BMKG : Terpantau ada 19 Titik Api di Jambi

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi melalui sensor modis sateli terra-aqua dan Suomi NPP update, memantau ada sebanyak 19 titik panas atau hotspot. Titik panas ini, terpantau pada Kamis (23/8), sejak pukul 05.00 WIB dengan tingkat kepercayaan terjadinya kebakaran atau confident mencapai 100 persen.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi, Kurnia Ningsih mengatakan, lokasi 19 titik panas tersebut berada di Kabupaten Batanghari, Kabupaten Tanjungjabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan Muarojambi.

Di Kabupaten Batanghari terdeteksi dua titik, lalu dua titik di Kabupaten Tanjungjabung Timur dan satu titik di Tanjungjabung Barat. 

Sementara, di Kabupaten Muarojambi merupakan daerah dengan titik panas terbanyak yakni 14 titik.  Katanya, 14 titik tersebut berada di Kecamatan Kumpeh, lima titik di antaranya dengan tingkat kepercayaan terjadi kebakaran mencapai 100 persen. Sisanya 59 hingga 95 persen.

Kemudian, lanjut Kurnia, di Kabupaten Batanghari, tedapat dua titik panas yang terdeteksi, tepatnya di Kecamatan Bajubang dengan tingkat kepercayaan terjadinya kebakaran 74 dan 79 persen.

Sedangkan, di Kabupaten Tanjungjabung Timur, Kecamatan Mendahara Ulu sebanyak dua titik terdeteksi di dengan tingkat kepercayaan 51 dan 71 persen.

Sementara, di Kabupaten Tanjungjabung Barat, lanjutnya, terdeteksi satu titik tepatnya di Kecamatan Batangasam dengan tingkat kepercayaan 69 persen.

Menurut Kurnia, berdasarkan data pada Kamis 23 Agustus 2018, untuk wilayah Sumatera, wilayah Jambi merupakan yang terbanyak titik panasnya, disusul Sumatera Selatan 15 titik, Kepulauan Bangka Belitung 12 titik, Riau delapan titik dan Bengkulu satu titik.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jambi, Fachrori Umar setelah memantau langsung kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melalui udara, pihaknya meminta seluruh masyarakat Jambi untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap Karhutla yang saat ini sudah mulai terjadi.

"Kita harus lebih waspada lagi terhadap Karhutla ini, apalagi sekarang mulai memasuki musim panas dan di beberapa titik juga telah terjadi Karhutla. Inilah yang menjadi penyebab kabut asap dan berdampak negatif bagi masyarakat Jambi, salah satunya adalah pencemaran udara yang mengakibatkan terganggunya pernapasan," kata Fachrori, seperti dilansir Antara, Jakarta, Kamis (23/8/2018).

Fachrori menjelaskan, salah satu penyebab dari terjadinya Karhutla adalah ulah manusia yang sengaja membakar untuk membuka lahan. Bahkan, katanya, ada yang memang sengaja membuang puntung rokok sembarangan dalam keadaan menyala.

Di sisi lain, Fachrori berharap, Tim Satgas Karhutla Provinsi Jambi untuk lebih siaga dalam melakukan penanggulangan Karhutla. Sebab, dirinya telah melakukan patroli udara, dan sudah terlihat beberapa titik api yang mengakibatkan asap tebal.

Tag: kebakaran hutan

Bagikan: