Inkonsistensi NU di Pilpres 2019

Tim Editor

Nahdlatul Ulama (Foto: www.nu.or.id)

Jakarta, era.id - Sore kemarin, pasangan bakal calon presiden dan calon wakil presiden, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno silaturahmi ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta Pusat. Pertemuan yang berlangsung sekitar satu setengah jam itu memperlihatkan sikap baru dari arah politik organisasi yang lahir pada 31 Januari 1926 ini.

Organisasi Islam terbesar di Indonesia itu cenderung plin-plan menentukan arah politiknya di Pemilu Presiden 2019. Terlihat dari sikap sang ketua umum, Said Aqil Siradj yang mengaku menaruh harapan besar kepada pasangan yang diusung empat partai politik itu.

Padahal sudah bukan rahasia lagi, jika belakangan NU terlihat lebih intim membangun komunikasi dengan koalisi pendukung pasangan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. Bahkan dua partai yang berfiliasi ke NU yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sudah siap pasang badan untuk kemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin di pertarungan elektoral mendatang.

Said Aqil bahkan mengaku tengah mempersiapkan kartu anggota NU untuk Prabowo. Padahal sebelumnya Prabowo tidak pernah sama sekali terlibat dalam kepengurusan di organiasi yang didirikan KH Hasyim Asyari ini.


Pertemuan di Kantor PBNU, Jakarta Pusat. (Foto: www.nu.or.id)

"Insyaallah lagi disiapkan kartu anggota NU untuk Pak Prabowo," kata Said Aqil di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (15/8).

Tak berhenti di situ, Said Aqil bahkan memuji dengan menyebut bahwa mantan Danjen Kopassus tersebut merupakan sahabat dari Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, Presiden ke-4 RI. Said bilang, bahwa Gus Dur pernah memuji Prabowo sebagai orang paling ikhlas kepada bangsa. "Gus Dur pernah katakan kalau cari orang ikhlas kepada bangsa, itu Prabowo," imbuh dia.

Baca Juga : Said Aqil Kasih Prabowo Kartu Anggota NU

Sementara itu, Ketua PBNU Robikin Emhas mengaku sepakat dengan visi misi yang diusung oleh Prabowo. Ia melihat kondisi perekonomian saat ini mengkhawatirkan dengan melambungnya sejumlah harga bahan pokok. Tidak hanya itu, kata dia, kesenjangan sosial di zaman Jokowi juga menjadi sorotan tersendiri bagi warga NU. 

"Kita berharap bahwa pemerintahan Pak Pabowo kalau misalnya dia terpilih juga begitu, bisa mengurangi angka kemiskinan secara signifikan termasuk juga kesenjangan," kata Rabikin.

Meski begitu, Rabikin menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama bukanlah organisasi politik melainkan organisasi keagamaan. Majunya Rais Amm NU, Ma'ruf Amin sebagai bakal calon presiden, lanjut Rabikin, tak lantas mengharuskan para nahdliyin--sebutan untuk masyarakat NU--harus memilihnya.

Nahdlatul Ulama Plin-plan

Pernyataan Said Aqil yang cenderung berpihak kepada Prabowo ini bertolak belakang dari pernyataannya beberapa waktu lalu. Saat itu, Said Aqil memastikan kalau warga NU bakal memenangkan Jokowi-Ma'ruf Amin.

"Tidak usah digerakkan, otomatis akan bergerak sendiri," kata Said Aqil dalam jumpa pers di Kantor PBNU, Jakarta, seperti dikutip Antara, Kamis malam (9/8).

Said Aqil bilang, warga NU pasti merasa punya tanggung jawab moral untuk mendukung pemimpin tertinggi NU itu (Ma'ruf Amin). Menurut dia, dipilihnya Ma'ruf Amin yang merupakan Rais Aam PBNU serta kader NU semenjak muda menjadi cawapres, membawa kebanggaan dan kepercayaan diri kader-kader dan warga NU.

"Jadi, tidak usah dibayar, tidak usah didorong, akan kampanye semua," kata Said Aqil.    

Sedangkan dalam pertemuan dengan Prabowo dan Sandiaga, PBNU menegaskan bahwa pihaknya berdiri di atas semua golongan. Artinya, NU tidak berpihak kepada kandidat mana pun di Pemilu Presiden 2019, termasuk calon pertahan, Jokowi.


(Ilustrasi/era.id)

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin menilai, para pengikut NU bisa terpecah dan kebingungan melihat sikap organisasi keagamaannya diseret ke ranah politik. Sebagian dari mereka ada yang berkeyakinan harus mengikuti pilihan ulama, dan sebagian lainnya memilih mengedepankan rasionalitas dalam memilih.

"Antara kultural dan strutural NU berbeda pilihan, saya katakan tadi jika bicara NU maka pilihannya ke berbagai partai," kata Ujang kepada era.id.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review itu mencatat, dari 91 juta pengikut NU, hanya 9 juta orang yang berafiliasi ke PKB dan 3 juta orang yang bergabung dengan PPP. Sedangkan sisanya 79 juta orang berada di jalur tengah atau flying voters atau pemilih yang belum menentukan pilihan.

Berkaca pada Pemilu 2004 ketika Megawati berpasangan dengan tokoh NU, Hasyim Muzadi, dan Wiranto berpasangan dengan Salahudin Wahid yang merupakan tokoh NU juga, keduanya malah kalah oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla. Hal tersebut membuktikan secara kultural orang NU memiliki pilihannya masing-masing dan tidak mengekor pada kepalanya. 

"Pemilih NU adalah pemilih cair jika kita berkaca pada pemilu 2004 lalu," tutupnya.

Tag: nahdlatul ulama pilpres 2019 prabowo-sandiaga jokowi-maruf amin

Bagikan: