Isu Dukung LGBT, Driver Go-Jek Mulai Resah

Tim Editor

Sejumlah driver ojek online sedang mengangkut penumpangnya di Stasiun Palmerah. (Mery/era.id)

Jakarta, era.id - Gerakan dengan tagar #uninstallgojek meramaikan dunia maya sejak Sabtu (13/10). Setidaknya sampai siang pukul 11.08 WIB, sudah ada 14.000-an tweet dari warganet yang menggunakan tagar tersebut.

Tagar ini muncul setelah Wakil Presiden Pengembangan Bisnis dan Operasi Go-Jek Brata Santoso menyatakan, Go-Jek merupakan perusahaan yang menerima keberagaman latar belakang termasuk karyawan LGBT. Kata dia, ada 30 karyawan Go-Jek yang merupakan LGBT. Pernyataannya itu dia sampaikan dalam bahasa Inggris.


(Foto: Istimewa)

Tim era.id mencoba menulusuri kabar tersebut melalui driver Gojek yang ditemui di Stasiun Palmerah. Salah satu driver, yakni Mifta (42) mengaku tidak mengetahui kabar gerakan boikot Go-Jek itu. Dia pun yakin, Go-Jek tidak mendukung LGBT yang belum mendapatkan legalisasi di Indonesia.

"Saya belum tahu. Saya yakin Go-Jek enggak gitu (mendukung LGBT), paling itu klaim one person aja," katanya, kepada era.id, di Stasiun Palmerah, Jakarta, Minggu (14/10/2018).

Kata dia, jika gerakan ini serius, tentu sudah masuk ke ranah komunitas driver Go-Jek. Namun, tambahnya, sampai siang ini, para driver yang tergabung dalam sejumlah grup WhatsApp belum membicarakan hal ini. 

"Go-Jek itu kuat kekeluargaannya, kalau ada kabar gini pasti ramai. Di grup WA enggak ada, dipangkalan juga enggak kabar itu," tuturnya.

Lebih jauh, Mifta tetap akan berikhtiar sebagai driver Go-Jek meski dia menentang LGBT. Karena, bagi dia, menjadi driver Go-Jek adalah mata pencahariannya.

"Saya bakalan di Go-Jek enggak akan keluar, karena kan saya cari makan di sini. Tapi, kalau sampai ada boikot, kasihan lah, nanti pendapat saya nanti dari mana?" ujar dia.

Dia pun berharap, perusahaan Go-Jek tidak mendukung LGBT. Kalau pun Go-Jek bersikap mendukung LGBT, Mifta akan melakukan tindakan untuk meminta Go-Jek tidak bersikap demikian.

"Tapi kalau emang ada gerakan gitu, kita juga bikin gerakan pastinya. Saya anti sama LGBT soalnya. Pasti saya tentang (kebijakan Go-Jek)," kata dia.

Baca Juga : Go-Jek Dukung LGBT?

Senada dengan Mifta, Rahmat (46) juga mengaku tidak tahu kabar adanya gerakan untuk memboikot perusahannya di media sosial. Menurut dia, belum ada pembahasan antar driver baik secara langsung maupun melalui grup WhatsApp yang mereka miliki.

Namun, Rahmat mengaku resah setelah tahu informasi ini. Dia takut gerakan tagar #uninstallgojekakan mempengaruhi pendapatannya sebagai driver.

"Khawatir sih nanti pendapatan berkurang, karena adanya gerakan ini. Apalagi kan LGBT itu penyakit dan ditentang," kata dia. 

Meski begitu, Rahmat mengaku belum tahu langkah selanjutnya jika gerakan boikot Gojek terus disuarakan. Katanya, dia tetap akan menunggu pernyataan dari puhak Gojek terkait kabar ini.

"Saya belum tahu, saya masih ingin tunggu konfirmasi dulu dari orang kantor (perusahaan)," katanya.

Menurut Rahmat, driver tidak bisa memutuskan sikap secara sepihak. Apalagi, katanya, setiap driver dinaungi oleh grup atau kelompok-kelompok berdasarkan wilayah.

"Kalau di grup saya di Go-Jek lintas nusantara belum ada arahan apa-apa soal ini. Saya masih nunggu sikap ketua dulu, kalaupun emang harus menolak yah enggak bisa berdasarkan antar grup, harus Go-Jek se-Jabodetabek menolak ini," terangnya.

Untuk masalah ini, Go-Jek sudah mengklarifikasi kabar tersebut lewat akun Twitternya, @gojekindonesia. Dalam akun Twitter itu disebutkan, pernyataan Brata adalah sikap pribadi dan bukan sikap resmi perusahaan.

"GO-JEK menjunjung tinggi keberagaman yang menciptakan persatuan dan keharmonisan, sejalan dengan nilai-nilai dan budaya Indonesia, yang ber-Bhinneka Tunggal Ika," kicau @gojekindonesia.
 

Tag: go-jek ekspansi lgbt

Bagikan: