Tangis Presiden Duterte

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Duterte Menangis Saat Mendengar Kabar Soal Kecilnya Peluang Hidup Korban Kebakaran (Straits Times)

Davao, era.id - Tangis Presiden Filipina, Rodrigo Duterte tumpah kala menerima kunjungan anggota keluarga korban terjebak dalam kebakaran di sebuah Mal di Kota Davao, Sabtu, 23 Desember 2017.

Tangis Duterte pecah ketika Teresita Gaspan dari kepolisian Davao memberi kabar soal kecilnya peluang akan adanya korban selamat dari kebakaran tersebut. Merujuk pada foto yang dipublikasikan oleh Istana Malacanang, terlihat Duterte menghapus air matanya sesaat setelah mendengar kabar tersebut.

Teresita menjelaskan, api mulai membakar sejak pukul 09.30 waktu setempat dan terus merayap ke setiap bagian gedung hingga Minggu pagi. Sebanyak 37 orang dipastikan tewas dalam peristiwa tersebut.

Didampingi oleh Asisten Khusus Presiden, Christopher "Bong" Go, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Davao, Sara dan Paolo Duterte, sang presiden meminta kepada Konferensi Keuskupan Katolik Filipina (CBCP), Presiden Romulo Valles dan Mgr Paul Cuison untuk memanjatkan doa bagi para korban beserta keluarganya.

Dalam keterangan yang disiarkan Istana Malacanang pada Minggu pagi, pemerintah Filipina melalui Juru Bicara Kepresidenan, Harry Roque, secara resmi juga menyampaikan duka mendalam. "Segenap perhatian dan doa kita kepada keluarga dan teman-teman yang kehilangan 37 orang dari kebakaran di NCCC Davao City kemarin sabtu," ucap Roque sebagaimana diberitakan Strait Times.

Lebih lanjut, Roque menuturkan, pemerintah akan terus membantu segala hal yang diperlukan keluarga korban. "Presiden menjamin keberlanjutan bantuan pagi para keluarga dan rekanan dari para korban," ungkap Roque.

Kelembutan di Balik Sosok Sangar "The Punisher"

Julukan The Punisher diberikan oleh Majalah Time kepada Duterte yang disebut sebagai sosok dibalik sejumlah pelanggaran HAM yang terjadi di Filipina. Sebagai seorang presiden, Duterte dikenal sangar dalam memberangus jaringan narkoba di negaranya.

Sejak kepemimpinan Duterte pada 30 Juni 2013, ribuan orang yang terlibat dalam perdagangan narkoba tewas tanpa penghakiman dari pengadilan. Tak hanya melibatkan otoritas hukum, Duterte bahkan mengizinkan masyarakat sipil untuk membunuh siapapun orang yang terlibat dalam peredaran narkoba.

Meski begitu, Duterte nyatanya memiliki sisi manusiawi dengan kelembutan yang menaungi jiwanya. Sebelum tangisannya Sabtu lalu, tangis Duterte juga pernah menghiasi berbagai judul pemberitaan media nasional dan internasional.

Kala mengunjungi makam sang ibu di sebuah taman pemakaman di daerah Davao, 11 Juni 2016 silam. Di atas pusara sang ibu, Duterte terisak sembari menuturkan permohonan doa dari sang ibu.

"Bantu saya, ibu ... Saya bukan siapa-siapa," tutur Duterte dalam dialek lokal.

Bagikan: