BNPB Pastikan Tak Ada Asap 'Nyebrang' ke Negara Tetangga

Tim Editor

Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (dok BNPB)

Jakarta, era.id - Kebakaran hutan dan lahan atau disebut karhutla masih terjadi di beberapa daerah Indonesia. Provinsi Kalimantan dan Riau terdeteksi paling rawan dan menjadi salah satu fokus utama pemadaman kebakaran hutan.

Berdasarkan citra satelit modis-catalog.lapan.go.id dalam periode 24 jam terakhir, menunjukkan jumlah titik panas atau hotspot terpantau di wilayah Sumatera dan Kalimatan, yaitu Aceh 10 titik, Jambi delapan titik, Lampung, Sumatera Selatan, tiga titik di Sumatera Utara dan 56 titik di Riau.

"Selain itu titik panas juga teridentifkasi di wilayah Kalimantan Barat 27 titik, Kalimantan Selatan 2, dan Kalimantan Tengah 29," tulis Plh. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo dalam keterangan tertulis yang diterima era.id, Jumat (9/8/2019).

Meski demikian, Agus memastikan tidak ada sebaran asap yang 'menyeberang' ke negara tetangga. Sebab BNPB dalam Satuan Tugas (Satgas) bersama TNI, Polri, BPBD, dan Manggala Agni terus berupaya memadamkan api yang masih terpantau di wilayah-wilayah tersebut. 

"Berdasarkan data trajektori dan asap sebaran asap menggunakan data satelit Himawari-8, BMKG, per 9 Agustus 2019, pukul 09.00 WIB dan 10.00 WIB, tidak ada asap yang keluar dari wilayah batas negara atau transboundary haze," jelasnya.

Hal itu diperkuat dengan laporan dari Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG A Fachri Radjab yang mengatakan sebaran asap di wilayah Pulau Kalimantan tida ada yang melintasi masuk ke wilayah negara tetangga. Pantauan arah angin di Kalimantan Tengah menunjukkan dari arah tenggara ke barat laut, sedangkan sebaran asap pada umumnya menyebar ke arah barat laut.



Jika ada kabut asap pada udara di negara tetangga Malaysia, BMKG mencatat hal tersebut lantaran titik panas dan polusi udara di wilayah tersebut. Berdasarkan citra satelit ASEAN Specialized Meteorological Centre (ASMC) pada 8 Agustus 2019, ia menyebutkan, ada tiga titik panas atau hotspot di wilayah Malaysia. 

"Di samping itu, ada potensi polusi di wilayah Malaysia yang berpengaruh terhadap kualitas udara di wilayah tersebut," lanjutnya.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia terus berupaya mengatasi sebaran titik panas yang menjadi penyebab karhutla. Upaya ini dilakukan agar penyebaran kabut asap tidak sampai ke negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.



Direktur Pengendalian Karhutla KLHK, Raffles B Panjaitan mengatakan Satgas Terpadu Karhutla yang terdiri dari Manggala Agni, Polisi, TNI, BNPB, Pemda (BPBD), Kepala Desa, Regu Dalkar Swasta (Perkebunan, HTI, dan Ijin usaha lain), Brigade Karhut Taman Nasional dan BKSDAE serta MPA, terus melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan titik api yang bermunculan di daerah-daerah rawan.

Saat ini kata Raffles, tim Satgas Terpadu juga telah melakukan 24.660 kali water boombing untuk memadamkan api di titik-titik yang sulit dijangkau tim darat. Selain itu juga dilakukan modifikasi cuaca hujan buatan, dengan fokus pada daerah-daerah rawan seperti Kabupaten Bengkalis, Siak, Inhil, Kampar, Pelalawan, Ogan Ilir, Kep. Meranti dan Kota Dumai (Riau). 
 

Tag: kebakaran hutan

Bagikan: