'Meneladani' Kemandirian dan Keteguhan Edy Rahmayadi

Tim Editor

Edy Rahmayadi (Sumber: Instagram/@edy_rahmayadi)

Jakarta, era.id - Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi betul-betul harus mempertimbangkan keputusannya menetap di dalam tubuh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Bukan karena beliau enggak mampu. Kami yakin, Edy sanggup. Tapi, masyarakat ini lho. Mereka gerah betul melihat Edy rangkap jabatan sebagai gubernur dan Ketua PSSI. Kalau kami sih percaya Edy siap. Masyarakat nih barangkali yang enggak bisa menangkap pesan yang sangat jelas di sini, bahwa Edy adalah gambaran sejati dari manusia mandiri. Dan kami salute, salute betul!

Kemandirian Edy sebagai makhluk sosial sebenarnya bisa kita lihat dari berbagai sisi. Kita coba dari sisi rangkap jabatan, sisi yang paling jadi sorotan banyak orang. Edy resmi menjabat sebagai Gubernur Sumut pada 5 Agustus 2018 lalu. Bersama delapan pasang gubernur dan wakil gubernur pemenang Pilkada 2018, Edy dilantik langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta Pusat. Nah, sejak saat itu jugalah Edy resmi menduduki tiga jabatan penting: Gubernur Sumut, Ketua Umum PSSI, dan Dewan Pembina PSMS Medan.

Sesaat setelah dilantik jadi gubernur, para wartawan langsung menyuguhi Edy dengan pertanyaan soal kemungkinan dirinya mundur dari kursi Ketua Umum PSSI. Saat itu, Edy dengan tegas menyatakan enggak akan mundur. Seperti yang kami yakini juga, Edy bilang, dia sanggup rangkap jabatan. Bahkan, Edy bilang, enggak ada yang perlu dipusingkan, toh dia dan jajaran pengurus PSSI sudah mempersiapkan program pengembangan sepak bola Indonesia sampai tahun 2034.

"Oh, tidak dong, itu kan sudah ada program ... "Jadi sudah ada di situ buku, tiga buku petunjuk administrasi PSSI, buku petunjuk teknis PSSI, dan buku petunjuk pelaksanaan pembinaan PSSI. Itu sudah diatur dari usia 15 sampai senior," kata Edy kepada wartawan saat itu. Wow, saat itu kami makin kagum dengan Edy. Selain mandiri, doi ternyata visioner juga, lho.

Berangkat dari pernyataan Edy yang begitu meyakinkan, kami pun menyambut Asian Games 2018 dengan dada berdebar. Kami enggak sabar jadi saksi dari kebangkitan sepak bola Indonesia di bawah kuasa Edy. Kami yakin, dengan segala kelebihan yang dimiliki Edy, timnas sepak bola Indonesia bakal merebut medali emas, atau perak lah seenggaknya. Perunggu juga boleh, ding. Atau medali baja, besi, kuningan, atau apalah. Pokoknya medali yang dihasilkan pengelolaan sepak bola di tangan Edy. Sayang, hati di balik rongga dada kami harus kembali patah karena Indonesia gugur di babak 16 besar, di tangan Uni Emirat Arab dan pemain ke-12 mereka, Shaun Robert Evans.

Tapi, begitulah sepak bola. Bolanya bundar, hingga nasib kaki-kaki di atasnya enggak pernah bisa ditebak. Lagipula, tentu saja hasil kerja Edy enggak bisa dinikmati dalam waktu singkat. Jadi, tentu ini bukan karena Edy enggak becus mengelola PSSI dan sepak bola Indonesia. Lagipula, kalau rangkap jabatan Edy adalah penyebab dari kekalahan timnas, harusnya semua pemain timnas disalahkan. Wong mereka semua rangkap jabatan kok, sebagai pemain timnas sekaligus sebagai pemain masing-masing klub yang mereka bela. Jadi, akhirnya kami memilih untuk mengalamatkan kemarahan kami kepada Shaun Robert Evans yang memberi dua penalti untuk Uni Emirat Arab dalam pertandingan menyebalkan hari itu. Dan kepada Edy, kami kembali menaruh kepercayaan.

Tapi, lagi-lagi kami kena sial. Tim riset kami yang kegatelan memberi kami sebuah landasan hukum dalam Surat Edaran Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Nomor 800/148/sj/2012 yang bisa jadi persoalan buat Edy dan dua jabatan yang ia emban. Dalam surat yang ditandatangani mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Gamawan Fauzi, tertera dalam Pasal 28 huruf C Nomor 32 Tahun 2004, bahwa "bagi pejabat publik dan pejabat struktural di tingkat provinsi dan kabupaten/kota agar tidak melakukan perangkapan jabatan pada kepengurusan Koni, PSSI Daerah, serta klub sepak bola profesional dan amatir. Bagi pejabat publik dan pejabat struktural yang pada saat ini masih menjabat pada Kepengurusan KONI, PSSI Daerah, serta klub sepak bola profesional dan amatir agar segera melepaskan jabatan yang dimaksud."

Meski begitu, Edy bisa tenang. Sebab, peraturan tersebut enggak menyinggung jabatan sebagai Ketua Umum PSSI. Betul sih, sebab yang disinggung dalam peraturan itu kan cuma mereka yang menjabat dalam kepengurusan KONI, PSSI Daerah, dan terlibat dalam struktural klub sepak bola profesional dan amatir. Makanya, jabatan Ketua Umum PSSI Edy aman-aman saja. Paling-paling, jika Edy sudi mematuhi peraturan tersebut, jabatan sebagai Dewan Pembina di PSMS Medan lah yang harus ia relakan, plus melepas saham yang ia tanam dalam klub juga tentunya. Maka, untuk kesekian kalinya, enggak ada yang bisa menggoyang Edy dan dua jabatan yang ia emban saat ini.


Edy Rahmayadi (Sumber: Instagram/@edy_rahmayadi)


Edy yang teguh

Selain kemandirian yang mengagumkan, Edy sejatinya memiliki nilai luhur lain soal keteguhan hati. Coba saja, enggak akan ada yang bisa menggoyang Edy, bahkan ketika Haringga Sirla (23), seorang Jakmania tewas digulung Bobotoh di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Jawa Barat, sesaat sebelum menikmati laga klasik antara Persib Bandung dan Persija Jakarta, Minggu (23/9).

Lihat saja yang terjadi saat wawancara Edy dengan Kompas TV, Senin petang (24/9). Dalam wawancara itu, presenter Kompas TV, Aiman Witjaksono memandu wawancara bersama Edy soal dendam antarsuporter sepak bola yang enggak berkesudahan ini. Wawancara yang disiarkan live itu sejatinya sempat berjalan lancar. Pertanyaan demi pertanyaan juga dijawab oleh Edy.

Namun, ketika Aiman menyinggung persoalan rangkap jabatan yang diemban Edy saat ini, mantan Pangkostrad itu memilih untuk mengakhiri wawancara. "Apa urusannya Anda menanyakan itu? Bukan hak Anda juga bertanya kepada saya," kata Edy dalam tayangan tersebut. Menanggapi respons mengejutkan Edy, Aiman pun berusaha meyakinkan Edy bahwa mempertanyakan hal tersebut merupakan bagian dari tugas jurnalistiknya.

"Kalau tidak, tentu Anda tinggal menjawab. Ini pertanyaan yang sangat sederhana sesungguhnya, Pak Edy ... Wartawan punya hak untuk bertanya apa saja, Pak Edy," tutur Aiman yang kemudian direspons Edy dengan kalimat: "Saya juga punya hak untuk tidak menjawab."

Nah, peristiwa yang akhirnya bikin Edy jadi bulan-bulanan penduduk republik Twitter itu bukan satu-satunya bukti keteguhan Edy. Beberapa waktu lalu, Edy juga sempat jadi perbincangan karena mengusir dua orang ibu yang melakukan demonstrasi terhadapnya. "Hey ibu, ibu sekarang berdiri. Pulang!" tutur Edy yang langsung disambut gerakan protokolernya. "Saya tak senang kalau saya ngomong, semua ngomong ... Ibu sekali lagi jangan ngomong. Pulang!" serunya mengusir demonstran lainnya.

Menariknya, dalam tayangan tersebut, Edy terdengar mengeluarkan pernyataan yang mirip seperti apa yang ia sampaikan kepada Aiman. Kepada para demonstran, Edy kala itu berkata, "Saya baru lima hari jadi gubernur sudah kalian demo. Apa urusan kalian?!" Iya, kata "apa urusan" nampaknya jadi ciri khas dari Edy. Kalian cek sendirilah dua video di bawah.

 



Nah, barangkali berbagai peristiwa yang kami paparkan di atas plus dua video dengan benang merah kalimat "apa urusan kalian" itu bisa jadi bukti bahwa Edy adalah seseorang yang memiliki kemandirian dan keteguhan mahatinggi. Iya, enggak akan ada yang bisa menggoyangnya. Jadi, apa urusan kalian baca-baca artikel ini?!

Tag: viral anak nonton porno ketum pssi pilkada sumut

Bagikan: