia kelola. 

Dana ini digelapkan ketika sang pegawai bertugas menjadi asisten manajer di salah satu Universitas Pendidikan Kyoto dari April 2015 hingga Maret 2018. Sekitar 460 ribu yen (sekitar Rp59 juta) dari total uang tersebut ia gelapkan ketika sang pegawai berpindah tugas ke Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Sains, dan Teknologi.

Penyelidikan pun dilakukan untuk menelusuri catatan transaksi keuangan yang digelapkan sang pegawai itu. Ternyata kelakuannya menggelapkan dana sebesar itu demi bermain game gacha. Selain untuk game, uang itu juga ia gunakan untuk membeli plastic model.


Apa sih Nge-Gacha?


Sebelum kalian bingung, kenapa ada orang yang nekat menggelapkan uang cuma untuk nge-game, mending era.id jelaskan apa itu Gacha dulu.

Gacha diambil dari kata Gachapon, sebuah mainan/aksesoris dalam bola yang diambil dari mesin penjual otomatis khas Jepang. Biasanya kita enggak akan tahu mainan apa yang akan kita dapat karena diundi secara ajak. Nah karena random, ada sensasi tersendiri bagi mereka yang berhasil mengkoleksi mainan dari game gacha.

Istilah gacha ini juga merembet ke dunia game, terutama game freemium. Game freemium memang menjanjikan game yang tak berbayar alias gratis, namun jika kita ingin menjadi yang terhebat, maka tersedia item atau karakter yang hanya bisa didapat melalui konten berbayar. 

Item atau karakter yang dikeluarkan dari hasil penarikan gacha pun beragam kelangkaan atau rarity yang didapatkan. Levelnya mulai dari N untuk Normal, Rare, SR untuk Super Rare, SSR untuk Double Super Rare, ada pula UR atau Unique Rare dan SSUR yang pastinya untuk super duper rare bangetlah. 

Nah yang bikin banyak pemain Salty dan kecanduan narik gacha. Salah satunya dari kebiasaan para pemain yang sering memamerkan item atau tampilan karakter SSR atau UR, biasanya sih ini bikin mereka yang dapet item Normal terkesan ampas dan Salty.


Okeh, untuk kasus ini tentunya menjadi pelajaran bagi kita yang sudah bermain game ponsel ber-gacha agar “menahan diri” ketika ingin mengoleksi item dan karakter idaman. 

Penulis sendiri bukannya tidak suka narik gacha, apalagi dulu pas main Love Live School Idol!. Tapi ya, jangan sampai terobsesi dan 'Khilaf' apalagi sampai menghabiskan uang negara juga sih.

Tag: kecanduan game gempa di jepang smartphone

Bagikan: