Cerita dari Reruntuhan SMPN 32

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Aula SMPN 32 di Jalan Pejagalan Raya, Pekojan, Tambora, Jakarta Barat itu tinggal puing. (yohanes/era.id)

Jakarta, era.id – Baru saja menepuk perut, Endang Suryana terkesiap dengan gemuruh. Sedetik kemudian, bangunan aula SMPN 32 yang menyatu dengan ruang kerjanya itu roboh. 

Brukk,…pondasi atap, dan dinding beton menghantam tubuhnya. Pembina Pramuka itu terpental. “Astagfirullah hal adzim,” sebutnya.

Endang tersungkur. Tubuh dan kakinya terhimpit balok berat. Ruang gerak Endang yang juga pegawai tata usaha itu seakan terkunci, meski kedua tangannya sanggup menggapai timbunan puing bangunan. Ia seakan mati rasa.

"Tiba-tiba gelap. Saya terkubur hidup-hidup," tuturnya. 


Musibah aula sekolah yang ambruk sekitar pukul 13.00 WIB sepekan lalu (21/12) itu masih terbayang di ingatan Endang. Kala itu, selama sepuluh menit ia merenung. Di timbunan puing bangunan, pria 41 tahun itu terbayang putra semata wayangnya yang berusia satu bulan. 

"Jika memang itu ajal saya, saya terima," ucapnya, seraya berdoa.

Saat ditemui era.id, Endang terlihat payah di rumahnya, Kampung Janis No.44, RT05/RW09, Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, Kamis (28/12). Jalannya membungkuk, langkahnya tertatih. Perawatan di Rumah Sakit Sumber Waras pascamusibah nahas itu tak kunjung mengurangi lebam di tubuhnya. Punggung dan kakinya masih terbalut perban, dan dibaluri balsam hangat. Endang masih harus menjalani pengobatan alternatif. 

Luka dalam itu akibat hantaman balok dan tembok aula yang cukup keras. Digeser sekalipun, batuan dan kayu bangunan cagar budaya itu terasa berat. Syukurnya, puing bangunan yang sempat menutup wajahnya bisa disingkirkan. Setelah sembilan puluh menit menanti pertolongan, akhirnya Endang sedikit bernafas. 

"Setelah terbuka, saya langsung teriak (minta tolong)," kenangnya.

"Siapa di dalam?" sahutan kru penyelamat damkar akhirnya mengiang di telinga Endang yang mulai lemas. Beberapa menit kemudian, tubuhnya terbaring di tandu. Perjalanan mengarah ke rumah sakit sudah tidak dirasakan lagi.


Selain Endang, dua rekannya juga terluka dalam kejadian tersebut. Syifa guru ekskul, dan Syahruddin pengawas sekolah juga dilarikan ke rumah sakit. Hingga kini, musibah yang terjadi setelah gelaran perayaan Maulid Nabi SAW di aula sekolah itu belum ditindaklanjuti Pemerintah Provinsi DKI perbaikannya. Bangunan aula sekolah yang beralamat di Jalan Pejagalan Raya, Pekojan, Tambora, Jakarta Barat itu tinggal puing.

Endang sendiri belum mendapat perhatian soal biaya pengobatannya yang tidak tertanggung BPJS. Harapan mendapat donasi pemerintah kian pupus. 

“Kuitansi pengobatannya tercecer, tidak tahu siapa yang urus," kata dia.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan, laporan soal kondisi bangunan SMPN 32 ini telah diterima sejak bertahun-tahun lalu. Namun, tidak ada langkah nyata yang dilakukan untuk menindaklanjuti laporan tersebut, hingga akhirnya roboh.

Bagikan: