Tsunami Selat Sunda, Basis Seventeen Masih Hilang

Tim Editor

Video amatir detik-detik gelombang tsunami menerjang personel Seventeen. (Foto: Istimewa)

Jakarta, era.id - Dampak tsunami dan gelombang tinggi yang menerjang pantai di Selat Sunda, khususnya di daerah Pandenglang, Lampung Selatan dan Serang menyebabkan 43 orang meninggal dunia.

Di antara korban meninggal dunia tersebut ternyata ada personel grup band Seventeen yang turut menjadi korban. Dalam keterangan tertulis yang diterima era.id, personel Seventeen diketahui menjadi korban jiwa saat tengah mengisi acara gathering perusahaan PLN di Tanjung Lesung, Banten. 

"Sekitar pukul 21.30 WIB (kemarin malam) air pasang menyapu bersih panggung yang letaknya sangat berdekatan dengan laut. Dari bencana tersebut kami harus kehilangan orang-orang tercinta," kata perwakilan manajer band Seventeen, Yulia Dian, Minggu (23/12/2018). 

Dalam kejadian tersebut pemain bass Seventeen, M Awal Purbani, dan Road Manajer Oki Wijaya menghembuskan nafas terakhir. Kejadian berlangsung saat baru lagu kedua Seventeen menghibur penonton. 
 

Air pasang naik ke permukaan dan menyeret seluruh orang yang ada di lokasi. Sayangnya saat arusnya surut anggota Seventeen ada yang bisa menyelamatkan diri, sementara sebagian tidak menemukan tempat berpegangan. 

"Posisi panggung tepat membelakangi laut. Saat ini korban bencana terpencar di klinik-klinik dalam radius 2-3 KM dari lokasi kejadian. Sejak semalam tim SAR sudah diturunkan. Dan tim kami yang selamat belum bisa kemana-mana karena minimnya transportasi," terang dia.

Adapun keluarga yang belum kami temukan adalah: Herman Sikumbang (gitaris); Andi Windu Darmawan (drum); Ujang (kru); dan Dylan Sahara (istri Ifan – vokalis).
 

"Kehilangan Bani dan road manager kami Oki. Andi, ujang (kru) sama Herman belum diketemukan. Doakan juga semoga Dylan istri saya cepat diketemukan. Alhamdulillah yang lain selain itu sudah diketemukan walaupun dalam kondisi luka-luka. Kita ikhlas," kata Riefian Fajarsyah, vokalis Seventeen.

Bagikan: